Andi Baetal Mukaddas
Universitas Negeri Makassar, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PEMBUATAN LIPA’ SA’BE MANDAR DI DESA BONDE KECAMATAN CAMPALAGIAN KABUPATEN POLEWALI MANDAR SULAWESI BARAT Zulfandi Faisal; Andi Baetal Mukaddas; Roslyn
Harmoni: Jurnal Pemikiran Pendidikan, Penelitian Ilmu-ilmu Seni, Budaya dan Pengajarannya Vol 15 No 2 (2025): Harmoni Jurnal Pendidikan Dan Penelitian Seni Budaya
Publisher : Program Studi Pendidikan Seni Rupa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muham

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/cpn0s448

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor-faktor yang memengaruhi minat pengrajin dalam menenun sarung sutera Mandar (Lipa’ Sa’be Mandar) di Desa Bonde, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, di mana peneliti berperan sebagai instrumen utama yang didukung oleh instrumen pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembuatan sarung tenun melibatkan bahan dasar kapas yang diolah secara manual menjadi benang melalui beberapa tahapan, yaitu penggilingan, pemukulan, penguraian, dan pemintalan. Selain itu, digunakan berbagai alat tradisional dalam proses pembuatan benang dan penenunan, seperti pengait benang, kabulu, jangka, kambululi, gantara, kasombano mimita, kahuhu, bali'da, tendekura, kaanano uruwo, kakuci, katendua, papan, kagigisi, dan kusoli. Proses pembuatan sarung tenun meliputi tahapan benang, menghani, penyisiran, dan menenun. Kain tenun tradisional ini tidak hanya memiliki nilai ekonomis, tetapi juga berfungsi sebagai bagian penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Desa Bonde.
PEMANFAATAN LIMBAH ORGANIK UNTUK KARYA SENI KRIYA 2D OLEH SYAHBANI S. TOMALLAWANGAN DI MALINO Rabiatul Alawiya; Andi Baetal Mukaddas; Nurul Inayah Anis Kamah
Harmoni: Jurnal Pemikiran Pendidikan, Penelitian Ilmu-ilmu Seni, Budaya dan Pengajarannya Vol 16 No 1 (2026): Harmoni Jurnal Pendidikan Dan Penelitian Seni Budaya
Publisher : Program Studi Pendidikan Seni Rupa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muham

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/k59qfj44

Abstract

Kreativitas merupakan kemampuan dalam menciptakan karya seni yang memiliki nilai estetis dan makna. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pengolahan limbah organik serta teknik pembuatan karya seni kriya dua dimensi oleh Syahbani S. Tomallawangan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kreativitas Syahbani berawal dari pengalaman sederhana dalam membuat kolase berbahan organik, yang kemudian berkembang menjadi karya bertema potret wajah. Proses kreatifnya meliputi tiga tahap, yaitu inspirasi, pengolahan, serta penyelesaian dan dokumentasi. Teknik yang digunakan tergolong sederhana dengan memanfaatkan bahan organik yang mudah diperoleh dan tidak terpakai.
MAKNA SIMBOLIK ORNAMEN RAGAM HIAS RUMAH ADAT BALLA LOMPOA KABUPATEN BANTAENG (SUATU KAJIAN SENI RUPA) Ahmad Rifaldi; Andi baetal mukaddas; Muh Faisal
Harmoni: Jurnal Pemikiran Pendidikan, Penelitian Ilmu-ilmu Seni, Budaya dan Pengajarannya Vol 16 No 1 (2026): Harmoni Jurnal Pendidikan Dan Penelitian Seni Budaya
Publisher : Program Studi Pendidikan Seni Rupa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muham

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/rbp91y73

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna simbolik ornamen ragam hias pada rumah adat Balla Lompoa Bantaeng. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ornamen ragam hias pada Balla Lompoa Bantaeng memiliki makna simbolik yang mencerminkan fungsi personal, sosial, dan fisik. Secara personal, ornamen menjadi simbol doa dan harapan; secara sosial menunjukkan strata pemilik rumah; dan secara fisik berfungsi sebagai hiasan sekaligus representasi nilai sejarah. Selain itu, rumah adat ini juga memiliki fungsi konstruktif sebagai tempat tinggal yang dibangun dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan serta memperkuat nilai estetika bangunan.