Kemampuan berbicara merupakan aspek perkembangan bahasa yang penting distimulasi sejak usia dini karena berperan membantu anak mengekspresikan pikiran, perasaan, dan gagasan. Berdasarkan observasi awal di KB Nurul Hidayah Situbondo, keberanian berbicara anak usia 4–5 tahun belum berkembang secara optimal, ditandai dengan rendahnya kepercayaan diri, rasa malu saat berkomunikasi, dan kurangnya keberanian menyampaikan pendapat secara lisan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keberanian berbicara anak usia 4–5 tahun melalui metode role playing berbantuan media boneka tangan di KB Nurul Hidayah Situbondo. Penelitian menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah 9 anak usia 4–5 tahun. Data dikumpulkan melalui teknik observasi dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan menghitung persentase ketercapaian indikator keberanian berbicara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa role playing dengan media boneka tangan efektif meningkatkan keberanian berbicara anak. Pada tahap pratindakan, rata-rata ketercapaian indikator sebesar 25% (kategori Belum Berkembang/BB). Setelah tindakan Siklus I, ketercapaian meningkat menjadi 40,7% (kategori Mulai Berkembang/MB), dan meningkat lebih optimal pada Siklus II menjadi 73,6% (kategori Berkembang Sesuai Harapan/BSH). Peningkatan tersebut tampak dari keberanian anak tampil di depan kelas, berpartisipasi dalam percakapan, mengucapkan kalimat sederhana, menunjukkan rasa percaya diri, merespons percakapan teman, serta berkurangnya rasa malu dan keraguan saat berbicara. Dengan demikian, metode role playing berbantuan media boneka tangan terbukti efektif meningkatkan keberanian berbicara anak usia 4–5 tahun di KB Nurul Hidayah Situbondo.