Erupsiana Fitri Indrihapsari
RS PKU Muhammadiyah Surakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Wanita 62 Tahun dengan Stroke Infark Kardioemboli dan Edema Serebri Maharotullaili Nur Azizah; Erupsiana Fitri Indrihapsari
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stroke merupakan kondisi ditemukannya tanda-tanda klinis yang berkembang dengan cepat yaitu defisit neurologi fokal atau global yang terjadi dan semakin berat dalam 24 jam atau lebih serta mampu mengakibatkan kematian tanpa penyebab lain yang jelas selain vaskular. Stroke infark merupakan penyebab kematian terbesar kedua karena hilangya fungsi neurologis mendadak akibat gangguan fokal atau global pada aliran darah otak. Edema serebri adalah pembengkakan otak yang terjadi secara fokal atau difus karena akumulasi cairan dalam ruang intraseluler atau ekstraseluler otak yang meningkatkan tekanan kranial sehingga mendesak otak dan mengakibatkan fungsi yang tidak sesuai. Kami melaporkan pasien dengan stroke infark kardioemboli dan edema serebri dibuktikan dengan riwayat stroke, hipertensi, diabetes mellitus, pemeriksaan fisik berupa penurunan kesadaran, lateralisasi ke kiri, reflek babinski positif pada kedua kaki, parese nervus VII dekstra, nervus IX sinistra, dan nervus XII sinistra, serta pemeriksaan penunjang yang menunjukkan gula darah sewaktu yang meningkat dan CT-scan tampak infark lobus occipital sinistra dan capsula interna dextra serta atropi cerebri.
Cephalgia Kronis Et Causa Brain Tumor pada Pasien Pediatric Ichsan Novianto; Erupsiana Fitri Indrihapsari
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2025: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Trabec
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumor otak adalah sel-sel jaringan otak yang tumbuh secara abnormal yang asalnya dari otak maupun meningens, yang berupa tumor jinak maupun ganas yang membuat pendesakan desakan secara masif. Pendesakan bisa juga diakibatkan oleh edema di sekitar jaringan tumor sehingga terjadi peningkatan tekanan di daerah intracranial. Space occupying process (SOP) merupakan generalisasi adanya lesi pada ruang intracranial khususnya yang mengenai otak. Cephalgia merupakan gejala umum selama masa anak-anak, mempengaruhi 12,8% anak usia sekolah dan meningkat secara progresif menjadi 49% pada tahun-tahun remaja. Cephalgia mungkin merupakan gejala yang paling dikenal di antara gejala-gejala yang berhubungan dengan tumor otak dan pasien dengan cephalgia sering kali khawatir bahwa mereka mungkin memiliki neoplasma intrakranial. Kami melaporkan pasien anak perempuan berusia 12 tahun dengan diagnosis Cephalgia kronis et causa Brain Tumor yang dibuktikan pada anamnesis, pemeriksaan fisik didapatkan parese nervus VI sinistra dan nervus VII sinistra, UMN, serta pemeriksaan MRI didapatkan adanya massa pada frontoparietalis dextra. Diagnosis dapat ditegakkan lebih awal serta dapat dilakukan tindakan terapi yang sesuai dapat menurunkan angka mortalitas.
Paraparese Spastic Sub Akut Progresif Ec Spondilitis Tuberkulosa: Sebuah Laporan Kasus Arsely Aisyah; Erupsiana Fitri Indrihapsari
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2026: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gastro
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Spondilitis tuberkulosa (STB) merupakan bentuk TB ekstrapulmoner sering menyerang tulang belakang dan menyebabkan tetap ada defisit neurologis berupa paraparese hingga paraplegi. Risiko komplikasi meningkat jika terdapat deformitas struktural seperti skoliosis atau adanya trauma spinal yang tidak ditangani secara medis. Tujuan: Melaporkan kasus pada pasien dengan spondilitis TB yang disertai skoliosis dan riwayat trauma spinal, serta menyoroti pentingnya diagnosis dini dan tatalaksana multidisipliner. Laporan Kasus: Seorang pria 28 tahun dengan keluhan tidak dapat menggerakkan kedua tungkai setelah mengalami kebas dan kelemahan progresif pada ekstremitas bawah selama empat bulan, disertai gangguan buang air besar dengan riwayat skoliosis dan hernia nukleus pulposus (HNP) dengan pijat alternatif. Pemeriksaan MRI menunjukkan gambaran spondilitis TB dengan destruksi vertebra dan abses paravertebral yang menekan kanalis spinalis serta HNP. Pasien menjalani operasi dekompresi dan stabilisasi tulang belakang disertai terapi obat antituberculosis (OAT). Dua bulan pascaoperasi, pasien dapat berjalan dengan perbaikan fungsional bertahap. Kesimpulan: Diagnosis dan intervensi dini pada spondilitis TB sangat krusial untuk mencegah kecacatan neurologis permanen. Keluhan paraparese dengan riwayat trauma dan deformitas harus menjadi perhatian klinisi, terutama di pelayanan primer. Dokter umum memiliki peran penting dalam mengenali gejala red flag dan melakukan rujukan tepat waktu.