Pemanfaatan budaya lokal dalam pembelajaran IPA berpotensi meningkatkan kebermaknaan belajar melalui pengaitan konsep sains dengan konteks kehidupan masyarakat. Namun, kajian yang mengintegrasikan pengetahuan ekologis lokal dengan pendekatan Ethno-Socioscientific Issues (Ethno-SSI) masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi pengetahuan ekologis yang terkandung dalam Tradisi Keboan Aliyan dan mentransformasikannya menjadi konteks Ethno-SSI dalam pembelajaran IPA. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi yang dilaksanakan di Desa Aliyan, Kabupaten Banyuwangi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan SaldaƱa yang meliputi kondensasi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tradisi Keboan Aliyan mengandung pengetahuan ekologis masyarakat Osing yang mencakup pemahaman tentang musim dan iklim, kesuburan tanah, pengelolaan lahan pertanian, keanekaragaman hayati, serta hubungan manusia dengan lingkungan. Pengetahuan tersebut dapat direkonstruksi menjadi konsep-konsep IPA yang relevan, seperti ekosistem, interaksi makhluk hidup dan lingkungan, cuaca dan iklim, serta kesuburan tanah. Selain itu, ditemukan keterkaitan dengan berbagai isu sosiosaintifik, antara lain perubahan iklim, penggunaan pupuk kimia, alih fungsi lahan, dan ketahanan pangan. Hasil penelitian menghasilkan rekonstruksi pengetahuan ekologis Tradisi Keboan Aliyan yang terintegrasi dengan konsep IPA dan isu sosiosaintifik sehingga berpotensi menjadi konteks Ethno-SSI dalam pembelajaran IPA.