Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Certification of Internal Auditors of OHS Management Systems for Supervisors In PT X Nur Ani; Maria Paskanita; Wartini Wartini; Farid Setyo Nugroho
IJECS: Indonesian Journal of Empowerment and Community Services Vol. 6 No. 1 (2025): IJECS: Indonesian Journal of Empowerment and Community Services
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/ijecs.v6i1.6467

Abstract

ABSTRAK The internal auditor certification of the K3L management system should not be underestimated, considering the vital role played by supervisors in the direct supervision of company operations. Based on a preliminary survey, PT X is a company that assembles solar panels to be marketed domestically and abroad. In 2023, PT X carried out ISO 9001, ISO 14001, and ISO 45001 certification audits, but in the audit process, it was found that there had been no certification activities and appointment of an internal auditor team. The purpose of this internal auditor certification activity is to enhance the company's image and the quality of internal auditors through internal audit certification activities aimed at supervisors, thereby improving the effectiveness of supervision in the workplace. Methodology: Internal audit certification training activities for ISO 9001, ISO 14001, and ISO 45001. Targets for all Supervisors at PT X, Scientific Publications with IKU 2 and IKU 3. PkM activities include 6 stages of activities, starting with 1) Licensing and Coordination with partners, 2) Preparation of Timeline, 3) Making materials, 4) Implementation of certification, 5) Evaluation and preparation of RTL, and 6) Preparation of PkM outputs and reports. The activity was carried out on January 8, 2025,  with 15 participants in the PT meeting room. X. The results of the ISO auditor training and certification activities showed that 100% of participants could conduct observations and interviews. Participants also can find deviations and prepare NCRs according to PLOR standards by 80%. Meanwhile, the ability to make reports and NCRs still needs to be improved, which is only 67%. This community service activity concludes that a prospective internal auditor must be able to observe, interview, detect non-conformities, and be able to make audit reports, and be able to fill in the internal audit log register.
HUBUNGAN LAMA KERJA DAN POSTUR KERJA DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA BAGIAN SEWING PT MAJU ABADI GARMENT Fer Dila Widyatama; Wartini Wartini; Nur Ani; Farid Setyo Nugroho
JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama Vol 13, No 3 (2025): JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama
Publisher : Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jkm.v13i3.2824

Abstract

Nyeri punggung bagian bawah (low back pain/LBP) merupakan salah satu keluhan muskuloskeletal yang umum terjadi pada pekerja, khususnya di sektor garmen yang mengharuskan duduk dalam waktu lama. Postur kerja yang kurang ergonomis serta lamanya durasi bekerja diduga menjadi penyebab utama munculnya keluhan tersebut. Survei pendahuluan terhadap 10 pekerja bagian sewing  PT Maju Abadi Garment Sukoharjo menunjukkan 70% mengalami keluhan LBP, terutama pada punggung bawah dan pinggang akibat postur membungkuk, kursi tanpa sandaran, meja kerja yang tidak ergonomis, serta jam kerja panjang yaitu 8 jam ditambah lembur 2 jam per hari. yang memperpanjang paparan terhadap posisi kerja statis. Penilaian Rapid Entire Body Assessment (REBA) juga menegaskan bahwa sebagian besar pekerja berada pada kategori risiko tinggi. Penelitian ini dilakukan untuk menelaah keterkaitan antara durasi kerja dan posisi kerja dengan keluhan nyeri punggung bawah (LBP) pada pekerja di bagian jahit. Pendekatan yang digunakan adalah observasional analitik dengan desain cross-sectional terhadap 60 responden yang dipilih melalui total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dan observasi postur kerja melalui metode REBA, lalu dianalisis dengan uji chi-square pada tingkat signifikansi 0,05. Hasil menunjukkan bahwa 75% responden mengalami LBP, 83,33% bekerja lebih dari 8 jam per hari, dan 71,67% memiliki postur kerja yang tidak ergonomis. Analisis juga menemukan adanya hubungan yang signifikan antara durasi kerja (p = 0,002) dan postur kerja (p = 0,012) dengan keluhan LBP. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa durasi kerja berlebih dan postur kerja yang tidak ergonomis berkontribusi besar terhadap kejadian LBP, sehingga diperlukan intervensi ergonomis melalui perbaikan fasilitas kerja, pengaturan waktu kerja, dan edukasi postur kerja yang benar untuk mencegah dampak kesehatan jangka panjang.
Efektivitas Video Edukasi terhadap Pengetahuan dan Keterampilan Kader Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Mojolaban Rima Very Prasetyaningrum; Titik Haryanti; Farid Setyo Nugroho; Prita Devy Igiany
Sehat Rakyat: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2026): Agustus 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Penelitian Pengabdian Algero

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54259/sehatrakyat.v5i3.7843

Abstract

Community-Based Health Efforts (UKBM) such as Integrated Service Post (Posyandu) improve public health through promotive and preventive measures. The Posyandu cadre evaluation in Plumbon Village, under the Mojolaban Community Health Center, found that all cadres were still Purwa, with poor knowledge and competence in 25 fundamental cadre competencies. The constraints of traditional learning approaches contribute to inadequate cadre competency enhancement. This research examines how instructional video media improves Posyandu cadres' 25 fundamental cadre competencies. A quantitative pre-experimental one-group pretest-posttest design was adopted in this investigation. The research sample included 46 Plumbon Village Posyandu cadres chosen using total sampling. Health education was provided via videos and talks. Knowledge and skills questionnaires were used before and after the session. The Wilcoxon Signed Rank Test was used for univariate and bivariate data analysis. Posttest scores increased for all cadres compared to pretest. The Wilcoxon test showed a significant difference between pretest and posttest scores (p < 0.05). This shows that instructional video media improves Posyandu cadres' knowledge and abilities. Video helps people grasp and retain knowledge by presenting it visually and audibly.
Pemetaan spasial kasus TBC di wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo Nandya Hayuningtyas; Dewi Puspito Sari; Farid Setyo Nugroho; Prita Devy Igiany
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 19 No. 2 (2026): Article in Progress
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v19i2.3415

Abstract

Indonesia menempati peringkat kedua dengan beban Tuberkulosis (TB) tertinggi di dunia, dengan Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu penyumbang kasus terbesar. Kajian epidemiologi spasial pada tingkat fasilitas pelayanan kesehatan primer menjadi esensial. Penelitian ini dilakukan karena Kecamatan Sukoharjo masuk tiga besar wilayah dengan kasus TB tertinggi di Kabupaten Sukoharjo.. Pendekatan ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik penderita TB serta memetakan secara spasial kejadian TB di wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo berdasarkan indikator Incidence Rate (IR) dan Standardized Morbidity Ratio(SMR). Jenis penelitian ini adalah studi deskriptif retrospektif. Pengumpulan data menggunakan data sekunder dari rekam medis dan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) periode tahun 2023 hingga Kuartal 1 tahun 2026. Analisis data dilakukan secara univariat dan pemetaan spasial menggunakan software ArcGIS. Sebanyak 161 kasus TB ditemukan dengan puncak kejadian pada kuartal 1 tahun 2025. Kesimpulannya, karakteristik utama kasus TB di Puskesmas Sukoharjo adalah laki-laki usia produktif yang tidak bekerja dengan diagnosis TB Paru baru terkonfirmasi bakteriologis. Secara spasial, Kelurahan Combongan, Begajah, dan Dukuh menjadi zona merah dengan nilai IR dan SMR tertinggi Meskipun estimasi morbiditas secara makro lebih rendah dari rata-rata nasional (SMR < 1), pemetaan menunjukkan adanya disparitas kerentanan antar-kelurahan. Diperlukan optimalisasi penemuan kasus aktif (Active Case Finding).   Spatial mapping of TB cases in the catchment area of the Sukoharjo Community Health Centre   Abstract: Indonesia ranks second globally in Tuberculosis (TB) burden, with Central Java Province being one of the largest contributors to cases. Spatial epidemiological studies at the primary healthcare facility level have become essential. This study was conducted because Sukoharjo Sub-district ranks among the top three areas with the highest number of TB cases in Sukoharjo District. This approach aims to describe the characteristics of TB patients and spatially map the incidence of TB in the working area of Sukoharjo Public Health Center based on Incidence Rate (IR) and Standardized Morbidity Ratio (SMR) indicators. This research is a retrospective descriptive study. Data collection utilized secondary data from medical records and the Tuberculosis Information System (SITB) for the period from 2023 to Quarter 1 of 2026. Data analysis was performed univariately, and spatial mapping was conducted using ArcGIS software. A total of 161 TB cases were identified, with the peak incidence occurring in Quarter 1 of 2025. In conclusion, the main characteristics of TB cases at Sukoharjo Public Health Center are unemployed males of productive age with a diagnosis of bacteriologically confirmed new pulmonary TB. Spatially, Combongan, Begajah, and Dukuh urban villages became red zones with the highest IR and SMR values. Although the macro-level morbidity estimation is lower than the national average (SMR < 1), the mapping indicates a disparity in vulnerability across urban villages. An optimization of Active Case Finding is required.
Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Pembuatan Jus untuk Penderita Hipertensi di Desa Celep, Sukoharjo Bibit Irawan; Farid Setyo Nugroho; Fiqi Nurbaya
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 4 (2026): Edisi: Agustus-Oktober
Publisher : Pustaka Bangsa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi dikenal sebagai silent killer karena sering tidak menunjukkan gejala yang jelas, namun dapat menimbulkan komplikasi serius seperti stroke, penyakit jantung koroner, gagal jantung, dan gagal ginjal. Faktor gaya hidup tersebut merupakan penyebab utama meningkatnya prevalensi hipertensi di Masyarakat. Tujuan Pengabdian: peningkatan pengetahuan dan pembuatan jus untuk pencegahan Hipertensi. Pengabdian masyarakat ini menggunkan dua metode pendekatan: a) Pendidikan Masyarakat, dengan memberikan penyuluhan yang bertujuan meningkatkan pemahaman serta kesadaran terkait pencegahan penularan DBD b) Pelatihan, dengan menambahkan kegiatan yang disertai dengan demonstrasi atau percontohan untuk pembuatan jus seledri dan mentimun. Pelaksanaan sosialisasi Hipertensi didapatkan hasil bahwa pengetahuan masyarakat meningkat 10,5 point, semakin baik pengetahuan yang dimiliki masyarakat maka akan semakin baik pula cara masyarakat dalam menangani penyakit Hipertensi. Pemanfaatan sumber daya lokal seledri dan timun sebagai bahan baku pembuatan jus untuk menekan angka kasus Hipertensi. Kesimpulan: Pendekatan edukasi dan pelatihan yang terintegrasi dapat meningkatkan kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam pencegahan Hipertensi.