Muhammad Sahwil
Universitas Darul 'Ulum Lamongan, IAI Ar-Risalah INHIL Riau, STAIN Sultan Abdurrahman Kepri

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Neo-Educational Governance: Rekonstruksi Tata Kelola Lembaga Pendidikan berbasis Kecerdasan Adaptif Global Muhammad Sahwil; Said Maskur; Muhammad Faisal
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 3 No 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v3i1.1199

Abstract

Artikel ini mengkaji neo-educational governance sebagai upaya rekonstruksi tata kelola lembaga pendidikan berbasis kecerdasan adaptif global di era disrupsi teknologi dan turbulensi kompleks. Lembaga pendidikan saat ini menghadapi kondisi VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) yang dipicu oleh revolusi industri keempat, kecerdasan buatan generatif, pasca-pandemi COVID-19, dan ketidakpastian geopolitik-ekonomi global. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis wacana kebijakan-manajerial. Kerangka teoretis dibangun secara tiga lapis: teori masyarakat jaringan dan revolusi industri keempat (Castells, Drucker, Schwab, Floridi) sebagai grand theory, teori adaptive governance dan AI governance di pendidikan tinggi (Enaifoghe, Wang & Xie, Eissa, Şen et al., Khairullah et al., Sianipar & Angelia, Alqurni, Yang & Peters) sebagai middle theory, serta teori kepemimpinan transformasional dan pembelajaran organisasi (Henkel & Ade, Gurr et al., Bergsteedt & du Plessis, Murgatroyd, Senge, Mintzberg, Morgan) sebagai applied theory. Temuan utama menunjukkan bahwa neo-educational governance memerlukan lima pilar: (1) kepemimpinan adaptif berbasis strategic foresight dan sensemaking; (2) integrasi AI governance yang bertanggung jawab dengan etika humanis; (3) tata kelola co-governance berbasis pemangku kepentingan; (4) ekosistem kemitraan triple helix dan open innovation; dan (5) keberlanjutan institusional melalui transformasi digital yang berkelanjutan. Penelitian menyimpulkan bahwa masa depan tata kelola pendidikan terletak pada pengembangan kecerdasan adaptif global yang mampu menavigasi kompleksitas, mengintegrasikan teknologi cerdas dengan kearifan manusiawi, dan membangun resiliensi institusional yang berkelanjutan. Implikasi praktis adalah perlunya pemimpin pendidikan mengembangkan kapasitas adaptive leadership, kapabilitas digital, dan budaya inovasi yang terdistribusi.
Spiritual Science Integration: Harmonisasi Nilai Islam dengan Metodologi Ilmiah Modern Muhammad Sahwil; Said Maskur; Muhammad Faisal
Quoba: Jurnal Pendidikan Vol 3 No 1 (2026): 2026
Publisher : PT.Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qb.v3i1.1200

Abstract

Artikel ini mengkaji spiritual science integration sebagai upaya harmonisasi nilai-nilai Islam dengan metodologi ilmiah modern dalam kerangka rekonstruksi epistemologi keilmuan Islam kontemporer. Krisis sains modern yang ditandai oleh reduksionisme, sekularisme metodologis, dan disorientasi etis telah menuntut reorientasi fundamental terhadap konsep ilmu pengetahuan yang berbasis pada paradigma tauhid. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka dan analisis wacana epistemologis. Kerangka teoretis dibangun secara tiga lapis: teori Islamisasi ilmu pengetahuan dan kritik terhadap sains sekuler (al-Attas, al-Faruqi, Nasr, Sardar) sebagai grand theory, teori integrasi ilmu berbasis tauhid dan maqasid al-shariah (Bakar, Kartanegara, Auda, Açikgenç, Rahman) sebagai middle theory, serta teori multidisiplin-interdisiplin-transdisiplin dan sintesis bayani-burhani-irfani (Amin Abdullah, Kuntowijoyo) sebagai applied theory. Temuan utama menunjukkan bahwa spiritual science integration memerlukan empat dimensi: (1) rekonstruksi ontologis-epistemologis berbasis paradigma tauhid yang mengintegrasikan dimensi material dan spiritual realitas; (2) sintesis tiga metode keilmuan Islam (bayani, burhani, irfani) dengan metodologi ilmiah modern (empiris, rasional, eksperimental); (3) reorientasi teleologis sains berbasis maqasid al-shariah yang mengarahkan ilmu pengetahuan pada kemaslahatan manusia dan lingkungan; serta (4) institusionalisasi integrasi dalam pendidikan tinggi Islam melalui kurikulum integratif, paradigma riset prophetic, dan ekosistem keilmuan multidimensi. Penelitian menyimpulkan bahwa masa depan sains Islam tidak terletak pada penolakan terhadap sains modern tetapi pada rekonstruksi epistemologis yang mengakar pada tauhid, sehingga lahir sains yang bertanggung jawab etis, sosial, dan ekologis. Implikasi praktis adalah perlunya perguruan tinggi Islam mengembangkan kurikulum integratif, kapasitas dosen multidisipliner, dan tata kelola riset berbasis maqasid al-shariah.