Ni Komang Putriana Agustini
Institut Seni Indonesia Bali

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KEDALIH Ni Komang Putriana Agustini; Anak Agung Ketut Oka Adnyana; Ni Nyoman Kasih
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 5 No 2 (2025): Jurnal IGEL: Journal Of Dance VOL.5 NO.2, Oktober 2025
Publisher : Pusat Penerbitan LPPM Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v5i2.6065

Abstract

Abstract Kedalih is accusation or slander, Rangdaning Jero Agung was accused of killing her husband and slandered by the local community for having black magic so that Randaning Jero Agung's patience ran out, and she meditated at Pura Dalem Blanjong to ask for supernatural powers. And was given supernatural powers, namely Legu Gondong which made the local community restless because of the plague in the form of Legu (mosquitoes). The meaning of "Kedalih" is accusation or slander, so "Kedalih" is a new creative dance work danced by 7 dancers depicting the accusation of Rangdaning Jero Agung who killed her husband so that she became angry, and begged at Pura Dalam Blanjong Sanur to be given supernatural powers, namely Legu Gondong. The Kedalih dance work uses the method of I Kt. Suteja, namely Angripta Sesolahan which consists of the stages of ngarencana, nuasen, makalin, nelesin, and ngebah. The Kedalih work has 3 structural parts accompanied by LIVE Gambelan Semarandana. The makeup used is modified Balinese dance makeup with nuances of clothing taken from the colors White and Black. To realize the Kedalih dance work, the creator chose the partner of the Manubada Art Community, an art community engaged in the field of dance performing arts located in Singapadu Village, Br. Apuan Singapadu. Keywords : Kedalih, Wabah, Nyamuk
LEGONG MAHA WIDYA TAFSIR TRADISI DAN KREASI DALAM RUANG MULTIKULTURAL Ni Komang Putriana Agustini
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 6 No 2 (2026): Jurnal IGEL: Journal Of Dance
Publisher : Pusat Penerbitan LPPM Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/ydj0q360

Abstract

Karya tari Legong Maha Widya merupakan penciptaan koreografis oleh Anak Agung Mas Sudarningsih yang berangkat dari penafsiran baru terhadap seni Legong tradisi dalam ruang kebudayaan multikultural. Legong yang dikenal dengan pola dinamis, struktur pakem, dan keindahan ragam geraknya menjadi landasan dalam menghadirkan bentuk baru yang berpijak pada nilai-nilai klasik namun terbuka terhadap dialog budaya. Kehadiran unsur multikultural tampak melalui perpaduan elemen tradisional Bali dengan bentuk garap modern, seperti penggunaan teknologi digital pada iringan gamelan Semara Pegulingan serta tata pencahayaan yang memperkaya atmosfer pertunjukan. Tujuan penciptaan karya ini untuk menampilkan keseimbangan antara tradisi dan inovasi melalui simbol pengetahuan agung (Maha Widya) yang bersumber dari kekuatan alam Hyang Pertiwi. Proses ini menjadi wujud perenungan terhadap pengetahuan lokal yang terus berkembang di tengah arus global. Metode yang digunakan ialah pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis wujud dan struktur tari meliputi ragam gerak, tata rias dan busana, properti, serta tata iringan. Pengolahan koreografi dilakukan melalui eksplorasi bentuk gerak Legong tradisi yang diadaptasi menjadi gerak dinamis dan simbolik. Hasil penciptaan menunjukkan bahwa Legong Maha Widya tetap mempertahankan pola struktur pakem Legong seperti pepeson, pengawak, pengecet, dan pekaad, tetapi diolah menjadi bentuk kreasi baru yang menghadirkan ekspresi pengetahuan dan spiritualitas. Karya ini memperlihatkan bagaimana tradisi dan kreasi dapat berdampingan dalam satu ruang budaya yang saling memperkaya. Kata kunci : Legong Maha Widya, Multikultur, Kreasi