Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

REALITAS KOMUNIKASI PEMBANGUNAN DALAM OPERASIONAL DAKWAH miftakhuddin
An-Nida' : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 14 No. 1 (2025): September
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61088/annida.v14i1.841

Abstract

Permasalahan komunikasi pembangunan perlu dikaji terus, karena perjalanan kehidupan pun terus berlangsung, dan semua orang ingin sejahtera secara materiel, juga memiliki ketentraman secara spiritual, sehingga hidup di dunia menyenangkan , dan pelaksanaan aktivitas dakwah yang bersifat spiritual pun lebih optimal. Program pembangunan merupakan agenda utama yang terus dilaksanakan tiap Negara, baik Negara maju, Negara berkembang apalagi Negara terbelakang. Dengan pembangunan kredibilitas kehidupan bisa ditingkatkan, baik aspek materi maupun non materi. Bertolak dari sinilah maka gagasan pembangunan senantiasa dikomunikasikan, sehingga pada gilirannya mencuat apa yang diistilahkan dengan komunikasi pembangunan. Dalam prakteknya ia menggunakan media massa secara dominan, sebab memang media ini dipandang efektif. Secara sederhana, komunikasi dikatakan efektif bila pesan seperti yang dimaksudkan oleh komunikator/da’i berkaitan erat dengan pesan seperti yang ditangkap dan diteri oleh komunikan/mad’u. Efektivitaskomunikasi dengan erat hubungannyadengan tujuannya, biasanya kita mengharap satu hasil atau lebih sebagai tujuan komunikasi. Mencermati essensi, tujuan dan mekanisme komunikasi pembangunan; ternyata ada titik singgung cukup besar yang mempertemukannya dengan dakwah. Dengan demikian untuk operasionalisasi komunikasi pembangunan di Indonesia khususnyaakan lebih berhasil bila mana memanfaatkan dakwah. Mengingat hakekat opersional dakwah adalah menghadapi”realitas”, maka setiap pendukung dakwah, apakah sebagai praktisi atau sebagai penentu kebijakan , harus benar-benar memahami bahwa perubahan itu sendiri sebuah “realitas”.
STRATEGI KOMUNIKASI PENGELOLA ASRAMA DALAM MEMBENTUK KARAKTER MANDIRI SANTRI TAKHASSUS DI PONDOK PESANTREN HIDAYATULLAH SURABAYA miftakhuddin
An-Nida' : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol. 14 No. 2 (2026): Maret
Publisher : el Hakim Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61088/annida.v14i2.866

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam strategi komunikasi pengelola asrama dalam membentuk karakter mandiri santri Takhassus di Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kemandirian sebagai salah satu karakter utama yang harus dimiliki santri dalam menghadapi dinamika kehidupan pesantren maupun kehidupan sosial setelah menyelesaikan pendidikan. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tidak hanya berfungsi sebagai pusat transmisi ilmu keagamaan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter melalui pola hidup berasrama, pembiasaan ibadah, kedisiplinan, keteladanan, dan komunikasi intensif antara pengelola dan santri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap kepala murobbi, musyrif asrama, dan guru halaqah. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, triangulasi waktu, dan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi pengelola asrama dilakukan melalui kombinasi komunikasi langsung dan komunikasi tidak langsung. Komunikasi langsung diwujudkan melalui nasihat personal, dialog, teguran edukatif, musyawarah, diskusi informal, dan pendampingan emosional. Komunikasi tidak langsung diwujudkan melalui keteladanan, pembiasaan, struktur jadwal harian, pemberian amanah, sistem evaluasi, dan kultur religius pesantren. Strategi tersebut terbukti berkontribusi terhadap pembentukan karakter mandiri santri yang tampak pada peningkatan disiplin, tanggung jawab, inisiatif, kemampuan mengatur waktu, kemandirian spiritual, serta keberanian mengambil keputusan. Temuan ini memperkuat relevansi teori strategi komunikasi, komunikasi interpersonal, pendidikan karakter, dan kemandirian dalam konteks pendidikan pesantren