Sofiyatus Soleha
Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Wali Songo Situbondo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konstruksi Kesalihan Sebagai Peneguhan Domestikasi Perempuan Dalam Tafsir Audiovisual (Analisis Kontekstualisasi Qs. An-Nisa’ Ayat 34 Dalam Interpretasi Yufid.Tv) Sofiyatus Soleha; Ifadah Ifadah; Haizumiah Haizumiah
Al-Bayan: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Hadist Vol 9 No 2 (2026): Juni
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35132/albayan.v7i2.1179

Abstract

Until now on, women are still constructed as weak creatures and behind men. This is because the developing culture in our society has a very strong patriarchal side, where restricting the women’s movements in expressing themselves. In addition, existing religious doctrines also lead to the discourse that women who are outside the home deviate from Islamic law. This restriction of women's actions is often based on embedding the identity of women’s piety (salihah). One of them is done by Yufid.TV in his interpretation of QS. An-Nisa: 34 that a salihah is a woman who obeys her husband and stays at home. This paper is a netnographic study of women's piety discourse on Indonesian social media. So the transcendent focus in this study is to unravel how the discourse of women's piety is shaped by Yufid.TV through its interpretation of QS. An-Nisa': 34. Next, contextualize the verse by reviewing its relevance to the issues brought to the contemporary context. Using descriptive-critical analysis, this study shows that the discourse of piety is formed through its understanding of QS. An-Nisa': 34 comes to the meaning that women are responsible for obeying and serving their husbands, so they must be in the house. The construction is believed to be a form of textual understanding of the Qur’an. So that, this piety discourse reflects on the patriarchal mindset, they are an attempt to make the existence of women in the domestic sector only.
Dimensi Filosofis Ketuhanan dalam Sila Pertama Pancasila: Analisis Teoretis atas Tafsir Al-Maraghi Sofiyatus Soleha; Putri Nurmayanti
Al-Qolam: Jurnal Ilmu Al-Quran dan Tafsir Vol. 2 No. 1 (2025): JUNI
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Wali Songo Situbondo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, menempati posisi fundamental sebagai landasan filosofis bangsa Indonesia. Sila ini mengandung makna tauhid yang diyakini sebagai sumber nilai dan norma, serta menegaskan prinsip tauhid sebagai dasar kehidupan berbangsa. Prinsip ini tidak hanya mengatur hubungan vertikal manusia dengan Tuhan, tetapi juga menata hubungan horizontal manusia dengan sesamanya. Dengan demikian, sila pertama menjadi sumber etika, moral, dan nilai-nilai kemanusiaan yang menopang keadilan, persatuan, serta kehidupan sosial yang harmonis. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research), berfokus pada penafsiran Ahmad Musthafa Al-Maraghi. Melalui analisis terhadap Surah Al-Ikhlas (1–4), Al-Baqarah (163), dan Al-Baqarah (255), ditemukan bahwa konsep tauhid dalam Tafsir Al-Maraghi tidak hanya menekankan dimensi transendental, tetapi juga memiliki implikasi sosial yang nyata. Secara garis besar, hasil penelitian menunjukkan adanya relevansi antara ajaran tauhid menurut Al-Maraghi dan falsafah sila pertama Pancasila, di mana konsep Ketuhanan dipahami tidak hanya sebagai keyakinan teologis, tetapi juga sebagai dasar etis bagi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.