Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan antara Rasio Lingkar Pinggang terhadap Tinggi Badan dengan Glukosa Darah Puasa pada Lansia Elma Shari Pagehgiri; Deasy Irawati; Anom Josafat
Jurnal Kedokteran Vol 8 No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v8i2.338

Abstract

Diabetes melitus adalah penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia. Obesitas sentral merupakan kontributor terjadinya diabetes melitus dan prevalensinya dapat meningkat seiring pertambahan usia. Penelitian menyatakan pengukuran rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan merupakan pengukuran terbaik untuk mendeteksi risiko penyakit kardiometabolik dibandingkan pengukuran antropometri lain, seperti indeks massa tubuh dan lingkar pinggang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan dengan glukosa darah puasa. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain cross-sectional yang dilakukan di Kota Mataram. Subjek penelitian ini adalah lansia berusia >60 tahun yang tinggal di panti jompo dan lansia di populasi umum. Sebanyak 76 sampel didapatkan dengan teknik consecutive sampling. Cara pengambilan data dengan mengukur secara langsung rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan menggunakan pita ukur dan microtoise serta pemeriksaan glukosa darah puasa. Analisis statistik yang digunakan yaitu analisis deskriptif dan analisis bivariat. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square dan uji korelasi Spearman. Dari 76 subjek penelitian, 61 orang (80,3%) responden mengalami obesitas sentral berdasarkan rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan serta 25 orang (32,9%) mengalami pre-diabetes dan 15 orang (19,7%) mengalami diabetes berdasarkan kadar glukosa darah puasa. Pada penelitian ini didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan dengan glukosa darah puasa. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan dengan glukosa darah puasa pada lansia
Pelatihan Bantuan Hidup Dasar bagi Guru Sekolah Menengah di Daerah Pesisir Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat Widiastuti, Ida Ayu Eka; Wahyu Sulistya Affarah; Bayu Tirta Dirja; Anom Josafat; Ida Bagus Alit; Vici Muhammad Akbar; Ni Putu Sasmita Lestari; Niko Citami
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 8 No 4 (2025): Oktober-Desember 2025
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpmpi.v8i4.13429

Abstract

Lombok Island, West Nusa Tenggara, is one of the best tourist destinations in Indonesia. One impact of this is increased activity on the beach and sea, which has the potential to cause emergency conditions and require immediate assistance. Equipping coastal communities with the ability to perform basic life support (BLS) is crucial, including for teachers. The purpose of this activity is to provide participants with knowledge and understanding of the principles of BLS assistance, and participants can provide BLS assistance if they encounter accident/injury victims in the water. This activity was held at the Nipah Community Health Center Hall, Malaka Village, Pemenang District, North Lombok, with a total of 22 high school teachers from Malaka Village participating. The activity was divided into six sessions: pre-test, material delivery, demonstration using mannequins, BLS skills training for participants, discussion and question-and-answer session, and concluded with a post-test. The success of this activity was seen from the increase in post-test scores compared to the pre-test, which was 33.3%. The average pre-test score was 69.55, increasing to 92.73. During the training session, participants enthusiastically practiced the BHD skills that had been previously demonstrated by the presenter and team. This activity needs to be continuously carried out for coastal communities in different locations and targets as an effort to increase the life expectancy for victims who experience respiratory arrest while carrying out activities at sea or on the coast.
Trend Infeksi Penyakit Menular Seksual dan Sifilis di Provinsi Nusa Tenggara Barat: Perspektif Global Health Security Muhammad Freddy Candra Sitepu; Astri Ferdiana; Lalu Hamzi Fikri; I Kadek Mulyawan; Rifana Cholidah; Anom Josafat; Nila Febriana
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 9 (2026): Volume 8 Nomor 9 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i9.25915

Abstract

ABSTRACT Sexually transmitted diseases (STDs) and syphilis remain major global public health challenges. Syphilis, caused by Treponema pallidum, has shown a concerning resurgence in recent years. No study has described the profile of STDs, particularly syphilis, in West Nusa Tenggara. To describe the profile of STDs and syphilis in West Nusa Tenggara Province. A retrospective descriptive study using surveillance data of infectious diseases reported by all public health centers (Puskesmas) in 2024. Data were grouped by district and key-risk population. Analysis used SPSS version 25 and presented in tables and charts. A total of 957 STD cases were reported. The highest proportions were found in Mataram (45.9%) and Sumbawa (34.3%). The largest affected group was pregnant women (28.8%), followed by men who have sex with men (15.3%), prospective marriage partners (10.9%), multiple partners (10.4%), sex worker clients (9.5%), co-infections (8.5%), general population (7.9%), and female sex workers (6.9%). Among these, 475 cases were syphilis, predominantly in Sumbawa (69.1%), with pregnant women accounting for 53.9%. Conclusion: Syphilis is the most common STD in West Nusa Tenggara. The burden is highest in Sumbawa and among pregnant women. This finding highlights the urgency of strengthening prevention and screening programs. Keywords: STD, Syphilis, Surveillance, Global Health Security.  ABSTRAK Penyakit menular seksual (PMS) dan sifilis masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat global. Sifilis yang disebabkan oleh Treponema pallidum menunjukkan peningkatan kasus dalam beberapa tahun terakhir. Di Provinsi Nusa Tenggara Barat belum terdapat penelitian yang menggambarkan profil PMS, khususnya sifilis. Mendeskripsikan profil PMS dan sifilis di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penelitian deskriptif retrospektif menggunakan data surveilans penyakit menular dari seluruh Puskesmas tahun 2024. Data dianalisis berdasarkan wilayah kabupaten/kota dan kelompok populasi berisiko. Analisis dilakukan secara deskriptif menggunakan SPSS versi 25 dan disajikan dalam tabel dan grafik. Terdapat 957 kasus PMS. Proporsi tertinggi ditemukan di Kota Mataram (45,9%) dan Kabupaten Sumbawa (34,3%). Kelompok terbanyak adalah ibu hamil (28,8%), diikuti laki-laki seks dengan laki-laki (15,3%), calon pengantin (10,9%), pasangan seksual multipel (10,4%), pelanggan pekerja seks (9,5%), koinfeksi PMS lain (8,5%), populasi umum (7,9%), dan pekerja seks perempuan (6,9%). Dari seluruh kasus, 475 merupakan sifilis dan dominan di Sumbawa (69,1%), dengan 53,9% terjadi pada ibu hamil. Sifilis merupakan PMS terbanyak di NTB, dengan beban tertinggi di Kabupaten Sumbawa dan pada ibu hamil. Diperlukan upaya pencegahan dan skrining yang lebih intensif. Kata Kunci: PMS, Sifilis, Surveilans, GHS.