Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Produksi Briket dari Karbon Aktif Serbuk Kayu Mahoni melalui Variasi Temperatur Aktivasi untuk Energi Terbarukan Muhamad Taufik Ulhakim; Ade Suhara; Nafisa Rizki Maulida; Farah Nadira Noer; Bella Kharisma; Annissa Novalinda Al-Mi’raj; Rezki Diwanti Suci Lestari; Desti Martina
Jurnal Ilmiah Teknik dan Sains Vol. 4 No. 1 (2026): Agustus: Jurnal Ilmiah Teknik dan Sains (JITS)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat AKIPBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62278/jits.v4i1.143

Abstract

Limbah serbuk kayu mahoni (Swietenia mahagoni) memiliki kandungan karbon yang tinggi, tetapi pemanfaatannya sebagai bahan bakar padat bernilai tambah masih terbatas. Selain itu, hubungan antara temperatur aktivasi, struktur karbon, karakteristik proksimat, dan performa pembakaran briket belum banyak dikaji secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh temperatur aktivasi terhadap karakteristik karbon aktif berbasis serbuk kayu mahoni dan kualitas briket yang dihasilkan. Serbuk kayu dikarbonisasi, diimpregnasi menggunakan H3PO4 dengan rasio 1:3 (b/v), kemudian diaktivasi selama 2 jam pada temperatur 600, 700, dan 800 °C. Karbon aktif hasil aktivasi dikarakterisasi menggunakan X-ray diffraction (XRD), sedangkan briket yang dibuat dari karbon aktif tersebut diuji melalui analisis proksimat, pengukuran nilai kalor, laju pembakaran, dan lama pembakaran. Hasil XRD menunjukkan bahwa seluruh sampel karbon aktif memiliki struktur karbon amorf dengan puncak lebar pada 2θ sekitar 24-26° serta kecenderungan peningkatan keteraturan struktur pada temperatur aktivasi yang lebih tinggi. Peningkatan temperatur aktivasi dari 600 menjadi 800 °C menyebabkan penurunan kadar air briket dari 6,80% menjadi 3,70%, kadar zat terbang dari 25,80% menjadi 17,40%, dan laju pembakaran dari 0,113 menjadi 0,093 g/menit. Sebaliknya, peningkatan temperatur aktivasi menyebabkan kenaikan kadar abu dari 5,10% menjadi 10,20%, karbon terikat dari 62,30% menjadi 68,70%, nilai kalor dari 4.253 menjadi 4.768 kal/g, dan lama pembakaran dari 41,8 menjadi 54,9 menit. Dengan demikian, temperatur aktivasi 800 °C menghasilkan kinerja pembakaran terbaik, yaitu nilai kalor dan karbon terikat tertinggi, laju pembakaran terendah, serta durasi terpanjang, meskipun kadar abu meningkat.
MANAJEMEN WAKTU DAN SELF-REGULATED LEARNING: STUDI KORELASIONAL PADA MAHASISWA DALAM PERKULIAHAN METODE STATISTIK Farah Nadira Noer; Annissa Novalinda Al-Mi’raj; Bella Kharisma; Rezki Diwanti Suci Lestari
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i4.15035

Abstract

Self-Regulated Learning (SRL) refers to students’ ability in higher education to actively direct their learning processes through planning, monitoring, controlling, and evaluating learning strategies. Time management is an important aspect of learning regulation, particularly in learning contexts that require continuous management of tasks and practice activities. This study aimed to describe the levels of time management and SRL and to analyze the relationship between the two among students enrolled in a Statistics Methods course. The study employed a quantitative correlational design with a cross-sectional approach. The participants consisted of 53 students from the Textile Chemistry Study Program at Politeknik STTT Bandung, selected from a population of 86 students using voluntary response sampling. Data were collected through an online questionnaire administered at the end of the semester after the final examination, using a 4-point Likert scale consisting of 2 time-management items and 13 SRL items. The analysis included descriptive statistics, Pearson correlation, and Spearman correlation as a sensitivity analysis. The results showed that time management (M = 3.04; Md = 3.00; SD = 0.41) and SRL (M = 3.12; Md = 3.08; SD = 0.32) were both in the high category. Pearson correlation indicated a positive relationship between time management and SRL with a large effect size (r = 0.68; p < 0.001; 95% CI [0.51, 0.80]), while Spearman correlation also showed a significant positive relationship (ρ = 0.58; p < 0.001). The findings indicate that students with higher time-management scores tend to have higher SRL scores, without implying a causal relationship. The study highlights the importance of strengthening time management and learning regulation in statistics learning, particularly through time planning, progress monitoring, and distraction control. ABSTRAK Self-Regulated Learning (SRL) merupakan kemampuan mahasiswa dalam pendidikan tinggi untuk secara aktif mengarahkan proses belajarnya melalui perencanaan, pemantauan, pengendalian, dan evaluasi strategi belajar. Manajemen waktu merupakan salah satu aspek regulasi belajar yang penting, khususnya pada pembelajaran yang menuntut pengelolaan tugas dan latihan secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tingkat manajemen waktu dan SRL serta menganalisis hubungan antara keduanya pada mahasiswa dalam perkuliahan Metode Statistik. Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan potong lintang. Partisipan terdiri atas 53 mahasiswa Program Studi Kimia Tekstil, Politeknik STTT Bandung, yang dipilih dari populasi 86 mahasiswa menggunakan teknik voluntary response sampling. Data dikumpulkan melalui angket daring pada akhir semester setelah Ujian Akhir Semester menggunakan skala Likert 1–4, terdiri atas 2 item manajemen waktu dan 13 item SRL. Analisis mencakup statistik deskriptif, korelasi Pearson, dan korelasi Spearman sebagai analisis sensitivitas. Hasil menunjukkan bahwa manajemen waktu (M = 3,04; Md = 3,00; SD = 0,41) dan SRL (M = 3,12; Md = 3,08; SD = 0,32) berada pada kategori tinggi. Korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif antara manajemen waktu dan SRL dengan efek besar (r = 0,68; p < 0,001; 95% CI [0,51; 0,80]), sedangkan korelasi Spearman juga menunjukkan hubungan positif yang signifikan (ρ = 0,58; p < 0,001). Temuan menunjukkan bahwa mahasiswa dengan skor manajemen waktu lebih tinggi cenderung memiliki SRL yang lebih tinggi, tanpa mengindikasikan hubungan sebab-akibat. Implikasi penelitian menekankan pentingnya penguatan manajemen waktu dan regulasi belajar dalam pembelajaran statistik, terutama melalui perencanaan waktu, pemantauan progres, dan pengendalian distraksi.
PEMETAAN TINGKAT KESULITAN BELAJAR MAHASISWA DALAM PEMBUATAN POLA MANUAL PADA PROGRAM STUDI PRODUKSI GARMEN Annissa Novalinda Al-Mi’raj; Farah Nadira Noer; Bella Kharisma; Rezki Diwanti Suci Lestari
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i4.15146

Abstract

Manual pattern making remains a fundamental competency in garment production education despite the increasing adoption of CAD and three-dimensional visualization technologies in apparel design and manufacturing. This study aimed to map students’ learning difficulties in the Manual Pattern Practice 1 course and describe internal and external learning conditions as contextual profiles rather than causal determinants. A quantitative descriptive cross-sectional survey was conducted in the Garment Production Study Program at Politeknik STTT Bandung. The accessible population consisted of 45 students from three groups, all of whom were targeted for data collection using saturated sampling (total sampling). A total of 39 students provided complete responses, resulting in an 86.67% response rate. The initial instrument comprised 45 four-point Likert-scale items covering internal conditions, external conditions, and pattern-making competencies. Following item validity testing, 43 items were retained, with an overall Cronbach’s alpha of 0.802. Data were analyzed descriptively by considering the polarity of positively and negatively worded items. Within pattern transformation competency, difficulty in determining the sequence of pattern-development steps and adjusting developed patterns for garment-fragment construction each obtained a mean score of 2.85. After harmonizing score direction, the positively worded item concerning the ability to visualize pattern shapes yielded a difficulty-equivalent score of 2.54. Among internal conditions, perceived basic ability (M = 2.81) was relatively weaker than interest, motivation, and learning readiness, while external conditions were generally perceived positively. The findings indicate the need to strengthen procedural sequencing, visualization of the relationship between two-dimensional patterns and three-dimensional garment forms, gradual scaffolding, and formative assessment during pattern transformation. The gradual integration of manual and digital pattern-making activities may also support students’ readiness for evolving industry demands. ABSTRAK Pembuatan pola manual tetap menjadi kompetensi fundamental dalam pendidikan produksi garmen meskipun desain dan manufaktur pakaian semakin mengadopsi teknologi Computer-Aided Design (CAD) dan visualisasi tiga dimensi. Penelitian ini bertujuan memetakan kesulitan belajar mahasiswa dalam Mata Kuliah Praktikum Pola Manual 1 serta mendeskripsikan kondisi internal dan eksternal pembelajaran sebagai konteks pembelajaran, bukan sebagai determinan kausal. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei potong lintang di Program Studi Produksi Garmen, Politeknik STTT Bandung. Populasi terjangkau terdiri atas 45 mahasiswa dari tiga grup yang seluruhnya menjadi sasaran pengumpulan data melalui teknik sampling jenuh (total sampling). Sebanyak 39 mahasiswa memberikan respons lengkap sehingga tingkat respons mencapai 86,67%. Instrumen awal terdiri atas 45 pernyataan skala Likert empat poin yang mencakup kondisi internal, kondisi eksternal, dan kompetensi pembuatan pola. Sebanyak 43 butir dipertahankan setelah pengujian validitas butir, dengan konsistensi internal instrumen secara keseluruhan sebesar Cronbach’s alpha = 0,802. Data dianalisis secara deskriptif dengan memperhatikan polaritas pernyataan positif dan negatif. Pada kompetensi transformasi pola, kesulitan menentukan urutan langkah pengembangan pola dan menyesuaikan pola hasil pengembangan untuk pembuatan fragmen busana masing-masing memperoleh rerata 2,85. Setelah arah skor diseragamkan, butir positif mengenai kemampuan membayangkan bentuk pola memiliki skor kesulitan ekuivalen sebesar 2,54. Pada kondisi internal, kemampuan dasar (M = 2,81) relatif lebih lemah dibandingkan minat, motivasi, dan kesiapan belajar, sedangkan kondisi eksternal dipersepsikan relatif positif. Temuan menunjukkan perlunya penguatan pembelajaran pada urutan prosedural, visualisasi hubungan pola dua dimensi dan bentuk tiga dimensi, scaffolding bertahap, serta evaluasi formatif pada proses transformasi pola. Integrasi pembelajaran pola manual dan digital secara bertahap juga dapat mendukung kesiapan mahasiswa menghadapi tuntutan industri.