Krisis teologi Islam kontemporer ditandai oleh stagnasi epistemologis, keterputusan praksis sosial, serta melemahnya dimensi spiritual-subjektif dalam konstruksi keilmuan. Teologi modern cenderung terjebak antara normativitas doktrinal yang rigid dan pendekatan historis-kritis yang relativistik, sementara teologi pembebasan belum sepenuhnya terintegrasi dengan transformasi batiniah. Kesenjangan penelitian terletak pada absennya model epistemologi yang mampu mensintesiskan dimensi teologis, spiritual, dan emansipatoris secara simultan. Artikel ini bertujuan merekonstruksi epistemologi teologi Islam melalui pendekatan Tazkiyatun Nafs Transformatif berbasis Tauhid Emansipatoris sebagai kerangka teoritis integratif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-konseptual dengan pendekatan filosofis-teologis dan analisis kritis terhadap literatur klasik dan kontemporer. Argumen utama artikel ini menegaskan bahwa tazkiyatun nafs tidak hanya berfungsi sebagai praktik etis-spiritual, tetapi juga sebagai basis epistemologis dalam produksi pengetahuan yang transformatif. Tauhid direkonstruksi sebagai prinsip emansipatoris yang membebaskan manusia dari dominasi struktural dan internal, sekaligus mengintegrasikan wahyu, rasio, dan pengalaman spiritual. Kontribusi ilmiah artikel ini terletak pada formulasi paradigma baru yang menggabungkan teologi pembebasan dan tasawuf dalam satu kerangka epistemologi integratif, serta pengenalan konsep “subjek transformatif” sebagai agen perubahan yang menghubungkan dimensi ilahiah dan sosial. Dengan demikian, teologi Islam tidak lagi bersifat spekulatif, tetapi menjadi praksis transformatif yang relevan dengan tantangan global kontemporer