Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Hubungan Antara Usia, Anemia Dan Paritas Dengan Kejadian Komplikasi Pada Ibu Melahirkan di Rsia Sitti Khadijah Kota Gorontalo: The Relationship Between Age, Anemia, and Parity with the Incidence of Complications in Mothers Giving Birth at the Sitti Khadijah Hospital in Gorontalo City Mutiara Fadillah Hadju; Laksmyn Kadir; Yasir Mokodompis
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Agustus 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i8.8458

Abstract

Permasalahan yang cukup besar di Indonesia adalah Angka Kematian Ibu yang cukup tinggi. Tingginya AKI di Indonesia terkait dengan banyak faktor, diantaranya kualitas perilaku ibu hamil yang tidak memanfaatkan Antenatal Care (ANC) pada pelayanan kesehatan, sehingga kehamilannya berisiko tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara usia, anemia, dan paritas dengan kejadian komplikasi pada ibu melahirkan di RSIA Siti Khadijah Kota Gorontalo. Jenis penelitian survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh ibu melahirkan di RSIA Siti Khadijah Kota Gorontalo, pada bulan Januari 2025 berjumlah 218 orang, sampel penelitian sebanyak 141 ibu melahirkan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik accidental sampling. Analisis data menggunakan uji statistic Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara usia dengan kejadian komplikasi ibu melahirkan di Rsia Sitti Khadijah Kota Gorontalo (p-value 0,000.). Ada hubungan antara anemia dengan kejadian komplikasi pada ibu melahirkan di Rsia Sitti Khadijah Kota Gorontalo (p-value 0,000). Tidak ada hubungan antara paritas dengan kejadian komplikasi pada ibu melahirkan di Rsia Sitti Khadijah Kota Gorontalo (p-value 0,947) Diharapkan untuk menambahkan beberapa variabel lainnya yang belum diteliti pada penelitian ini yang berhubungan dengan kejadian komplikasi. Sehingga semakin banyak faktor lain yang mampu mempengaruhi kejadian komplikasi.
Hubungan Karakteristik Individu Dan Lama Paparan UAP BBM Dengan Gangguan Pernapasan Pada Operator SPBU Kota Gorontalo: The Relationship Between Individual Characteristics and Duration of Exposure to Fuel Vapors and Respiratory Disorders in Gas Station Operators Gorontalo City Tasya Karim; Laksmyn Kadir; Putri Ayuningtias Mahdang
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - September 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i9.8598

Abstract

Paparan uap Bahan Bakar Minyak (BBM) di lingkungan kerja SPBU berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan. Masalah yang sering terjadi pada SPBU terutama masalah kesehatan yaitu: paparan uap BBM, paparan debu dan polusi udara, paparan suara bising, paparan sinar matahari langsing, cedera fisik, kurangnya penggunaan APD. Masalah ini dapat mengganggu kesehatan operator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik individu (usia, indeks massa tubuh/IMT, dan masa kerja) serta lama paparan uap BBM dengan gangguan pernapasan pada operator SPBU di Kota Gorontalo. Desain penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 85 responden yang dipilih secara acak dari 8 SPBU. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pengukuran kapasitas paru menggunakan peak flow meter. Hasil analisis bivariat dengan uji Spearman menunjukkan adanya hubungan signifikan antara usia (P-value = 0,000), IMT (P-value = 0,016), masa kerja (P-value = 0,001), dan lama paparan uap BBM (P-value = 0,002) dengan gangguan pernapasan. Sebagian besar responden memiliki kapasitas paru yang menyempit (50–100%) dan mengalami keluhan pernapasan. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengelolaan risiko paparan uap BBM dan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara optimal di SPBU. Saran penelitian, melakukan pengecekan kesehatan secara berkala dapat menjadi sebuah pencegahan kesehatan bagi operator SPBU.
Analisis Bahaya, Risiko, Dan Pencegahan Kecelakaan Kerja Menggunakan Metode Preliminary Hazard Analysis (PHA) Pada Pekerjaan Mechanical, Electrical, And Plumbing (MEP) Di Citra Mutiara-Nindya Beton KSO: Analysis of Hazards, Risks, and Prevention of Work Accidents Using the Preliminary Hazard Analysis (PHA) Method in Mechanical, Electrical, and Plumbing (MEP) Work at Citra Mutiara-Nindya Beton KSO Wina Ratri A. Ismail; Laksmyn Kadir; Ayu Rofia Nurfadillah
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - September 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i9.8735

Abstract

MEP merupakan pekerjaan yang memiliki risiko serta bahaya yang lebih tinggi dikarenakan melibatkan sistem mekanis, kelistrikan, dan perpipaan yang saling berintegrasi. Hasil wawancara awal di Citra Mutiara-Nindya Beton KSO terdapat kecelakaan kerja ringan seperti tertusuk paku, tersandung material, tergores, dan terjatuh pada lubang yang digali saat malam hari karena kurangnya pencahayaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bahaya, risiko, dan pencegahan kecelakaan kerja dengan menggunakan metode Preliminary hazard analysis (PHA) pada pekerjaan di Citra Mutiara-Nindya Beton KSO. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang tujuannya untuk menganalisis bahaya, risiko dan pencegahan kecelakaan kerja di Citra Mutiara-Nindya Beton KSO dengan menggunakan metode Preliminary Hazard Analysis (PHA). Subjek penelitian ini adalah 1 orang HSE, 3 orang pekerja yang bekerja pada bidang Mechanical, electrical, and plumbing (MEP) dan 1 orang penanggung jawab yang ada di bidang MEP. Hasil penelitian menunjukkan bahaya yang paling banyak pada pekerjaan ini adalah bahaya fisik. Risiko yang paling banyak adalah tertimpa material, dengan kategori very high. Pecengahaan kecelakaan kerja dengan melakukan pengendalian eliminasi, subtitusi, pengendalian administratif, pengendalian teknik, dan menggunakan APD. Disarankan untuk pekerja MEP harus memiliki kesadaran tinggi terhadap potensi bahaya di lingkungan kerja, penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), serta partisipasi aktif dalam setiap briefing keselamatan.