Indri Puji Lestari
Prodi S1 Ilmu Keperawatan, Institut Citra Internasional

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN KUNYIT ASAM TERHADAP SKALA NYERI MENSTRUASI (DISMINORHEA) PADA MAHASISWA DI INSTITUT CITRA INTERNASIONAL TAHUN 2025 Sarah Rukmana; Indri Puji Lestari
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.57607

Abstract

Dismenorhea merupakan nyeri menstruasi yang sering kali dialami mahasiswi dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari maupun proses belajar. Terapi farmakologis sering digunakan, namun berisiko menimbulkan efek samping sehingga diperlukan alternatif nonfarmakologis seperti kunyit asam. Survei awal pada 3 November 2024 terhadap 10 mahasiswi menunjukkan bahwa 8 mengalami nyeri menstruasi, 6 aktivitasnya terganggu, dan 3 menyatakan kunyit asam untuk membantu meredakan keluhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kunyit asam terhadap skala nyeri menstruasi pada mahasiswi Institut Citra Internasional tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain quasi experiment dengan pretest–posttest control group, melibatkan 32 mahasiswi yang dipilih menggunakan purposive sampling dan dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Kelompok intervensi mendapat kunyit asam satu kali sehari selama tiga hari menstruasi, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan. Skala nyeri diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) dan Visual Analog Scale (VAS). Analisis data menggunakan uji Shapiro–Wilk dan dilanjutkan dengan uji Paired Sample t-test atau Wilcoxon. Kesimpulannya, hasil penelitian ini menunjukkan adanya penurunan nyeri yang signifikan pada kelompok intervensi (p = 0,001), sedangkan kelompok kontrol tidak mengalami perubahan bermakna. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kunyit asam efektif digunakan sebagai terapi nonfarmakologis yang aman dan praktis untuk menurunkan nyeri menstruasi.
HUBUNGAN ASI ESKLUSIF DAN STATUS GIZI TERHADAP KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI RSUD DEPATI HAMZAH PANGKALPINANG TAHUN 2025 Rosnawati Rosnawati; Indri Puji Lestari
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.58061

Abstract

Pneumonia merupakan infeksi akut pada jaringan paru-paru yang masih menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian pada balita di dunia maupun di Indonesia. Berbagai faktor risiko yang berkontribusi terhadap kejadian pneumonia pada balita antara lain riwayat pemberian ASI eksklusif dan status gizi. Balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif serta memiliki status gizi kurang berisiko lebih tinggi mengalami pneumonia karena rendahnya daya tahan tubuh terhadap infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan ASI eksklusif dan status gizi terhadap kejadian pneumonia pada balita di RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh balita usia 1–5 tahun yang dirawat inap di RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang Tahun 2025. Sampel penelitian berjumlah 94 balita yang dipilih menggunakan teknik sampling sesuai kriteria penelitian. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian pneumonia pada balita (p-value = 0,001). Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan kejadian pneumonia pada balita (p-value = 0,000). Balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif dan memiliki status gizi kurang cenderung lebih berisiko mengalami pneumonia dibandingkan balita yang mendapatkan ASI eksklusif dan memiliki status gizi baik. Terdapat hubungan yang signifikan antara ASI eksklusif dan status gizi terhadap kejadian pneumonia pada balita usia 1–5 tahun di RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang Tahun 2025. Pemberian ASI eksklusif berperan dalam meningkatkan sistem imun melalui kandungan antiinflamasi dan antimikroba, sedangkan status gizi yang baik mendukung mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi. Oleh karena itu, upaya peningkatan cakupan ASI eksklusif dan perbaikan status gizi balita perlu terus ditingkatkan untuk menurunkan kejadian pneumonia pada balita.
HUBUNGAN FREKUENSI MENYIKAT GIGI DAN KEBERSIHAN MULUT DENGAN KEJADIAN KARIES GIGI PADA ANAK DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PETALING TAHUN 2025 Dea Amalia; Indri Puji Lestari
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.58198

Abstract

Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian penting dari kesehatan secara menyeluruh, terutama pada anak yang sedang berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Masalah kesehatan gigi yang paling sering terjadi pada anak adalah karies gigi, Karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang sering terjadi pada anak dan dapat memengaruhi kualitas hidup serta tumbuh kembangnya. Faktor perilaku seperti frekuensi menyikat gigi dan kebersihan mulut memiliki peran penting dalam mencegah terjadinya karies gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan frekuensi menyikat gigi dan kebersihan mulut dengan kejadian karies gigi pada anak di wilayah kerja Puskesmas Petaling Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak yang berada di wilayah kerja Puskesmas Petaling. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 70 responden. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara frekuensi menyikat gigi dengan kejadian karies gigi pada anak (p = 0,253). Namun, terdapat hubungan yang signifikan antara kebersihan mulut dengan kejadian karies gigi pada anak (p = 0,000). Kesimpulan penelitian ini adalah frekuensi menyikat gigi tidak berhubungan dengan kejadian karies gigi, sedangkan kebersihan mulut berhubungan dengan kejadian karies gigi pada anak.