Nur Tahiyat
STAI Siliwangi Bandung, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Aktualisasi Nilai-Nilai Al-Qur’an dalam Perkembangan Ilmu dan Teknologi sebagai Instrumen Peningkatan Kualitas Kehidupan Manusia M. Rifqi Al-Ghifari; Nur Tahiyat; Ending Solehudin
ISLAMICA Vol 9 No 2 (2025): ISLAMICA
Publisher : STAI Siliwangi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59908/islamica.v9i2.107

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Namun, kemajuan tersebut membutuhkan landasan nilai agar tetap berorientasi pada kemaslahatan dan keseimbangan kehidupan. Al-Qur’an sebagai sumber nilai memiliki prinsip-prinsip fundamental yang relevan untuk mengarahkan pemanfaatan ilmu dan teknologi secara etis dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktualisasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam perkembangan ilmu dan teknologi serta kontribusinya terhadap peningkatan kualitas kehidupan manusia. Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif dengan metode deskriptif-analitis. Data penelitian diperoleh melalui studi kepustakaan (library research) dengan mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an, literatur keislaman, serta kajian kontemporer tentang sains dan teknologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an, seperti konsep khalifah, pengembangan akal, tanggung jawab moral, keseimbangan, dan kemaslahatan, menjadi prinsip utama dalam pemanfaatan teknologi. Kebaruan penelitian ini terletak pada kajian mengenai aktualisasi nilai-nilai Al-Qur’an sebagai prinsip pengendali perkembangan ilmu dan teknologi agar tetap selaras dengan tanggung jawab moral dan tujuan kemaslahatan manusia. Penelitian ini berkontribusi dalam memperkuat pendekatan Qur’ani terhadap transformasi teknologi yang berorientasi pada peningkatan kualitas hidup manusia.
Kontekstualisasi Pemikiran Abu Yusuf dalam Kebijakan Makroekonomi Islam: Keadilan Fiskal, Stabilitas, dan Kemaslahatan Indonesia Nina Nursari; Nasrudin Nasrudin; Clara Vidhia; Nur Tahiyat
ISLAMICA Vol 10 No 1 (2026): ISLAMICA
Publisher : STAI Siliwangi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59908/islamica.v10i1.163

Abstract

Perkembangan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan bahwa persoalan distribusi kesejahteraan dan efektivitas kebijakan fiskal masih menjadi tantangan dalam memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi dirasakan secara lebih luas. Meskipun tingkat kemiskinan pada September 2025 menurun menjadi 8,25% atau 23,36 juta penduduk dan Gini Ratio turun menjadi 0,363, realisasi penerimaan pajak 2025 hanya mencapai Rp1.917,6 triliun atau 87,6% dari target APBN sebesar Rp2.189,3 triliun, yang menunjukkan perlunya penguatan efektivitas dan orientasi kebijakan fiskal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persoalan distribusi ekonomi dan ketidaktepatan orientasi kebijakan makroekonomi Indonesia pada tahun 2025, serta menawarkan solusi untuk tahun berikutnya melalui kontekstualisasi pemikiran Abu Yusuf. Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif dengan metode deskriptif-analitis. Data penelitian diperoleh melalui studi kepustakaan (library research) dengan mengkaji aspek historis, konseptual, dan kebijakan melalui kajian Kitāb al-Kharāj, literatur ekonomi Islam, data statistik, serta kebijakan fiskal Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip Abu Yusuf mengenai keadilan pemungutan, perlindungan produktivitas, optimalisasi penerimaan, distribusi belanja, dan kemaslahatan publik dapat menjadi landasan korektif bagi kebijakan yang terlalu berorientasi pada penerimaan tanpa optimalisasi fungsi distribusi dan pemberdayaan ekonomi. Kontekstualisasi tersebut menghasilkan arah kebijakan fiskal yang berkeadilan, produktif, distributif, dan berorientasi pada kemaslahatan publik.
Kepercayaan Diri dan Motivasi Belajar sebagai Prediktor Kemampuan Pemecahan Masalah Perspektif Psikologi Pendidikan Islam Nur Tahiyat; Ahmad Hafidz; Asep Suhana; Jaka Lordra Ardita; Erni Kusmiat; Barzan Faizin
ISLAMICA Vol 10 No 2 (2026): ISLAMICA
Publisher : STAI Siliwangi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59908/islamica.v10i2.248

Abstract

Kemampuan pemecahan masalah merupakan kompetensi penting dalam pembelajaran, karena menunjukkan kemampuan peserta didik mengintegrasikan pengetahuan, penalaran, ketekunan, dan pengambilan keputusan ketika menghadapi persoalan. Dalam perspektif psikologi pendidikan Islam, kemampuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kapasitas kognitif, tetapi juga dengan kondisi psikologis yang membentuk keyakinan terhadap kemampuan diri, kesungguhan dalam berikhtiar, orientasi belajar, dan ketahanan dalam menghadapi kesulitan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepercayaan diri dan motivasi belajar sebagai prediktor kemampuan pemecahan masalah fisika serta menginterpretasikan hubungan tersebut dari perspektif psikologi pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan empiris berbasis data kuantitatif dengan desain korelasional ex post facto untuk menganalisis hubungan antarvariabel berdasarkan kondisi yang telah terjadi tanpa memberikan perlakuan terhadap subjek penelitian. Responden terdiri atas 86 siswa kelas X MIA yang diambil dari tiga SMA swasta di Kota Bandung. Data kepercayaan diri dan motivasi belajar dikumpulkan menggunakan skala psikologis, sedangkan kemampuan pemecahan masalah diukur menggunakan tes. Data dianalisis melalui regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan diri dan motivasi belajar secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah dengan R = 0,778, R² = 0,606, dan F = 63,760 (p < 0,001). Secara parsial, kepercayaan diri (β = 0,278; p = 0,019) dan motivasi belajar (β = 0,537; p < 0,001) merupakan prediktor signifikan. Dalam perspektif psikologi pendidikan Islam, temuan tersebut menunjukkan bahwa keyakinan terhadap kemampuan diri perlu ditempatkan dalam relasi ikhtiar dan tawakal, sedangkan motivasi belajar diperluas melalui niat, kesungguhan, tanggung jawab, dan orientasi kemanfaatan ilmu.