Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelanggaran Prinsip Kerja Sama dalam podcast “Pendidikan Indonesia Terlalu Santai” pada kanal YouTube Gita Wirjawan, dengan penekanan khusus pada bagaimana penutur membangun makna dalam konteks percakapan digital. Penelitian ini secara khusus berfokus pada identifikasi berbagai jenis pelanggaran maksim, menentukan jenis yang paling dominan, serta menjelaskan alasan yang mendasari dominasi tersebut dalam wacana yang dianalisis. Penelitian ini menggunakan teori Prinsip Kerja Sama dari Grice (1975), yang mencakup maksim Kuantitas, Kualitas, Relevansi, dan Cara sebagai pedoman dasar dalam komunikasi yang efektif. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yang memungkinkan analisis mendalam dan interpretatif terhadap data bahasa yang terjadi secara alami, dengan data berupa 71 tuturan yang diambil dari satu episode podcast yang telah dipilih secara cermat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggaran maksim Kualitas merupakan yang paling dominan (49,30%), diikuti oleh maksim Kuantitas (28,17%), Relevansi (14,08%), dan Cara (8,45%), yang menunjukkan adanya kecenderungan tertentu dalam perilaku komunikasi para penutur. Dominasi pelanggaran maksim Kualitas terjadi karena penutur sering menyampaikan pernyataan yang bersifat subjektif, pandangan pribadi, serta klaim yang tidak sepenuhnya didukung oleh bukti yang konkret, sebagai cara untuk memperkuat pendapat atau memberikan efek retoris. Lebih lanjut, penelitian ini menyimpulkan bahwa pelanggaran-pelanggaran tersebut tidak selalu menunjukkan kegagalan dalam komunikasi, melainkan berfungsi sebagai strategi pragmatik yang efektif untuk menekankan argumen, menyampaikan makna tersirat, mengungkapkan kritik, menjaga alur percakapan tetap berjalan secara alami, serta melibatkan audiens dalam interaksi yang lebih dinamis dan bermakna.