Retensi tenaga keperawatan merupakan tantangan strategis dalam pengelolaan sumber daya manusia kesehatan, khususnya di daerah berkembang yang menghadapi keterbatasan fasilitas dan tenaga. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran work-life balance sebagai mediator dalam hubungan antara job stress, perceived organizational support, dan intention to stay pada perawat di Kabupaten Pandeglang. Pendekatan kuantitatif dengan desain survei cross-sectional digunakan dalam penelitian ini. Partisipan berjumlah 200 perawat yang dipilih melalui teknik purposive sampling dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Pandeglang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mencakup skala intention to stay, job stress, perceived organizational support, dan work-life balance. Validitas konstruk diuji melalui Confirmatory Factor Analysis (CFA), dan pengujian hipotesis dilakukan menggunakan analisis jalur (path analysis) dengan perangkat lunak Mplus versi 7. Hasil pengujian model menunjukkan kecocokan yang baik dengan data. Analisis pengaruh langsung menunjukkan bahwa job stress berpengaruh negatif dan signifikan terhadap work-life balance dan intention to stay, sedangkan perceived organizational support berpengaruh positif dan signifikan terhadap keduanya. Work-life balance juga terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap intention to stay. Hasil pengujian pengaruh tidak langsung mengonfirmasi bahwa work-life balance memediasi secara signifikan hubungan antara job stress dan intention to stay (β = −0,260; p < 0,001), serta hubungan antara perceived organizational support dan intention to stay (β = 0,148; p < 0,001). Temuan ini menegaskan bahwa work-life balance merupakan mekanisme psikologis penting yang menjembatani pengaruh faktor pekerjaan dan dukungan organisasi terhadap keputusan perawat untuk bertahan dalam organisasi. Implikasi praktis dan akademis dari temuan ini dibahas lebih lanjut dalam artikel.