Putri Syakirah Wira Ibrahim
Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERBANDINGAN PERSEPSI POLA ASUH PADA MAHASISWA GORONTALO DAN SULAWESI UTARA Zulkarnain Antu; Fendi Ntobuo; Alya Kemala Shopianti Talipi; Elma Tiara Anwar; Elsya Salsabila Lahati; Nazla Septiani Pahrun; Putri Syakirah Wira Ibrahim; Trifani Rifai; Meysi Kiki Lay Barreto Pinto
Elsia: Jurnal Psikologi Manusia Vol 5, No 1 (2026): Vol 5, No 1 (2026): April 2026
Publisher : program studi psikologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31314/jpm.5.1.1-14.2026

Abstract

Parenting studies in Indonesia often treat culture as a descriptive background rather than an empirically tested context. This study compared university students’ perceptions of authoritarian, authoritative, and permissive parenting across two regional-cultural backgrounds: Gorontalo and North Sulawesi. A cross-sectional quantitative comparative design was employed. Participants were 117 first-year students at Universitas Muhammadiyah Gorontalo, comprising 82 students from Gorontalo and 35 from North Sulawesi, recruited non-probabilistically according to predefined eligibility criteria. Data were collected using an adapted four-point Likert version of the Parental Authority Questionnaire. Item analysis retained 20 of the original 29 items, and the composite score yielded a Cronbach’s alpha of .841. Group comparisons were conducted separately for each parenting dimension using independent-samples t tests, supplemented by Hedges’ g effect sizes. No evidence of group differences emerged for authoritarian parenting, t(115) = −0.189, p = .850, g = −0.038; authoritative parenting, t(115) = −1.652, p = .101, g = −0.331; or permissive parenting, t(115) = −1.146, p = .254, g = −0.230. When scores were standardized by the number of items, authoritative parenting had the highest mean endorsement in both groups. These findings indicate converging perceptions of parenting within this university sample, but they do not establish cultural equivalence. Unequal group sizes, the use of regional origin as a proxy for culture, and the absence of measurement-invariance testing limit the interpretation and generalizability of the results. Future studies should employ multisite sampling, assess cultural identification directly, and establish construct comparability before testing mean differences.
Pemanfaatan Air Kelapa Sebagai Bahan Baku Kecap Melalui Pelatihan Masyarakat Di Desa Panca Karsa I Desrika Talib; Putri Syakirah Wira Ibrahim; Nur Fadhillah Harun; Ratin R. Siondong; Egi Dia Sapitri Kulati; Pendiron Gire; Zahwa Nabilla Noe; Abdul Rahman Muksin; Moh Indra Bayu; Liskawati Dudi; Deswinta Maharani T. Dadi; Faradilaelestari Lumula; Moh Riski B. Nento
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air kelapa merupakan salah satu hasil samping pengolahan buah kelapa yang masih belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat, khususnya pada wilayah yang sebagian besar masyarakatnya mengolah kelapa menjadi kopra. Kondisi tersebut menyebabkan air kelapa berpotensi menjadi bahan yang kurang termanfaatkan. The study purpose. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan air kelapa menjadi produk kecap serta mengetahui tingkat penerimaan peserta terhadap produk yang dihasilkan. Materials and methods. Pembuatan kecap menggunakan 5 liter air kelapa, 1 kg gula merah khas Gorontalo, bawang putih, bawang merah, lengkuas, sereh, daun salam, dan garam. Proses pemasakan dilakukan selama 2–3 jam hingga diperoleh konsistensi kecap yang diinginkan. Metode kegiatan meliputi penyampaian materi, demonstrasi, praktik langsung pembuatan kecap, serta evaluasi melalui pre-test, post-test, dan uji hedonik. Results. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa rata-rata nilai pengetahuan peserta meningkat dari 62,72 pada pre-test menjadi 94,54 pada post-test, dengan peningkatan sebesar 31,82 poin atau 50,71% dibandingkan dengan nilai rata-rata awal. Hasil uji hedonik menunjukkan rata-rata skor warna sebesar 4,00, aroma 3,82, rasa 4,09, dan kekentalan 3,68, dengan rata-rata keseluruhan sebesar 3,90. Conclusions. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan peserta sekaligus memperkenalkan alternatif pemanfaatan air kelapa menjadi produk pangan yang memiliki nilai tambah.