R. Caesario Boing Rachmat Raharjo
Politeknik Transportasi Darat Indonesia–STTD

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Evaluasi Kinerja Fasilitas Pelayanan Terminal Tipe A Pakupatan di Kota Serang Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) Mohamad Abyansyah; Kevin Tryputra Simbolon; Veronike Veronike; R. Caesario Boing Rachmat Raharjo
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.13308

Abstract

Terminal Tipe A Pakupatan di Kota Serang, Banten, melayani rata-rata 8.913 penumpang per hari, namun observasi lapangan terhadap 69 indikator Standar Pelayanan Minimum (SPM) sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 40 Tahun 2015 menunjukkan baru 51 indikator (73,9%) yang terpenuhi, dengan kategori Keamanan (40,0%) dan Keselamatan (58,8%) sebagai capaian terendah meskipun keduanya berkaitan langsung dengan perlindungan pengguna jasa. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja fasilitas pelayanan Terminal Pakupatan serta menentukan bobot prioritas enam kriteria SPM keselamatan, keamanan, kehandalan/keteraturan, kenyamanan, kemudahan/keterjangkauan, dan kesetaraan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Pendekatan mixed method digunakan, mengombinasikan analisis deskriptif data observasi lapangan dengan kuesioner perbandingan berpasangan yang disebarkan kepada pemangku kepentingan terminal, diolah secara manual melalui metode eigenvector dan divalidasi silang menggunakan aplikasi Expert Choice. Hasil AHP menunjukkan Keselamatan sebagai kriteria prioritas tertinggi (bobot 0,3024), disusul Keamanan (0,2514), Kehandalan/Keteraturan (0,1321), Kemudahan/Keterjangkauan (0,1240), Kenyamanan (0,1112), dan Kesetaraan (0,0789), dengan Consistency Ratio 0,0103 yang menunjukkan penilaian pemangku kepentingan konsisten. Temuan ini mengungkap kesenjangan penting: dua kriteria yang dinilai paling penting oleh pemangku kepentingan justru merupakan kategori dengan capaian pemenuhan SPM terendah di lapangan. Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian ini mengusulkan desain tata letak fasilitas konseptual berupa penempatan ulang pos keamanan, penambahan titik CCTV, jalur evakuasi, dan titik informasi terpadu, sebagai acuan bagi BPTD Kelas II Banten dalam memprioritaskan peningkatan pelayanan di Terminal Pakupatan.
Analisis Platform-Train Gap dan Tingkat Pelayanan Peron sebagai Dasar Peningkatan Keselamatan Penumpang di Stasiun Tebet Asya Yori Pavanda; Muhammad Aswandi; Siti Marlina Kumalasari; R. Caesario Boing Rachmat Raharjo
Indonesian Journal of Multidisciplinary on Social and Technology Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - Oktober
Publisher : PT Ilmu Data Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijmst.v4i3.13412

Abstract

Stasiun Tebet merupakan salah satu stasiun dengan aktivitas pergerakan penumpang yang cukup tinggi, khususnya pada periode jam sibuk. Tingginya aktivitas penumpang pada peron dapat memengaruhi tingkat kepadatan, kenyamanan, dan keselamatan dalam proses naik dan turun kereta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pelayanan (Level of Service/LOS) peron serta mengidentifikasi potensi risiko keselamatan akibat kondisi celah antara peron dan kereta di Stasiun Tebet. Metode penelitian dilakukan melalui observasi kondisi eksisting, pengumpulan data jumlah penumpang pada periode jam sibuk, pengukuran dimensi peron, serta analisis tingkat pelayanan berdasarkan kepadatan dan ruang efektif peron. Hasil analisis menunjukkan bahwa peron Stasiun Tebet memiliki tingkat pelayanan LOS D, yang menggambarkan kondisi kepadatan dengan ruang gerak penumpang yang mulai terbatas. Selain itu, hasil pengamatan menunjukkan adanya celah antara tepi peron dan pintu kereta sebesar 26 cm, yang berpotensi meningkatkan risiko kesalahan langkah dan kehilangan keseimbangan, terutama ketika terjadi kepadatan penumpang. Sebagai upaya mitigasi, dapat dilakukan optimalisasi plat bancik yang telah tersedia atau penambahan material karet pada tepi peron untuk membantu mengurangi jarak dan perbedaan elevasi pada area perpindahan penumpang. Penanganan kondisi peron perlu dilakukan secara terpadu dengan mempertimbangkan kepadatan penumpang, kondisi geometrik peron, serta aspek keselamatan agar proses naik dan turun kereta dapat berlangsung secara lebih aman, nyaman, dan lancar.