Beberapa kejadian longsoran telah dilaporkan akibat keberadaan bedding shear, yaitu lapisan yang tersusun atas laminasi yang mengalami pergeseran (sheared lamination) dan batulempung karbonan (carbonaceous mudstone) yang berasosiasi dengan rembesan air ke dalam lapisan tersebut. Bidang diskontinuitas yang terbentuk menciptakan bidang lemah yang berpotensi menjadi bidang gelincir sehingga memicu terjadinya longsoran. Material penyusun lereng pada lokasi penelitian terdiri atas batupasir, batulempung, serpih berlaminasi, batulanau, dan batubara. Lereng memiliki bidang diskontinuitas berupa bidang perlapisan dan kekar. Geometri lereng tunggal pada lokasi penelitian memiliki tinggi sekitar ±17 m dengan sudut kemiringan 29°. Salah satu kejadian pergerakan massa batuan terjadi di PIT “X”, tepatnya dengan elevasi RL -160 hingga -174, yang disebabkan oleh keberadaan bedding shear pada lantai lapisan batubara (floor seam) T110. Analisis dilakukan menggunakan metode Direct Shear Strength Test (DST), Rock Mass Rating (RMR), serta metode Keseimban’gan Batas (Limit Equilibrium Method). Analisis Probability of Failure (PoF) dilakukan menggunakan perangkat lunak Slide 6.0 dengan menerapkan kriteria keruntuhan Mohr–Coulomb dan Generalized Hoek–Brown. Berdasarkan hasil analisis, pada lereng dengan sudut kemiringan 34° diperoleh Probability of Failure (PoF) sebesar 23%, sedangkan pada lereng dengan sudut kemiringan 64° diperoleh Probability of Failure (PoF) sebesar 17,5%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa keberadaan bedding shear memberikan pengaruh terhadap stabilitas lereng dan berpotensi menjadi bidang gelincir yang memicu terjadinya longsoran.