Lukman Yudho Prakoso
Universitas Pertahanan Republik Indonesia, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Resiliensi Keamanan Maritim Indonesia dalam Menghadapi Rivalitas Geopolitik Amerika Serikat–Tiongkok di Kawasan Indo-Pasifik Melalui Pendekatan Integratif Empat Matriks Keamanan Maritim Christian BuegerMenuju Indonesia Emas 2045 A. Rivai Ras; Lukman Yudho Prakoso; Fitry Tafiq Sahary; Muhamad Risahdi; Bonan Dolog Oktavianus Siagian
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 8 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i8.3810

Abstract

Rivalitas geopolitik Amerika Serikat dan Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik telah menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi stabilitas keamanan maritim global. Persaingan tersebut tidak hanya berdampak pada aspek pertahanan dan keamanan, tetapi juga memengaruhi perdagangan internasional, konektivitas maritim, keberlanjutan lingkungan laut, dan keamanan manusia. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki posisi strategis yang rentan sekaligus berpeluang dalam dinamika tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi strategi keamanan maritim Indonesia saat ini dalam menghadapi rivalitas geopolitik Amerika Serikat–Tiongkok serta merumuskan strategi resiliensi yang ideal melalui pendekatan integratif empat matriks keamanan maritim Christian Bueger. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi keamanan maritim Indonesia telah mengalami kemajuan melalui penguatan diplomasi maritim, modernisasi sistem pengawasan, dan peningkatan kerja sama regional, namun masih menghadapi tantangan dalam integrasi data maritim, interoperabilitas antarlembaga, dan kapasitas Maritime Domain Awareness. Berdasarkan analisis menggunakan empat matriks Bueger (Sea Power, Economic Development, Marine Environment, dan Human Security), strategi resiliensi yang ideal mencakup penguatan Kesadaran Domain Maritim, diplomasi maritim, transformasi digital, ketahanan ekonomi maritim, dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Penelitian menyimpulkan bahwa keempat dimensi keamanan maritim harus dikembangkan secara simultan dan terintegrasi untuk membentuk sistem keamanan maritim nasional yang adaptif, tangguh, dan berkelanjutan. Strategi ini diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan maritim regional sekaligus mendukung pencapaian visi Indonesia Emas 2045.
Optimalisasi Kolaborasi Regional Asean dalam Membangun Resiliensi Keamanan Maritim Menghadapi Ancaman IUU Fishing, Kejahatan Transnasional, dan Persaingan Kekuatan Besar di Indo-Pasifik Asep Iwa Soemantri; Lukman Yudho Prakoso; Harri Dolly Hutabarat; Amin Lestari; Steven Toar Sambouw
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 8 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i8.3811

Abstract

Kawasan Indo-Pasifik menjadi pusat pertumbuhan ekonomi global sekaligus arena kompetisi geopolitik yang semakin kompleks. Di tengah dinamika tersebut, negara-negara ASEAN menghadapi berbagai ancaman keamanan maritim seperti Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing (IUU Fishing), kejahatan transnasional maritim, penyelundupan narkotika, perdagangan manusia, perompakan, serta meningkatnya rivalitas kekuatan besar yang berpotensi mengganggu stabilitas kawasan. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi kolaborasi regional ASEAN dalam menghadapi ancaman keamanan maritim serta merumuskan strategi optimalisasi kerja sama kawasan untuk membangun resiliensi keamanan maritim yang berkelanjutan. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ASEAN telah memiliki berbagai mekanisme kerja sama seperti ASEAN Maritime Forum, Expanded ASEAN Maritime Forum, ADMM-Plus, dan ReCAAP yang telah memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan koordinasi antarnegara, namun masih menghadapi kendala berupa kesenjangan kapasitas keamanan maritim, integrasi data yang terbatas, perbedaan regulasi nasional, dan tekanan geopolitik eksternal. Penelitian menyimpulkan bahwa penguatan Maritime Domain Awareness, interoperabilitas kelembagaan, diplomasi maritim regional, pertukaran informasi keamanan maritim, harmonisasi regulasi, dan pembangunan kapasitas bersama merupakan faktor utama dalam meningkatkan resiliensi keamanan maritim ASEAN. Dengan menerapkan prinsip-prinsip implementasi kebijakan keamanan maritim (integrasi, interaksi, transparansi, kontrol, akuntabilitas, kerahasiaan, dan regulasi) serta pendekatan empat matriks keamanan maritim Christian Bueger (Sea Power, Economic Development, Human Security, dan Marine Environment), ASEAN dapat membangun sistem keamanan maritim yang lebih adaptif dan terintegrasi untuk menghadapi ancaman multidimensional yang terus berkembang serta mendukung visi Komunitas ASEAN 2045 yang aman, tangguh, dan berkelanjutan.