Era transformasi digital telah mengubah cara Generasi Z mengakses dan mengonsumsi pengetahuan keagamaan, khususnya melalui platform micro-video seperti TikTok dan Instagram Reels. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola konsumsi pengetahuan keagamaan Generasi Z pada platform micro-video serta dampaknya terhadap kualitas literasi keagamaan digital mereka. Pendekatan kuantitatif deskriptif digunakan dengan instrumen kuesioner daring yang disebarkan kepada responden berusia 18–26 tahun melalui survei “Spiritualitas Virtual Pemuda Indonesia”. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk menggambarkan distribusi frekuensi preferensi platform, durasi konten, motivasi akses, dan pola resolusi konflik informasi. Hasil penelitian mengungkap tiga temuan utama. Pertama, mayoritas responden memilih konten berdurasi 1–5 menit di TikTok dan Instagram Reels sebagai sumber utama literasi keagamaan mereka, mencerminkan karakteristik “Digital Native” yang mengedepankan efisiensi. Kedua, terdapat paradoks konsumsi di mana kepraktisan akses berbanding terbalik dengan kedalaman pemahaman, memunculkan fenomena literasi pragmatis dan fragmentasi pengetahuan akibat algoritma echo chamber. Ketiga, ketika menghadapi konflik informasi, sebagian besar responden tetap kembali pada otoritas tradisional seperti guru dan ustadz, menunjukkan bahwa teknologi micro-video belum mampu menggantikan peran pedagogi manusia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa transformasi digital membentuk pola literasi keagamaan baru yang lebih terfragmentasi, sehingga dibutuhkan model pembelajaran hybrid yang mengintegrasikan jangkauan media digital dengan bimbingan pendidik formal guna membangun literasi keagamaan Generasi Z yang kritis dan komprehensif.