Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Efektivitas Larutan Daun Salam (Syzygium Polyanthum) Sebagai Larvasida Terhadap Vektor Aedes SP Marcellina Sekar Saputri; Tien Zubaidah; Syarifudin Syarifudin; Erminawati Erminawati
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1726

Abstract

Larva Aedes sp. merupakan salah satu vektor penyebab penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Penggunaan larvasida kimia secara terus-menerus dapat menimbulkan resistensi dan pencemaran lingkungan sehingga diperlukan alternatif larvasida alami yang lebih aman. Salah satu tanaman yang berpotensi digunakan sebagai larvasida alami adalah daun salam (Syzygium polyanthum) yang mengandung senyawa aktif seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan minyak atsiri.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi larutan daun salam terhadap kematian larva Aedes sp., menentukan nilai LC50, dan mengetahui efektivitasnya sebagai larvasida alami. Jenis penelitian ini adalah true experimental design dengan rancangan posttest only control group design. Sampel penelitian berupa 600 ekor larva Aedes sp. instar III dengan 6 perlakuan konsentrasi yaitu 0 persen, 4 persen, 8 persen, 12 persen, 16 persen, dan 20 persen serta 4 kali pengulangan. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan analisis probit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi 20 persen merupakan konsentrasi paling efektif dengan rata-rata kematian 24 ekor larva atau 96 persen dalam waktu 24 jam. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melakukan pengujian lebih lanjut mengenai lama waktu paparan, konsentrasi larutan, serta efektivitas penerapan larutan daun salam di lingkungan masyarakat agar dapat dikembangkan sebagai pengendalian vektor yang aman dan berkelanjutan.
EFEKTIVITAS LARUTAN SERBUK BIJI PEPAYA KERING (Carica Papaya) SEBAGAI LARVASIDA VEKTOR Aedes Sp. Noor Zakiyyatus Syifa; Syarifudin Syarifudin; Joko Supriyadi
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1790

Abstract

Nyamuk Aedes sp. merupakan vektor penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penggunaan larvasida kimia secara terus-menerus dapat menimbulkan resistensi dan pencemaran lingkungan sehingga diperlukan alternatif larvasida alami, salah satunya larutan serbuk biji pepaya kering (Carica papaya). Penelitian ini bertujuan mengetahui nilai LC50 larutan serbuk biji pepaya kering serta mengetahui perbedaan kematian larva Aedes sp. pada berbagai variasi konsentrasi dengan waktu kontak 24 jam. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah mengenai pemanfaatan biji pepaya sebagai bahan larvasida nabati yang lebih aman dan ramah lingkungan. Penelitian ini menggunakan true experimental design dengan variasi konsentrasi 0%, 3%, 6%, 9%, 12%, dan 15% dalam 100 mL air. Setiap perlakuan menggunakan 25 ekor larva Aedes sp. instar III dengan empat kali pengulangan selama 24 jam. Analisis data menggunakan uji probit, Shapiro–Wilk, Levene, Kruskal–Wallis, dan Mann–Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase kematian larva meningkat seiring bertambahnya konsentrasi, yaitu 0%, 28%, 44%, 68%, 80%, dan 96%. Nilai LC50 diperoleh sebesar 6,557% dengan batas bawah 4,731% dan batas atas 7,936%. Uji Kruskal–Wallis menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antar variasi konsentrasi (p=0,000), dengan konsentrasi 15% sebagai perlakuan paling efektif. Larutan serbuk biji pepaya kering (Carica papaya) efektif digunakan sebagai larvasida alami terhadap larva Aedes sp. dan berpotensi menjadi alternatif pengendalian yang ramah lingkungan. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan metode ekstraksi, mengukur kandungan senyawa aktif, serta mengendalikan pH secara lebih optimal.