Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Model Integrasi PAI Kontekstual: Sinergi Al-Qur'an Hadis, Fikih, Aqidah Akhlak, dan SKI sebagai Resolusi Etika Berkomunikasi di Era Post-Truth Rita Andria Ismawati; Liswa fitriyatul lu'luul lailiyah; Maziroh Diyati; Syifa Jannatuzzahra; Faqih Abdul Aziz
TANJAK Vol 7 No 1 (2026): Februari
Publisher : Jurusan Tarbiyah dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/tanjak.v7i1.3008

Abstract

Era post-truth telah memicu krisis etika komunikasi siber secara masif, mulai dari penyebaran hoaks, perundungan siber (cyberbullying), hingga manipulasi algoritma yang mengancam ketahanan moral Generasi Digital Native. Pendidikan Agama Islam (PAI) di madrasah sejatinya diproyeksikan sebagai tameng moral utama; namun, fragmentasi struktural keempat rumpun keilmuannya Al-Qur'an Hadis, Fikih, Aqidah Akhlak, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) justru memicu kelumpuhan analitis dan "ego sektoral" pada peserta didik. Merespons anomali tersebut, penelitian ini bertujuan untuk merumuskan desain epistemologis dan operasionalisasi pedagogis integrasi kontekstual PAI sebagai resolusi degradasi moral di ruang digital. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain library research yang analitis-kritis, penelitian ini menyintesis paradigma integrasi-interkoneksi ilmu, model Contextual Teaching and Learning (CTL), dan teori Konstruktivisme Sosial. Hasil penelitian mengonstruksi sebuah sinergi lintas disiplin yang meleburkan literasi tabayyun dan anti-dusta (Al-Qur'an Hadis), ketegasan kaidah Fikih Informasi (Fikih), internalisasi muraqabatullah sebagai fondasi akhlak digital (Aqidah Akhlak), serta preseden historis resolusi konflik masa lalu (SKI). Secara praksis, transformasi pedagogis ini dioperasionalkan melalui penciptaan Zone of Proximal Development (ZPD) Digital dan dievaluasi secara integratif menggunakan instrumen Project-Based Learning (PBL) lintas disiplin. Kesimpulannya, model integrasi kontekstual ini terbukti secara epistemologis mampu membongkar fragmentasi kognitif dan melahirkan keberanian moral (moral courage) bagi generasi muda untuk menjadi agen literasi aktif. Implikasi temuan ini menawarkan arsitektur resiliensi moral siber yang holistik bagi institusi madrasah melalui transformasi pedagogi lintas disiplin yang sinergis dan adaptif.
Konsep Wasathiyyah dalam Tafsir Ibn Katsir dan Al-Mishbah: Kajian Muqarin dan Relevansinya terhadap Radikalisme Beragama Nauroh Qurrotal Aini; Faqih Abdul Aziz; Maziroh Diyati; Maftuhatul Khoiriyah; Rita Andria Ismawati
Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al Quran dan Tafsir Vol. 10 No. 2 (2026): Al Karima : Jurnal Studi Ilmu Al-Quran dan Tafsir
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Isy Karima Karanganyar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/alkarima.v10i2.651

Abstract

Radikalisme berbasis agama masih menjadi tantangan serius bagi moderasi beragama di Indonesia, sementara kajian tafsir tentang wasathiyyah sejauh ini cenderung parsial dan jarang dikaitkan dengan respons atas radikalisme kontemporer. Penelitian ini mengkaji bagaimana wasathiyyah dikonstruksi dalam Tafsir Ibn Katsir dan Tafsir Al-Mishbah serta bagaimana relevansi konstruksi tersebut terhadap persoalan itu. Penelitian merupakan library research dengan metode tafsir muqarin, membandingkan kedua tafsir atas lima ayat: QS. Al-Baqarah [2]: 143, QS. Al-Hujurat [49]: 13, QS. Al-Baqarah [2]: 256, QS. An-Nisa [4]: 171, dan QS. Al-Mumtahanah [60]: 8. Hanya ayat pertama yang secara eksplisit memuat akar kata wasath; empat ayat lainnya dibaca sebagai representasi nilai-nilai moderasi. Perbandingan diarahkan pada empat indikator: basis otoritas, unit analisis, orientasi makna, dan konteks rujukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua mufasir bertemu dalam menolak ghuluw, pemaksaan dalam beragama, dan diskriminasi terhadap non-Muslim, serta sama-sama memaknai wasathiyyah sebagai keseimbangan aktif, bukan netralitas pasif. Perbedaannya terletak pada penekanan: Ibn Katsir bertumpu pada riwayat dan asbab al-nuzul sebagai unit analisis tunggal, sedangkan Al-Mishbah menambahkan munasabah dan realitas sosial sebagai unit analisis kedua. Atas dasar itu penelitian ini merumuskan kerangka wasathiyyah tiga dimensi, yakni teologis, sosial, dan sikap terhadap perbedaan, dengan dimensi ketiga diposisikan sebagai produk pertautan dua dimensi sebelumnya. Sebagai penelitian kepustakaan, kerangka tersebut ditawarkan sebagai implikasi konseptual yang berpotensi menjadi basis kontranarasi, bukan sebagai model yang telah diuji secara empiris.