Indonesia menempati peringkat kedua dengan beban Tuberkulosis (TB) tertinggi di dunia, dengan Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu penyumbang kasus terbesar. Kajian epidemiologi spasial pada tingkat fasilitas pelayanan kesehatan primer menjadi esensial. Penelitian ini dilakukan karena Kecamatan Sukoharjo masuk tiga besar wilayah dengan kasus TB tertinggi di Kabupaten Sukoharjo.. Pendekatan ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik penderita TB serta memetakan secara spasial kejadian TB di wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo berdasarkan indikator Incidence Rate (IR) dan Standardized Morbidity Ratio(SMR). Jenis penelitian ini adalah studi deskriptif retrospektif. Pengumpulan data menggunakan data sekunder dari rekam medis dan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) periode tahun 2023 hingga Kuartal 1 tahun 2026. Analisis data dilakukan secara univariat dan pemetaan spasial menggunakan software ArcGIS. Sebanyak 161 kasus TB ditemukan dengan puncak kejadian pada kuartal 1 tahun 2025. Kesimpulannya, karakteristik utama kasus TB di Puskesmas Sukoharjo adalah laki-laki usia produktif yang tidak bekerja dengan diagnosis TB Paru baru terkonfirmasi bakteriologis. Secara spasial, Kelurahan Combongan, Begajah, dan Dukuh menjadi zona merah dengan nilai IR dan SMR tertinggi Meskipun estimasi morbiditas secara makro lebih rendah dari rata-rata nasional (SMR < 1), pemetaan menunjukkan adanya disparitas kerentanan antar-kelurahan. Diperlukan optimalisasi penemuan kasus aktif (Active Case Finding). Abstract: Indonesia ranks second globally in Tuberculosis (TB) burden, with Central Java Province being one of the largest contributors to cases. Spatial epidemiological studies at the primary healthcare facility level have become essential. This study was conducted because Sukoharjo Sub-district ranks among the top three areas with the highest number of TB cases in Sukoharjo District. This approach aims to describe the characteristics of TB patients and spatially map the incidence of TB in the working area of Sukoharjo Public Health Center based on Incidence Rate (IR) and Standardized Morbidity Ratio (SMR) indicators. This research is a retrospective descriptive study. Data collection utilized secondary data from medical records and the Tuberculosis Information System (SITB) for the period from 2023 to Quarter 1 of 2026. Data analysis was performed univariately, and spatial mapping was conducted using ArcGIS software. A total of 161 TB cases were identified, with the peak incidence occurring in Quarter 1 of 2025. In conclusion, the main characteristics of TB cases at Sukoharjo Public Health Center are unemployed males of productive age with a diagnosis of bacteriologically confirmed new pulmonary TB. Spatially, Combongan, Begajah, and Dukuh urban villages became red zones with the highest IR and SMR values. Although the macro-level morbidity estimation is lower than the national average (SMR < 1), the mapping indicates a disparity in vulnerability across urban villages. An optimization of Active Case Finding is required.