Latar Belakang: Penyemprotan gulma pada pertanian tradisional dapat menimbulkan bahaya kimia, fisik, ergonomi,keselamatan, dan lingkungan. Berbeda dari penyemprotan pestisida secara umum, penyemprotan gulma biasanya dilakukan dekat permukaan tanah, di antara tanaman non-target, saluran air, permukaan lahan tidak rata, dan kondisi angin yang berubah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bahaya keselamatan dan kesehatan kerja pada penyemprotan gulma menggunakan pendekatan Job Safety Analysis (JSA) yang berbasis tahapan kerja.Metode: Penelitian deskriptif berbasis observasi lapangan ini dilakukan di area pertanian tradisional Desa Tegalwulung, Brebes, pada April–Mei 2026. Unit analisis adalah satu siklus lengkap pekerjaan penyemprotan gulma yang terdokumentasi dalam formulir JSA nomor 1/JSA/PBW/2026. Data diperoleh melalui observasi langsung, konfirmasi tim kerja, dan telaah dokumen. Setiap tahapan kerja diklasifikasikan ke dalam aspek kesehatan, keselamatan, dan lingkungan, kemudian diprioritaskan menggunakan matriks kualitatif keparahan–kemungkinan.Hasil: Terdapat 13 tahapan kerja, mulai dari penentuan area penyemprotan hingga pelepasan APD dan pembersihan diri. Bahaya utama meliputi drift herbisida, tumpahan dan percikan, cuaca tidak aman, permukaan tidak rata, kebocoran selang, kerusakan nozzle, beban tangki berlebih, semprotan balik, air bilasan terkontaminasi, serta APD dan kemasan terkontaminasi. Bahaya lingkungan muncul pada 11 tahapan, bahaya kesehatan pada 10 tahapan, dan bahaya keselamatan pada 8 tahapan. Status pada formulir JSA awal menunjukkan bahwa beberapa pengendalian belum sepenuhnya diterapkan atau terverifikasi, sehingga pengendalian yang direkomendasikan dipisahkan dari status pengendalian yang ada.Kesimpulan: Penelitian ini menghasilkan peta bahaya praktis berbasis JSA untuk penyemprotan gulma dan memberikan kebaruan dengan membedakan karakteristik bahaya penyemprotan gulma dari penyemprotan pestisida secara umum. Temuan ini dapat menjadi dasar penyusunan prosedur kerja aman yang kontekstual pada pertanian tradisional