Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

English Velish, Perempuan Dalam Balutan Budaya Dwi Elsha, Debby
Jurnal Ilmu Komunikasi AKRAB Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Ilmu Komunikasi AKRAB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.559 KB)

Abstract

Di banyak tempat, perempuan masih mendapatkan hak yang sepantasnya. Mereka dibatasi oleh adanya peraturan dalam budaya yang mereka anut sehari-hari. Keterbatasan tersebut menghambat kesempatan perempuan untuk memiliki pengalaman, pengetahuan dan aktualitas diri. Berbagai media telah menunjukkan gambaran kondisi tersebut dan film merupakan salah satu contoh yang bagus. Film English Vinglish memperlihatkan kehidupan perempuan India yang masih disibukkan dengan kegiatan domestik sehingga kebebasan dan pengetahuannya terbatas. Film ini dapat dikaji menggunakan beberapa pendekatan komunikasi antar budaya seperti teori muted group, stereotip, bahasa dan sebagainya. Sehingga dapat diketahui solusi yang baik untuk mengatasi adanya keterbatasan perempuan yang menghambat interaksinya dalam komunikasi khususnya komunikasi antar budaya.
MENENGOK KELEMAHAN PERFILMAN INDONESIA Elsha, Debby Dwi
Jurnal Ilmu Komunikasi AKRAB Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Ilmu Komunikasi AKRAB
Publisher : Jurnal Ilmu Komunikasi AKRAB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.521 KB)

Abstract

AbstractFilm is one mass media that produces massively popular culture. Film can be a mass media that effectively conveys messages to the public. As a creative product that the public interest, the film is able to introduce Indonesian culture to the world. The income of the film industry can contribute greatly to the state income. The condition of the film industry in Indonesia is still strongly influenced by imported films that have better narrative and cinematic qualities than domestically made films. To be in control of the domestic film industry, there needs to be an improvement in order to compete in the international film industry. This study describes the weaknesses of the Indonesian film industry from the aspects of production, distribution, exhibition and consumption. In addition to the lack of quality Indonesian film technically, there needs to be an evaluation and improvement of the distribution system in order to distribute the film widely even throughout the world. The lack of number of cinema screens in Indonesia is also a major factor in blocking access to watch so that the distribution of cinema facilities to all over the country is needed in the short-term future. To improve the skills of human resources requires the education of film disciplines that support the competence of each field. The tastes and needs of the audience also need to be noted so that the film producers can continue to produce quality and varied films. Government support is needed for the Indonesian film industry to compete with overseas so as to promote the film as a creative economic product and represent the image of Indonesian culture in the international film industry.Keywords: film, industry, production, media, creative.
KOMODIFIKASI SENSUALITAS PEREMPUAN DALAM FILM WARKOP DKI REBORN: JANGKRIK BOSS! PART 1 DAN 2 Andri Prasetyo Yuwono, Debby Dwi Elsha
Jurnal Ilmu Komunikasi AKRAB Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Ilmu Komunikasi AKRAB
Publisher : Jurnal Ilmu Komunikasi AKRAB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTWomen's sensuality shows are often presented in films, including Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 and 2. The success of 36 Warkop DKI films is assumed to be related to women's sensuality offerings because of the film's uniqueness namely comedy, social political criticism and women beautiful and sexy. After not being produced for a long time, two of the latest films were watched by millions of people to record the best-selling Indonesian film of all time. This study aims to dissect the case of the commodification of female sensuality in the film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 and 2 by exposing what, how and why female sensuality is utilized as a film commodity.The research focuses on the director's side in packaging the film, his goals and opinions on the presence of sexy female characters in the film. The director produces films based on professionalism, which meets the demands of producers to present women's sensuality offerings. With the aim to focus the film on comedy and socio-political criticism, the director also seeks to limit the portion of women's sensuality offerings. However, the director has full authority and awareness in making scenes and shots in the film. Thus, the involvement and contribution of the director in the selection of actresses, costumes and makeup, direction of scenes and shots and packaging of the film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 and 2 is a contribution to the commodification of female sensuality by perpetuating patriarchal ideology.Keywords: film, women, sensuality, comodification, patriarchy
The Commodification of Female Sensuality in Indonesian Film Industry: Case Study of Warkop DKI Debby Dwi Elsha; Andri Prasetyo Yuwono
IKAT: The Indonesian Journal of Southeast Asian Studies Vol 4, No 1 (2020): July
Publisher : Center for Southeast Asian Social Studies (CESASS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ikat.v4i1.53188

Abstract

This paper is an analysis of the process of commodification of female sensuality in an Indonesian- based film industry. Taking the case of Warkop DKI, a franchise film which continues commodifying comedy, social political criticism, and sexy women in generating profits since 1979. The commodification of female sensuality is displayed through stories, scenes, and shots which highlight parts of the female body as well as interactions between male and female characters that indicate sexual activities. However, in Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 and Part 2 which were released in 2017, the female sensuality was decreased. Applying qualitative method comprising from interviews, film observations and literature studies this paper found out that the presence of female producers does not play a great role in decreasing the use of female sensuality in those industry.
AKRAB KOMODIFIKASI SENSUALITAS PEREMPUAN DALAM FILM WARKOP DKI REBORN JANGKRIK BOSS! PART 1 DAN 2 Debby Dwi Elsha; Andri Prasetyo Yuwono
Jurnal Ilmu Komunikasi AKRAB Vol. 4 No. 2 (2019): OKTOBER
Publisher : AKADEMI KOMUNIKASI RADYA BINATAMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sajian sensualitas perempuan kerap kali dihadirkan dalam film, termasuk Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 dan 2. Kesuksesan film-film Warkop DKI yang berjumlah 36 judul diasumsikan berkaitan dengan sajian sensualitas perempuan karena kekhasan film tersebut yakni unsur komedi, kritik sosial politik dan perempuan cantik nan seksi. Setelah lama tidak diproduksi, dua film terbaru ditonton oleh jutaan orang hingga mencatat rekor film Indonesia terlaris sepanjang masa. Penelitian ini bertujuan membedah kasus komodifikasi sensualitas perempuan dalam film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 dan 2 dengan menguak apa, bagaimana dan mengapa sensualitas perempuan dimanfaatkan menjadi komoditas film. Penelitian ini merupakan kajian ekonomi politik media yang akan dilakukan dengan metode studi kasus.Penelitian berfokus pada sisi sutradara dalam pengemasan film, tujuan dan pendapatnya terhadap kehadiran tokoh perempuan seksi dalam film. Sutradara memproduksi film dengan berpedoman pada profesionalisme, yakni memenuhi tuntutan produser untuk menyajikan sajian sensualitas perempuan. Dengan tujuan untuk memfokuskan film pada sajian komedi dan kritik sosial politiknya, maka sutradara pun berupaya membatasi porsi sajian sensualitas perempuan. Tetapi, sutradara memiliki wewenang dan kesadaran penuh dalam membuat adegan dan shot dalam film. Sehingga, keterlibatan dan andil sutradara dalam pemilihan aktris, kostum dan makeup, pengarahan adegan dan shot serta pengemasan film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 dan 2 merupakan kontribusi pada bentuk komodifikasi sensualitas perempuan dengan melanggengkan ideologi patriarki.
Representasi Perempuan Dalam Film Spectre Elsha, Debby Dwi
Jurnal PIKMA : Publikasi Ilmu Komunikasi Media Dan Cinema Vol. 1 No. 2 (2019): Maret 2019
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas AMIKOM Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (765.371 KB) | DOI: 10.24076/PIKMA.2019v1i2.387

Abstract

Film dapat menyampaikan pesan melalui suara dan gambar yang mampu memberikan penekanan pada pesan hingga mewujudkan representasi. Film seri James Bond merupakan film franchise terlaris di dunia dengan jumlah 24 judul film dan masih akan terus berlanjut. Salah satu hal yang ikonik dari film ini adalah kehadiran gadis-gadis cantik yang disebut dengan Bond Girl. Selama beberapa dekade, film seri ini menampilkan karakter perempuan yang dianggap dapat merepresentasikan perempuan dari masa ke masa. Tulisan ini membahas bagaimana film terbaru James Bond yang berjudul Spectre menampilkan sosok tokoh utama perempuan. Dikaji menggunakan metode semiotika untuk teks audiovisual yang dipaparkan oleh John Fiske, penelitian ini membongkar representasi perempuan yang ditampilkan dalam film Spectre melalui tiga level semiotika yaitu level realitas, representasi dan ideologi. Film ini menyampaikan ideologi feminisme posmodern yang menampilkan kekuatan perempuan dalam mengkritisi dan menilai praktik-praktik dalam kebudayaan patriarki hingga dapat meraih kesetaraan dalam relasi.
Representasi Feminisme dalam Film Dear David Elsha, Debby Dwi
DeKaVe Vol 16, No 2 (2023): DeKaVe Vol. 16 No. 2 2023
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/dkv.v16i2.11118

Abstract

Peneltian ini bertujuan untuk mengetahui representasi feminisme yang diusung dalam film Dear Daviddengan menganalisis adegan-adegan yang mengindikasikan tindakan memperjuangkan keadilan dan kesetaraan hak bagi perempuan. Dear David adalah film yang menceritakan perjuangan remaja perempuan untuk mendapatkan haknya berekspresi seksual dan keadilan perlakuan yang setara di sekolah. Adegan terpilih dianalisis dengan metode semiotika Roland Barthes. Mitos-mitos yang dimaknai dari film ini adalah tentang kesetaraan seksualitas, feminisme maskulin yang destruktif, kesetaraan hak orientasi seksual, kesetaraan dalam relasi, dan sikap penerimaan diri yang menjadi bekal perilaku inklusif. Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa film ini merepresentasikan ideologi feminisme posmodern yang bersifat inklusif yakni menerima dan merangkul berbagai kondisi sosial dan subjektivitas yang beragam. Hal ini dilakukan dengan cara membentuk ulang bahasa dan seksualitas perempuan sehingga perempuan bisa menyimpulkan dirinya sendiri di tengah kondisi sosial budaya masyarakat Indonesia yang sangat beragam. Penelitian ini berkontribusi dalam menyumbang pengetahuan yang berguna sebagai sumber referensi bagi masyarakat khususnya mahasiswa sebagai generasi muda mengenai pemikiran feminisme yang berkembang di budaya saat ini.