Heri Puspito
Program Sarjana Terapan Keperawatan Anestesiologi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas `Aisyiyah Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

INTERVENSI KOMUNIKASI DAN SENTUHAN TERAPEUTIK PENATA ANESTESI TERHADAP KECEMASAN PASIEN SECTIO CAESAREA MENJELANG ANESTESI SPINAL Putri Anggi; Heri Puspito; Triyas Singgih Pambudi
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.59002

Abstract

Sectio caesarea dengan anestesi spinal sering menimbulkan kecemasan pada pasien sebelum tindakan. Data menunjukkan bahwa sekitar 60–80% ibu yang akan menjalani sectio caesarea mengalami kecemasan, dengan distribusi sekitar 30–50% kecemasan ringan–sedang dan 20–30% kecemasan berat. Kecemasan ini dapat memengaruhi kerja sama pasien serta keberhasilan prosedur anestesi. Oleh karena itu, diperlukan intervensi nonfarmakologis seperti komunikasi terapeutik dan sentuhan terapeutik untuk membantu menurunkan kecemasan serta meningkatkan rasa aman dan kenyamanan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi komunikasi terapeutik dan sentuhan terapeutik oleh penata anestesi terhadap tingkat kecemasan pasien sectio caesarea menjelang anestesi spinal. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-eksperimental one group pretest–posttest. Sampel sebanyak 42 responden diambil secara purposive sampling. Tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS), dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi mayoritas responden mengalami kecemasan berat sebanyak 34 orang (81,0%), panik 7 orang (16,7%), dan sedang 1 orang (2,4%). Setelah intervensi, kecemasan menurun menjadi ringan sebanyak 22 orang (52,4%) dan sedang 20 orang (47,6%). Uji Wilcoxon menunjukkan p=0,000 (p<0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan.Komunikasi terapeutik dan sentuhan terapeutik dapat digunakan sebagai terapi nonfarmakologis oleh penata anestesi di rumah sakit dalam menurunkan kecemasan pasien, khususnya pada tingkat kecemasan ringan hingga sedang menjelang anestesi spinal.
HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN RESILIENSI PENYINTAS BANJIR DIDUSUN NOGOSARI 1 KALURAHAN WUKISARI KECAMATAN IMOGIRI Anggel Odira Loika; Heri Puspito; Istiqomah Rosidah
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2026): JUNI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i2.59025

Abstract

Banjir merupakan bencana alam yang sering terjadi di Indonesia dan menimbulkan dampak fisik maupun psikologis bagi penyintas. Salah satu kemampuan penting untuk pemulihan adalah resiliensi yang dipengaruhi oleh kecerdasan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan resiliensi penyintas banjir di Dusun Nogosari 1, Kalurahan Wukisari, Kecamatan Imogiri. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional dan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah penyintas banjir dengan sampel 85 responden yang dipilih menggunakan simple random sampling. Variabel terdiri dari kecerdasan emosional sebagai variabel independen dan resiliensi sebagai variabel dependen. Pengumpulan data menggunakan kuesioner kecerdasan emosional dan resiliensi, kemudian dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara kecerdasan emosional dengan resiliensi (p = 0,000; r = 0,611). Sebagian besar responden memiliki kecerdasan emosional tinggi (88,2%) dan resiliensi tinggi (78,8%). Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kecerdasan emosional, semakin tinggi resiliensi penyintas banjir. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan intervensi psikologis berbasis penguatan kecerdasan emosional untuk meningkatkan resiliensi masyarakat terdampak bencana.