Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

STIGMA TERHADAP ORANG POSITIF COVID-19 Ramly Abudi; Yasir Mokodompis; Allika Nurfadias Magulili
Jambura Journal of Health Sciences and Research Vol 2, No 2 (2020): JULI: JAMBURA JOURNAL OF HEALTH SCIENCES AND RESEARCH
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.288 KB) | DOI: 10.35971/jjhsr.v2i2.6012

Abstract

Coronavirus (CoV) adalah virus yang menginfeksi sistem pernapasan. Infeksi virus ini disebut COVID-19. COVID-19 di Indonesia dilaporkan pertama kali pada tanggal 2 Maret 2020 sejumlah dua kasus. Munculnya pandemi global COVID-19 menimbulkan stigma negatif bagi penderita maupun keluarganya. Stigma merupakan suatu istilah yang menggambarkan suatu keadaan atau kondisi terkait sudut pandang atas sesuatu yang dianggap bernilai negatif. Biasanya stigma ada pada beban penyakit. Stigma dalam konteks kesehatan adalah hubungan negatif antara seseorang atau sekelompok orang yang berbagi karakteristik tertentu dan penyakit tertentu. Banyak pasien memang sulit untuk mengungkap riwayatnya karena stigma terhadap pasien COVID-19 dan kondisi sosial masyarakat. Tak hanya berbohong, keluarga pasien justru marah ketika ditanyai mengenai riwayat kontak. Salah satu penyebab mereka berbohong adalah arus informasi mengenai virus corona yang sangat masif. Hal ini berkaitan erat dengan minimnya literasi mengenai kesehatan, di mana masyarakat tidak dibiasakan berhadapan dengan data yang seimbang. Untuk membantu pemerintah dan pihak kesehatan menganalisis para pasiennya, maka setidaknya ada 4 sebutan orang terkait COVID-19, yaitu: Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP) atau suspek, Orang Tanpa Gejala (OTG), dan positif COVID-19. Pemerintah telah melakukan upaya dalam menekan penyebaran COVID-19 melalui beberapa cara. Setelah resmi dideklarasikan sebagai pandemik global, WHO segera memberikan 30 pesan yang dikelompokkan menjadi 6 (enam) grup pesan terkait COVID-19. Kabar atau informasi yang baik, menjadi salah satu faktor pendukung kesembuhan. Kalau ada yang positif jangan di stigma, bila perlu membantu apabila ada ODP di wilayah kita, yang kiranya harus karantina mandiri, harus saling support demi kesembuhannya.
ANALISIS FAKTOR RESIKO KEJADIAN OBESITAS PADA REMAJA DI KOTA GORONTALO Ramly Abudi; Irwan Irwan
Journal Health & Science : Gorontalo Journal Health and Science Community Vol 2, No 2 (2018): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUNI
Publisher : Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.39 KB) | DOI: 10.35971/gojhes.v2i2.5270

Abstract

ABSTRAK Menurut World Health Organization (WHO) 2006, secara global terdapat lebih dari satu milyar penduduk dewasa yang kelebihan berat badan (gemuk), 300 juta diantaranya kegemukan (obes). Sejak tahun 1980 dibeberapa wilayah di Amerika Utara, Inggris, Eropa Timur, Timur Tengah, Kepulauan Pasifik, Australia dan Cina, jumlah penduduk yang menderita kegemukan berlipat tiga kali. Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology, mengungkapkan, obesitas yang dialami seseorang pada saat remaja berkaitan erat dengan peningkatan risiko kematian di usia paruh baya.Penelitian tersebut melibatkan 227 ribu pria dan wanita Norwegia yang diukur tinggi dan berat badannya antara tahun 1963-1975 saat mereka berusia antara 14 -19 tahun, dengan mengikuti perkembangan mereka sampai tahun 2004, saat mereka rata-rata berusia 52 tahun, 9.650 orang diantaranya meninggal. Dari hasil penelitian diketahui bahwa mereka yang mengalami obesitas atau overweight (kelebihan berat badan) saat remaja diketahui 3-4 kali lebih  beresiko mengalami penyakit jantung yang berujung pada kematian. Resiko kanker kolon serta penyakit pernapasan asma dan emfisema juga meningkat 2-3 kali (Anonymous, 2008).
Risiko Penularan HIV/AIDS pada Pekerja Seks Komersial (PSK) di Provinsi Gorontalo. Irwan Irwan; Ramly Abudi
Journal Health & Science : Gorontalo Journal Health and Science Community Vol 2, No 2 (2018): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUNI
Publisher : Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.495 KB) | DOI: 10.35971/gojhes.v2i2.5271

Abstract

AbstrakPengidap HIV/AIDS dan penderita AIDS sebagian besar masih berusia produktif. Menurut perhitungan kalau penderita berumur 25-29 tahun, sedangkan masa inkubasi sejak terjangkitnya HIV positif sampai AIDS positif adalah 5-10 tahun dapat diduga bahwa mereka tertular HIV sejak berumur 15-20 tahun (Padang, 2005). Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan PSK terhadap HIV/AIDS di Provinsi Gorontalo.Jenis penelitian yang digunakan adalah bersifat deskriptif  analitik, sampel terdiri atas 53 orang yang bekerja sebagai PSK di wilayah Provinsi Gorontalo. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa pengetahuan Pekerja Seks Komersial (PSK)  terhadap penyakit HIV/AIDS dari 162 responden diperoleh 96 orang (59.25%) dikategorikan cukup, 38 orang (23.45%) berpengetahuan baik dan 28 orang (17.30%) diketahui berpengetahuan kurang.
SISTEM PENGELOLAAN REKAM MEDIS DI PUSKESMAS Silva Flora Ninta Taringan; Ramly Abudi; Nikmatisni Arsad
Jambura Health and Sport Journal Vol 4, No 2 (2022): Agustus
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37311/jhsj.v4i2.15276

Abstract

Dokumen Rekam Medis adalah catatan yang berisikan identitas pasien, diagnosis serta riwayat penyakit pasien. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan alur rekam medis dan ketersediaan sumber daya manusia dalam pengelolaan rekam medis di Puskesmas Bilato Kabupaten Gorontalo. Jenis Penelitian ini merupakan penelitian Kualitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga kesehatan rekam medis berjumlah  5 orang. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan petugas rekam medis di Puskesmas Bilato Kabupaten Gorontalo diketahui bahwa masih terjadi kesalahan letak pada berkas rekam medis dengan rata-rata 15 berkas yang salah letak dalam satu bulan. Hal tersebut mengakibatkan semakin lamanya pelayanan terhadap pasien karena adanya penupukan berkas rekam medis.
RELATIONSHIP BETWEEN BODY MASS INDEX (BMI) AND AGE OF MENARCHE IN ADOLESCENT GIRLS AT MTs NEGERI 3 GORONTALO REGENCY Fatlun Indriani Adam; Sunarto Kadir; Ramly Abudi
Journal Health & Science : Gorontalo Journal Health and Science Community Vol 6, No 3 (2022): OKTOBER: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMU
Publisher : Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/gojhes.v6i3.16117

Abstract

Menarche adalah haid yang pertama kali dialami oleh setiap remaja putri yang sudah memasuk masa pubertas. Setiap remaja putri memiliki usia menarche yang berbeda-beda, hal ini bisa dipengaruhi oleh faktor keturunan, faktor gizi, dan kesehatan umum lainnya. Kebaruan penelitian ini karena meneliti tentang hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan usia menarche pada remaja putri di MTs Negeri 3 Kabupaten Gorontalo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan indeks massa tubuh dengan usia menarche pada remaja putri di MTs Negeri 3 Kabupaten Gorontalo. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan observasional menggunakan desain Cross Sectional, pengumpulan data menggunakan lembar observasi, analisis data menggunakan uji non parametrik dengan analisis spearman rank. Hasil penelitian yaitu siswi yang memiliki usia menarche normal terdapat 70 responden (56,5%) dan yang memiliki usai menarche lambat terdapat 54 reponden (43,5%), dengan rata-rata indeks massa tubuh yaitu 19,65. Hubungan indeks massa tubuh dan usia menarche diperoleh dengan nilai koofisien korelasi sebesar -0,622 dengan nilai p-value 0,000 ≤ α = 0,05. Simpulan terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dengan usia menarche pada remaja putri di MTs Negeri 3 Kabupaten Gorontalo. Kata Kunci : IMT; Usia Menarche; Remaja Putri.  Abstract            Menarche is the first menstruation experienced by every teenage girl who has begun puberty. Every young woman has a different age of menarche; this can be influenced by heredity, nutritional factors, anf other general health. The novelty of this study is because it examines the relationship between Body Mass Index (BMI) and menarche age in young women in MTs Negeri 3, Gorontalo Regency. This study answered the question of whether  there is a relationship between body mass index (BMI) and age of menarche in adolescent girls at MTs Negeri 3 Gorontalo Regency. This research is quantitative research with an observational approach using a cross sectional design, data collection using observation sheets, and data analysis using a non-parametric test with spearman rank analysis. The results of the study show that students who had normal menarche age were 70 respondents (56.5%), and those who had late menarche were 54 respondents (43.5%), followed by an average body mass index of 19.65. The relationship between body mass index and age of menarche was obtained with a correlation coefficient of -0.622 with a p-value of 0.000—0.05. The conclusion is that there is a relationship between body mass index and age of menarche in adolescent girls at MTs negeri 3 Gorontalo Regency. Keywords: BMI; Age of Menarche; Adolescent Girl.
IDENTIFIKASI RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA PENGOPERASIAN INCINERATOR Sylva Flora Ninta Tarigan; Ramly Abudi; Jelita Agustina Malahika
Jambura Health and Sport Journal Vol 5, No 1 (2023): Februari
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37311/jhsj.v5i1.17696

Abstract

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah usaha untuk sedapat mungkin menjamin keselamatan dan kesehatan pada pekerja sehingga pekerja dapat merasa aman dan nyaman bekerja ditempatnya. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi risiko keselamatan dan kesehatan kerja pada pengoperasian incinerator di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo. Desain penelitian ini merupakan desain deskriptif dengan pendekatan mixed method. Informan penelitian terdiri dari 1 informan kunci, 1 informan utama dan 1 informan pendukung. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara terstruktur dan dokumentasi. Hasil penelitian bahwa pada setiap pekerjaan di area pengoperasian incinerator berpotensi bahaya mekanis, listrik, biologi, kimia, dan ergonomi. Hasil penilaian risiko didapatkan 1 risiko tinggi sehingga memerlukan tindakan lanjutan dan 60 risiko rendah sehingga risiko dapat diterima. Faktor penyebab risiko tertinggi didapatkan 31 akar penyebab permasalahan seperti pekerja tidak mengikuti SOP dan pekerja kurang pengetahuan. Rekomendasi pengendalian terhadap faktor penyebab risiko tertinggi dan didapatkan 10 rekomendasi pengendalian administratif. Simpulan bahwa terdapat 1 risiko tertinggi yaitu cedera ringan/berat akibat tidak menggunakan APD lengkap.
Pelatihan Pembuatan Hansanitizer Dan Sabun Cuci Dari Herbal Untuk Pencegahan Infeksi Sebagai Upaya Penurunan Stunting Di Desa Pelita Jaya Mahdalena Sy. Pakaya; Robert Tungadi; Ramly Abudi
Jurnal Sibermas (Sinergi Pemberdayaan Masyarakat) Vol 12, No 1 (2023): Jurnal Sibermas (Sinergi Bersama Masyarakat)
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/sibermas.v12i2.18411

Abstract

Stunting is a condition of failure to thrive in children under five due to chronic malnutrition so that children are too short for their age. Malnutrition occurs since the baby is in the womb and in the early days after the baby is born, however, stunting only appears after the baby is 2 years old. Data on the prevalence of stunting under five collected by WHO, Indonesia is included in the third country with the highest prevalence in the Southeast Asia region. The average prevalence of stunting under five in Indonesia in 2005 - 2017 was 36.4%. According to the national target, Bone Bolango Regency is one of the 260 Regencies/Cities, priority areas for accelerating the national stunting prevention in 2019. But until now, the prevalence of stunting in Bone Bolango is still high, namely 25.1%, which is above the standard rate. tolerated by WHO, which is below 20%. Based on the results of observations in Pelita Jaya Village, Bone Bolango Regency, cases of stunting that occur are closely related to the lack of availability of clean latrines, where there are still houses that do not have latrines that comply with sanitation requirements. This can trigger cases of infection in children. And if this infection occurs repeatedly, it can cause toddlers and children to experience electrolyte and nutritional deficiencies. So that it can lead to disruption of child development. Based on this, the Service Team, Lecturers of the Faculty of Sports and Health, State University of Gorontalo, need to conduct socialization, training and manufacture of herbal hand sanitizer and hand washing products to improve clean and healthy living behavior in the community, so that they are free from infectious diseases and the risk of stunting.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU IBU HAMIL DALAM MELAKUKAN PEMERIKSAAN TRIPLE ELIMINATION DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KOTA GORONTALO Ahmad, Regina Maharani H.; Irwan; Abudi, Ramly
Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 14 No. 4 (2025): Medic Nutricia : Jurnal Ilmu Kesehatan
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5455/nutricia.v14i4.12482

Abstract

Triple elimination adalah upaya untuk mengeliminasi infeksi HIV, sifilis, dan Hepatitis B dari ibu ke anak. Capaian skrining triple elimination di Kota Gorontalo 2024 mencapai 42%. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor yang mempengaruhi perilaku ibu hamil dalam melakukan pemeriksaan triple elimination di wilayah kerja Puskesmas Kota Gorontalo, serta faktor yang mendominasi. Jenis penelitian survei analitik menggunakan desain cross sectional dengan populasi 281 ibu hamil trimester II dan sampel 88 ibu hamil yang dipilih secara proporsional. Variabel independen terdiri dari umur, pekerjaan, paritas, jarak, pengetahuan, sikap, dukungan tenaga kesehatan, dan dukungan suami. Variabel dependen adalah perilaku ibu hamil dalam pemeriksaan triple elimination. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang teruji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji chi square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan (ρ = 0,023 ; OR = 3,810), dukungan tenaga kesehatan (ρ = 0,041; OR = 3,401), dan dukungan suami (ρ = 0,002 ; OR = 4,298) berpengaruh terhadap perilaku ibu hamil, sementara umur (ρ = 0,717), pekerjaan (ρ = 0,238), paritas (ρ = 0,936), jarak (ρ = 1,000), dan sikap (ρ = 0,929) tidak berpengaruh. Dukungan suami menjadi faktor dominan dalam analisis multivariat. Saran penelitian meliputi pentingnya edukasi, dukungan, dan pelatihan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi dalam pemeriksaan triple elimination.
Hubungan pola makan, tingkat stres, dan konsumsi kopi dengan kejadian gastritis pada pasien di poli penyakit dalam Tatu, Muslima S.; Kadir, Sunarto; Abudi, Ramly
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 5 No 5 (2025): October Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v5i5.1729

Abstract

Background: Gastritis is a health disorder related to the digestive process, especially the stomach. Frequently emptying the stomach can cause damage, as the stomach wall is compressed, causing abrasions and ulcers. These ulcers can lead to inflammation. Purpose: To determine the relationship between diet, stress levels, and coffee consumption and the incidence of gastritis in patients attending the internal medicine clinic. Method: This study was quantitative, with a cross-sectional approach. The population was 60 patients and the sample size was 52 patients, using a purposive sampling technique. Data were analyzed using the chi-square test. Results: Univariate testing revealed that the most common dietary pattern was poor (23 respondents (44.2%), the most common stress level was severe (16 respondents (30.8%), and the most common coffee consumption was poor (36 respondents (69.2%). Bivariate results showed an association between dietary patterns and the incidence of gastritis (p-value = 0.024 <0.005), stress levels with the incidence of gastritis (p-value = 0.001 <0.005), and coffee consumption with the incidence of gastritis (p-value = 0.000 <0.005). Conclusion: There is a relationship between dietary patterns, stress levels, and coffee consumption with the incidence of gastritis in patients in the internal medicine clinic.   Keywords: Coffee Consumption; Diet; Gastritis Incidence; Stress Level.   Pendahuluan: Gastritis merupakan gangguan kesehatan terkait proses pencernaan terutama lambung. Lambung bisa mengalami kerusakan jika sering kosong, karena lambung akan meremas hingga dinding lambung lecet dan luka, dengan adanya luka tersebut lambung akan mengalami proses inflamasi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan pola makan, tingkat stres, dan konsumsi kopi dengan kejadian Gastritis pada pasien di poli penyakit dalam. Metode: Jenis penelitian adalah kuantitatif, pendekatan cross-sectional, populasi penelitian berjumlah 60 pasien, sampel penelitian berjumlah 52 pasien, menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data uji chi-square. Hasil: Pengujian univariat menunjukkan pola makan pasien terbanyak pola makan kurang 23 responden (44.2%), tingkat stres pasien terbanyak stres berat 16 responden (30.8%), konsumsi kopi terbanyak konsumsi kopi buruk 36 responden (69,2%). Hasil bivariat menunjukkan pola makan dengan kejadian Gastritis (p-value = 0,024<0,005), tingkat stres dengan kejadian Gastritis (p-value = 0,001<0,005), konsumsi kopi dengan kejadian Gastritis (p-value = 0,000<0,005). Simpulan: Ada hubungan pola makan, tingkat stres dan konsumsi kopi dengan kejadian Gastritis pada pasien di poli penyakit dalam.   Kata Kunci: Kejadian Gastritis; Konsumsi Kopi; Pola Makan; Tingkat Stres.  
PENINGKATAN PENGETAHUAN KESEHATAN MENTAL PADA SISWA SMP NEGERI 1 KABILA BONE DESA BINTALAHE Marisa Lestary Dondo; Ramly Abudi; Reinaldi Julfirman Saleh
Jurnal Pengabdian Kesehatan Masyarakat Vol 7, No 1 (2026): Mei: Jurnal Pengabdian Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/jpkm.v7i1.38427

Abstract

Kesehatan mental remaja merupakan aspek penting yang memengaruhi perkembangan emosional, sosial, dan akademik siswa. Namun, rendahnya tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan mental masih menjadi masalah di sekolah. Situasi ini menuntut kegiatan pendidikan sebagai langkah promosi dan pencegahan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan mental di kalangan siswa SMP Negeri 1 Kabila Bone, Desa Bintalahe. Metode yang digunakan adalah sosialisasi dan pendidikan kesehatan mental dengan desain evaluasi pre-test dan post-test. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner benar-salah yang terdiri dari 10 pernyataan yang dibagikan sebelum dan sesudah penyampaian materi. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 9 Desember 2025, melalui ceramah interaktif, diskusi, pemutaran video edukatif, dan permainan edukatif. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan siswa setelah kegiatan sosialisasi, yang ditunjukkan dengan peningkatan pemahaman tentang semua indikator kesehatan mental, seperti peran pikiran yang sehat, manajemen stres, hubungan sosial, dan pentingnya mencari pertolongan. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah sosialisasi kesehatan mental efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan mental di kalangan siswa SMP. Program ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan kegiatan pendidikan kesehatan mental yang berkelanjutan di lingkungan sekolah.