Bahaya tubrukan merupakan salah satu ancaman terbesar dalam operasi pelayaran dan dapat timbul akibat kurang optimalnya pengawasan navigasi. Pada KM. Sabuk Nusantara 72 masih ditemukan beberapa kondisi yang berpotensi meningkatkan risiko tubrukan, terutama terkait pelaksanaan dinas jaga, efektivitas komunikasi antarperwira, serta ketertiban dalam pencatatan navigasi seperti pengisian Deck Log Book dan penerapan Master's Night Order. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya bahaya tubrukan pada kapal tersebut melalui peninjauan terhadap implementasi standar dinas jaga dan prosedur navigasi sesuai STCW Code dan COLREG 1972. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara, dan studi dokumentasi di atas kapal. Observasi difokuskan pada kegiatan jaga di anjungan, penggunaan alat bantu navigasi seperti Radar, ECDIS, dan AIS, serta sistem komunikasi antarperwira. Wawancara dilakukan dengan nakhoda, mualim, dan juru mudi untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai pelaksanaan jaga, sementara studi dokumentasi digunakan untuk menilai kesesuaian prosedur jaga dengan pedoman Safety Management System (SMS) dan Standing Orders. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem dinas jaga di KM. Sabuk Nusantara 72 pada dasarnya telah mengikuti standar internasional, namun belum sepenuhnya dilaksanakan sesuai dengan aturan yang tertera di atas kapal. Masih ditemukan perwira yang belum optimal dalam melakukan pengamatan keliling, prosedur serah terima jaga yang belum tertib, serta keterlambatan perwira pengganti jaga. Selain itu, kurangnya koordinasi dan minimnya kedisiplinan awak kapal turut memengaruhi produktivitas kerja di atas kapal. Kata Kunci: bahaya tubrukan, dinas jaga, keselamatan pelayaran