Megawati Romaulina Napitupulu
Universitas Maritim Raja Ali Haji

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Evaluation of The Drinking Water Management Program Using Seawater Reverse Osmosis Technology on Penyengat Island, 2022–2025 Megawati Romaulina Napitupulu; Eki Darmawan; Khairi Rahmi
Anthroposia: Journal of Social and Human Development Vol. 1 No. 3 (2026): : September: Anthroposia: Journal of Social and Human Development
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/chwzzp05

Abstract

The people of Penyengat Island face a shortage of clean water, which the government addresses through a clean water management program using Sea Water Reverse Osmosis technology to meet the island's clean water needs. The Technical Implementation Unit of the Public Works and Public Housing Office is responsible for the operation, maintenance, and rehabilitation of infrastructure related to SWRO management. This study aims to evaluate the implementation of the clean water management program using Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) technology, as well as the challenges faced in providing clean water on Penyengat Island. The research method used is descriptive qualitative, which serves to describe the reality of events occurring in the field for this study using primary and secondary data. Primary data is collected through observation and interviews. This research was carried out through direct observation at the Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) system operation site on Penyengat Island and interviews with informants from the Ministry of Public Works and Housing (PUPR) of Tanjungpinang City, the PUPR Office of Tanjungpinang City, BLUD UPTD SPAM, and the local community. Secondary data were obtained from the Mayor's regulations, legislation, scientific papers, program implementation reports, and the official website of Tanjungpinang City Government. Data collection was done through observation, interviews, and documentation, while analysis was conducted through data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Based on Pietrzak's Program Evaluation theory, the results show that the program is not yet optimal due to limitations in storage tanks, damaged distribution pipes, insufficient human resources, and limited operational budgets. These conditions have caused water distribution to not be able to occur 24 hours a day and it is still carried out on a rotation basis. Even so, the presence of SWRO services has improved people's access to clean water, so daily needs can be met better.
Strategi Pemerintah Dalam Menanggulangi Kasus HIV/AIDS Di Kepulauan Riau Siti Maulina Nabila; Megawati Romaulina Napitupulu; Putri Destiara Indah
Studia : Journal of Humanities and Education Studies Vol. 1 No. 1 (2025): August: Studia: Journal of Humanities and Education Studies
Publisher : CV Edukastra Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66749/15p2np57

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi pemerintah dalam menanggulangi kasus HIV/AIDS di Provinsi Kepulauan Riau yang memiliki karakteristik wilayah kepulauan, mobilitas penduduk yang tinggi, serta dinamika sosial yang kompleks. Permasalahan HIV/AIDS di wilayah ini terus menunjukkan tren yang perlu mendapat perhatian serius karena berkaitan erat dengan faktor perilaku berisiko, stigma sosial, serta keterbatasan akses layanan kesehatan di beberapa daerah. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi literatur dan analisis kebijakan dari berbagai sumber ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemerintah daerah telah menerapkan strategi yang meliputi penguatan layanan kesehatan, penyediaan terapi antiretroviral, edukasi masyarakat, skrining dini, serta kolaborasi lintas sektor dengan lembaga swadaya masyarakat, dunia usaha, dan komunitas rentan. Strategi tersebut didukung oleh kebijakan nasional serta peran aktif Komisi Penanggulangan AIDS di tingkat daerah. Namun demikian, implementasi kebijakan masih menghadapi tantangan berupa stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS, keterbatasan tenaga kesehatan, serta ketimpangan distribusi layanan antarwilayah. Faktor sosial ekonomi dan budaya juga memengaruhi efektivitas intervensi yang dijalankan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa upaya penanggulangan HIV/AIDS di Kepulauan Riau telah berjalan dalam kerangka kolaboratif, tetapi masih memerlukan penguatan koordinasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pendekatan berbasis komunitas agar strategi yang diterapkan mampu menekan laju penyebaran HIV/AIDS secara berkelanjutan.