Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Gambaran Program Pemberian Makanan Tambahan Berbasis Pangan Lokal Dalam Mengatasi Masalah Gizi Kurang Pada Balita Di Desa Tuloa: Overview of Local Food-Based Supplementary Feeding Program in Addressing Malnutrition Problems in Toddlers in Tuloa Village Khairunnisa Lamalani; Sunarto Kadir; Ramly Abudi
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Juni 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i6.7837

Abstract

Pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal merupakan strategi penanganan masalah gizi pada Balita. Rumusan masalah bagaimana gambaran program PMT berbasis pangan lokal dalam mengatasi masalah gizi kurang pada balita di Desa Tuloa. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran program PMT berbasis pangan lokal dalam mengatasi masalah gizi kurang pada balita di Desa Tuloa. Metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Populasi seluruh ibu dari balita yang terlibat dalam program PMT di Desa Tuloa. Sampel penelitian berjumlah 52 orang menggunakan total sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat. Hasil penelitian diketahui bahwa edukasi gizi terbanyak berjumlah 46 (88.5%), tidak diberikan edukasi gizi (11.5%), keberagaman pangan beragam terbanyak berjumlah 39 (75.0%), tidak beragam berjumlah 13 (25.0%), siklus menu <7 hari terbanyak berjumlah 30 (57.7%), yang menerima ?7 hari berjumlah 22 (42.3%), kesesuaian tekstur sesuai terbanyak berjumlah 46 (88.5%) dan tidak sesuai berjumlah 6 (11.5%), lama waktu pemberian memenuhi terbanyak berjumlah 31 (59.6%), tidak memenuhi berjumlah 21 balita (40.4%), status gizi baik terbanyak berjumlah 38 (73.1%) dan gizi kurang berjumlah 14 (26.9%). Saran peneliti selanjutnya, meneliti faktor-faktor aspek sosial-ekonomi, keterlibatan keluarga, inovasi penyusunan menu agar lebih bervariasi dan menarik untuk dampak jangka panjang program PMT terhadap status gizi balita
Analisis Kandungan Protein Dan Zat Besi Serta Uji Organoleptik Cookies Daun Kelor Dengan Substitusi Tepung Kacang Hijau: Analysis of protein and iron content and organoleptic test of moringa leaf cookies with mung bean flour substitution Aprilita Putri Salsabila; Sunarto Kadir; Tri Septian Maksum
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Juli 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i7.8234

Abstract

Cookies adalah cemilan yang umumnya dibuat dengan bahan baku tepung terigu, mentega, telur dan susu bubuk, oleh karena itu agar masyarakat dapat memanfaatkan bahan makanan lokal, maka dapat digunakan daun kelor dan tepung kaacang hijau yang tinggi protein dan zat besi. Rumusan masalah adalah bagaimana kandungan protein, zat besi dan penerimaan organoleptik cookies daun kelor dengan substitusi tepung kacang hijau. Tujuan adalah untuk menganalisis kandungan protein dan zat besi serta uji organoleptik cookies daun kelor dengan substituti tepung kacang hijau. Jenis penelitian adalah deskriptif dengan menggunakan uji kjedahl, spektofotometer UV-Visible dan uji organoleptik untuk mengetahui kandungan protein, zat besi dan penerimaan organoleptik cookies. Panelis yang digunakan adalah mahasiswa Peminatan Gizi Jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Gorontalo sebanyak 20 panelis. Data dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian cookies daun kelor dengan susbtitusi tepung kacang hijau pada formulasi 10g, 15g, dan 20g mengandung protein berturut-turut sebanyak 11,11%, 11,78%, dan 12,24%. Kandungan zat besi ketiga formulasi berturut-turut sebanyak 73,11 mg/kg, 68,34 mg/kg, dan 90,36 mg/kg. Berdasarkan hasil uji organoleptik didapatkan hasil bahwa dari segi warna, aroma, tekstur,dan rasa yang paling disukai oleh panelis adalah cookies dengan formulasi 10g daun kelor. Cookies disukai karena warna hijau cerah dengan 18 panelis (90%), aromanya harum dengan 3 panelis (15%), tekstur renyah dengan 5 paneliS (25%), dan rasanya yang gurih dan manis dengan 11 panelis (55%). Disarankan melakukan penelitian lebih lanjut terhadap kandungan gizi lainnya, dan uji ketahanan cookies agar bisa diketahui berapa lama ketahanan dan layak konsumsi produk .
Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Malnutrisi Pada Balita Di Desa Hutadaa Kecamatan Talaga Jaya Kabupaten Gorontalo: Factors Influencing the Incidence of Malnutrition in Toddlers in Hutadaa Village, Talaga Jaya District, Gorontalo Regency Zulfikal Dulalimo; Sunarto Kadir; Ulva Aulia
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Juli 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i7.8246

Abstract

Malnutrisi adalah kondisi kekurangan gizi yang ditandai dengan berat dan tinggi badan di bawah normal menurut umur. Kesadaran akan pentingnya pemenuhan gizi bagi balita masih kurang.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kejadian malnutrisi pada balita di Desa Hutadaa Kecamatan Talaga Jaya Kabupaten Gorontalo. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Variabel dependen adalah kejadian malnutrisi, sedangkan variabel independen meliputi pengetahuan gizi ibu, status ekonomi, dan pola asuh. Populasi berjumlah 214 responden, dengan sampel sebanyak 140 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dengan tingkat kepercyaan 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar balita berusia 36–47 bulan (35,0%), 55 balita mengalami malnutris atau sebesar (39.3%), ibu memiliki pengetahuan gizi baik sebanyak 46 orang (32,9% ), status ekonomi tinggi sebanyak 44 orang (31.4%), dan 54 ibu (38,8%) menerapkan pola asuh yang baik. Terdapat pengaruh signifikan terhadap pengetahuan gizi ibu (p=0,025), status ekonomi (p=0,000), dan pola asuh (p=0,010) terhadap kejadian malnutrisi pada balita. Disarankan agar ibu memanfaatkan layanan kesehatan, memperhatikan asupan gizi, dan menerapkan pola asuh yang baik untuk mencegah malnutrisi pada balita.