Zulfa Ayuningsih
Universitas Islam Negeri Walisongo

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh Program Promosi Kesehatan Berbasis Peer Education Terhadap Pengetahuan dan Sikap Pencegahan Hipertensi pada Karyawan: Quasi-Experimental Study Shinta Amelia Astuti; Fitri Yati; Anidaul Fajriyah; Zulfa Ayuningsih
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 8 No. 2 (2026): Vol. 8 No. 2 (2026): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, July 2026
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tempat kerja yang sehat adalah tempat kerja dimana pekerja serta atasan atau management berkolaborasi dalam melakukan perbaikan berkelanjutan terutama untuk melindungi kesehatan. Temuan hasil Medical Check Up (MCU) karyawan yang dilakukan pada tahun 2022 oleh PT Y yaitu terdapat penyakit kronis berupa Penyakit Tidak Menular (PTM) yaitu kelainan tekanan darah hipertensi (17%), kelainan kadar gula darah (16%), dan kelainan pemeriksaan jantung serta paru-paru (0,02%), serta terdapat kelainan pada BMI (Body Mass Index) obesitas sebesar 57%. Data jam kerja karyawan menurun dikarenakan absensi meningkat pada Januari hingga Desember 2024 dengan rata-rata naik sebesar 2,5% dikarena kondisi sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh program promosi kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap pencegahan hipertensi di PT Y. Penelitian ini merupakan quasy experiment, dengan desain control group pretest-posttest. Populasi penelitian ini adalah seluruh karyawan PT Y Semarang sejumlah 267 orang. Sampel berjumlah 28 orang, yang terbagi dalam 2 kelompok intervensi dan kontrol. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Hasil analisis menunjukkan sebanyak 64,3% memiliki pengetahuan kurang meningkat menjadi 78,6% berpengetahuan cukup setelah penerapan program promosi kesehatan. Sikap karyawan juga menjadi lebih positif setelah diterapkan program promosi kesehatan, yang awalnya 57,1% menjadi 100%. Program promosi kesehatan terbukti berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan (p = 0,008) dan sikap (p = 0,015) dalam pencegahan hipertensi. Kesimpulannya, penerapan program promosi kesehatan berbasis peer education berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap pencegahan hipertensi pada karyawan di PT Y Semarang Kata Kunci: Promosi Kesehatan, Pengetahuan, Sikap, Pencegahan Hipertensi, Karyawan ABSTRACT A healthy workplace is one where employees and management collaborate on continuous improvement to protect and promote health. Medical Check-Up (MCU) findings from 2022 at PT Y revealed a prevalence of chronic Non-Communicable Diseases (NCDs), specifically: hypertension (17%), abnormal blood sugar levels (16%), and heart or lung abnormalities (0.02%). Additionally, 57% of employees were categorized as obese based on Body Mass Index (BMI). Between January and December 2024, total working hours declined as sickness-related absenteeism rose by an average of 2.5%. This study aims to analyze the impact of a health promotion program on the knowledge and attitudes regarding hypertension prevention at PT Y. This research employed a quasi-experimental design with a control group pretest-posttest approach. The population consisted of 267 employees of PT Y Semarang, with a sample of 28 individuals selected through purposive sampling and divided into intervention and control groups. The results showed that prior to the intervention, 64.3% of participants had poor knowledge, which improved to 78.6% having sufficient knowledge following the program. Positive attitudes also increased significantly from 57.1% to 100%. Statistical analysis confirmed that the health promotion program had a significant effect on both knowledge ($p = 0.008$) and attitudes ($p = 0.015$) toward hypertension prevention. The implementation of a peer education-based health promotion program effectively improves knowledge and attitudes toward hypertension prevention among employees at PT Y Semarang.Keywords: Health Promotion, Knowledge, Attitude, Hypertension Prevention, Employess
Analisis Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Aktivitas Penggunaan Fungisida oleh Petani Bawang Merah Tradisional Lutfi Muzaqi; Zulfa Ayuningsih; Maria Estela Karolina; Irman Syahrul Ardiansyah; Ismi Elya Wirdati; Kartika Dian Pertiwi; Sohaib Akram; Fajrul Falakh
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 8 No. 2 (2026): Vol. 8 No. 2 (2026): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, July 2026
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penggunaan fungisida pada budidaya bawang merah merupakan aktivitas penting untuk mengendalikan penyakit tanaman, tetapi proses penentuan area kerja, pencampuran, penyemprotan, pengaturan tekanan, pengelolaan residu, dan dekontaminasi pekerja berpotensi menimbulkan pajanan kimia, kecelakaan kerja, dan pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan menganalisis bahaya, risiko, dan pengendalian penggunaan fungisida pada petani bawang merah menggunakan pendekatan Job Safety Analysis (JSA). Penelitian ini merupakan analisis deskriptif berbasis dokumen terhadap formulir Job Safety Analysis (JSA), yang dipilih karena mampu mengidentifikasi bahaya dan pengendalian risiko secara sistematis pada setiap tahapan kerja, penggunaan fungisida pada lahan bawang merah.. Dokumen yang dianalisis adalah formulir JSA penggunaan fungisida pada petani bawang merah. Unit analisis mencakup 13 tahapan kerja, kategori H/S/E, uraian bahaya, risiko, rekomendasi pengendalian, dan status implementasi pengendalian. Hasil analisis menunjukkan bahwa 13 tahapan kerja memiliki kombinasi risiko kesehatan, keselamatan, dan lingkungan. Kategori H/E ditemukan pada 5 tahapan, H/S/E pada 4 tahapan, S/E pada 3 tahapan, dan H/S pada 1 tahapan. Risiko utama meliputi pajanan kulit, mata, dan pernapasan; keracunan akut; terpeleset; semburan balik; drift; limpasan; fitotoksisitas; pencemaran tanah dan air; serta kontaminasi rumah tangga pasca kerja. Seluruh 13 pengendalian masih berstatus belum terverifikasi. JSA menunjukkan bahwa pengendalian fungisida harus dilakukan sebagai sistem kerja lengkap, mulai dari perencanaan hingga dekontaminasi, dengan verifikasi pengendalian sebelum pekerjaan dimulai. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) penggunaan fungisida yang aman serta pengembangan pelatihan K3 bagi petani bawang merah.. Kata kunci: Paparan Fungisida, Job Safety Analysis, Kesehatan Kerja, Petani, Penilaian Risiko Kerja ABSTRACT Fungicide application in shallot farming is essential for plant-disease control, yet area selection, mixing, spraying, pressure adjustment, residue handling, and worker decontamination may generate chemical exposure, occupational incidents, and environmental contamination. This study aimed to analyze hazards, risks, and control measures in shallot fungicide use using a Job Safety Analysis (JSA) approach.  This study employed a descriptive document-based analysis of Job Safety Analysis (JSA) forms, which were selected because they enable the systematic identification of hazards and risk control measures at each stage of fungicide application in shallot farming. The documents analyzed were JSA forms regarding fungicide use by shallot farmers. The analysis covered 13 work steps, H/S/E categories, hazard descriptions, risk descriptions, recommended controls, and control-implementation status.  The analysis showed that all 13 work steps contained combined health, safety, and environmental risks. H/E risks appeared in 5 steps, H/S/E in 4 steps, S/E in 3 steps, and H/S in 1 step. The main risks included skin, eye, and respiratory exposure; acute poisoning; slipping; back spray; drift; runoff; phytotoxicity; soil and water contamination; and household contamination after work. All 13 control measures remained unverified in the reviewed form.  JSA indicates that fungicide safety must be managed as a complete work system, from planning to decontamination, with verified control measures before field application begins. The findings of this study can serve as a basis for developing standard operating procedures (SOPs) for the safe use of fungicides and occupational health and safety (OHS) training programs for shallot farmers. Keywords: Fungicide Expoxure, Job Safety Analysis, Occupational Health, Farmers, Occupational Risk Assassment
Pemetaan Bahaya Keselamatan dan Kesehatan pada Kegiatan Penyemprotan Gulmamenggunakan Job Safety Analysis Zulfa Ayuningsih; Lutfi Muzaqi; Eko Farida; Kartika Dian Pertiwi; Ismi Elya Wirdati; Cong Yoke Ming
Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijphn.v6i1.49370

Abstract

Latar Belakang: Penyemprotan gulma pada pertanian tradisional dapat menimbulkan bahaya kimia, fisik, ergonomi,keselamatan, dan lingkungan. Berbeda dari penyemprotan pestisida secara umum, penyemprotan gulma biasanya dilakukan dekat permukaan tanah, di antara tanaman non-target, saluran air, permukaan lahan tidak rata, dan kondisi angin yang berubah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bahaya keselamatan dan kesehatan kerja pada penyemprotan gulma menggunakan pendekatan Job Safety Analysis (JSA) yang berbasis tahapan kerja.Metode: Penelitian deskriptif berbasis observasi lapangan ini dilakukan di area pertanian tradisional Desa Tegalwulung, Brebes, pada April–Mei 2026. Unit analisis adalah satu siklus lengkap pekerjaan penyemprotan gulma yang terdokumentasi dalam formulir JSA nomor 1/JSA/PBW/2026. Data diperoleh melalui observasi langsung, konfirmasi tim kerja, dan telaah dokumen. Setiap tahapan kerja diklasifikasikan ke dalam aspek kesehatan, keselamatan, dan lingkungan, kemudian diprioritaskan menggunakan matriks kualitatif keparahan–kemungkinan.Hasil: Terdapat 13 tahapan kerja, mulai dari penentuan area penyemprotan hingga pelepasan APD dan pembersihan diri. Bahaya utama meliputi drift herbisida, tumpahan dan percikan, cuaca tidak aman, permukaan tidak rata, kebocoran selang, kerusakan nozzle, beban tangki berlebih, semprotan balik, air bilasan terkontaminasi, serta APD dan kemasan terkontaminasi. Bahaya lingkungan muncul pada 11 tahapan, bahaya kesehatan pada 10 tahapan, dan bahaya keselamatan pada 8 tahapan. Status pada formulir JSA awal menunjukkan bahwa beberapa pengendalian belum sepenuhnya diterapkan atau terverifikasi, sehingga pengendalian yang direkomendasikan dipisahkan dari status pengendalian yang ada.Kesimpulan: Penelitian ini menghasilkan peta bahaya praktis berbasis JSA untuk penyemprotan gulma dan memberikan kebaruan dengan membedakan karakteristik bahaya penyemprotan gulma dari penyemprotan pestisida secara umum. Temuan ini dapat menjadi dasar penyusunan prosedur kerja aman yang kontekstual pada pertanian tradisional