This Author published in this journals
All Journal Syntax Idea
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Pengukuran Pemahaman Bencana Geologi dan Hidrometeorologi, Khususnya Banjir, di SMK Migas Balongan Tahun 2026 Arief Rahman; Warto Utomo; Desi Kusrini; Pupung Syaeful Rohman; Adrian Indarti
Syntax Idea Vol. 8 No. 8 (2026): Syntax Idea
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/syntaxidea.v8i8.15007

Abstract

Hampir semua area di Indonesia rawan terkena bencana geologi dan hidrometeorologi. Kabupaten Indramayu merupakan satu dari sekian area pesisir utara Jawa Barat dengan tingkat kerentanan tinggi untuk berbagai jenis bencana alam. Penelitian ini dilakukan tanggal 4 Februari 2026 sebagai pembaharuan dari penelitian serupa di tahun 2018 yang mana bertujuan untuk mengukur ulang pemahaman menganai potensi bencana geologi dan hidrometeorologi, khususnya banjir, sekaligus edukasi terhadap terhadap siswa dan guru/tendik di SMK Migas Balongan, Kabupaten Indramayu. Metode penelitian yang digunakan adalah penyuluhan dan pengisian angket / kuisioner, dengan 34 responden. Hasilnya adalah penelitian tahun 2026 ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan  atau pemahaman dari para responden di instansi yang sama mengenai BNPB, BPBD, dan Buku Saku BNPB, dibanding jawaban responden sebelumnya tahun 2018. Potensi bencana terbesar di Indramayu adalah banjir (100% dipilih responden), hal ini sejalan dengan data BNPB tahun 2021 bahwa Indramayu merupakan area terluas di Jawa Barat yang berpotensi terjadi banjir. Masih cukup banyak responden (38%) memilih potensi tsunami di Indramayu mendandakan masih kurangnya pengetahuan mengenai bencana tersebut, sehingga perlu dilakukan program ini di masa yang akan datang. Responden memahami perbedaan terjadinya banjir di Indrmayu dan Jakarta, disebabkan oleh faktor utama yang berbeda. Di Indramayu, curah hujan tinggi tidak mampu ditampung terutama karena topografi Indramayu yang sangat landai. Sedangkan di Jakarta disebabkan karena faktor penurunan tanah.