Kajian desain pembelajaran dalam literatur pendidikan Indonesia masih didominasi pendekatan prosedural yang mengabaikan dimensi filosofis dan kontekstual, terutama pada Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menuntut bukan hanya penguasaan kognitif tetapi juga pembentukan akhlak; pendidik PAI cenderung mengadopsi model desain pembelajaran secara seragam tanpa mempertimbangkan kesesuaian asumsi teoretisnya dengan tujuan pendidikan Islam yang holistik-transformatif. Artikel ini bertujuan mengisi kesenjangan tersebut melalui kajian sistematis terhadap lima teori belajar (behaviorisme, kognitivisme, konstruktivisme, humanisme, konektivisme) dan empat model desain pembelajaran utama (ADDIE, Dick and Carey, ASSURE, Kemp), sekaligus merumuskan model paling relevan bagi pendidik PAI di era digital. Penelitian menggunakan pendekatan library research dengan analisis isi kualitatif terhadap 28 sumber pustaka terseleksi, membandingkan struktur prosedural, orientasi evaluatif, basis epistemologis, dan konteks aplikasi ideal setiap model. Hasil analisis menunjukkan bahwa setiap model memiliki keunggulan dan keterbatasan kontekstual spesifik sehingga tidak ada model yang unggul secara universal; pendekatan eklektik yang mengintegrasikan kerangka prosedural ADDIE dengan prinsip konstruktivisme dan humanisme dinilai paling sesuai untuk PAI, disertai penguatan literasi digital kritis melalui perspektif konektivisme. Kontribusi utama artikel ini adalah kerangka konseptual bagi pendidik PAI dalam memilih dan mengadaptasi model desain pembelajaran secara kontekstual, serta sintesis teoretis yang memperkaya pengembangan kurikulum PAI pada jenjang menengah dan tinggi.