Nur Zahratin Nafisah R
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Mengatasi Nature Deficit Disorder di Perkotaan: Integrasi Eco-Pedagogy dan SDGs dalam Kurikulum PAUD Berbasis Proyek Nur Zahratin Nafisah R; Selasi Priatiningsih
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 03 (2026): Volume 11 Nomor 03, September 2026 Public
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i03.56478

Abstract

Early childhood children residing in urban and semi-urban areas are increasingly isolated from natural environments, a sociological condition that triggers the phenomenon of Nature Deficit Disorder (NDD). This ecological alienation results in cognitive decline, stagnation of gross motor skills, deficits in social-emotional intelligence, and the emergence of phobic tendencies towards nature. This research aims to analyze and evaluate the effectiveness of integrating eco-pedagogy and the Sustainable Development Goals (SDGs) framework through a Project-Based Learning (PjBL) model implemented within the Kurikulum Merdeka (Emancipated Curriculum). This study utilizes a Classroom Action Research (CAR) design involving 15 early childhood students at TK Labschool IKIP PGRI Jember as research subjects. The research was conducted in two cycles focusing on empirical ecological projects, encompassing activities such as waste exploration, organic compost making, and direct interaction with the soil ecosystem. Performance evaluation was based on four primary indicator matrices: Cognitive-Ecological, Affective-Biophilia, Psychomotor-Outdoor, and Social-Emotional. The results demonstrate that the percentage of children achieving the criteria of Berkembang Sesuai Harapan (BSH - Developing as Expected) or higher surged from 0% in the Pre-Action phase to 100% by the end of Cycle II across all tested indicators. The discussion affirms that although the adaptation of motor skills and social relations progresses harmoniously in open spaces, deconstructing biophobia requires constant, repetitive sensory exposure, as well as intensive scaffolding from educators and peers. These empirical findings substantiate that the integration of eco-pedagogy does not merely increase interaction with nature; rather, it systematically provides a foundation of ecological literacy, independence, and citizenship character essential for achieving sustainable development from an early age.
Pembelajaran Bermain Berdiferensiasi di PAUD Inklusi: Studi Kasus Kesadaran Sosial dan Empati Anak di PAUD Terpadu Al-Furqan Jember Selasi Priatiningsih; Nur Zahratin Nafisah R
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 03 (2026): Volume 11 Nomor 03, September 2026 Posted
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i03.61460

Abstract

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berorientasi inklusi menghadapi tantangan pedagogis yang sangat kompleks dalam upaya memfasilitasi peserta didik yang memiliki kebutuhan, kesiapan belajar yang sangat beragam. Pendekatan pembelajaran berdiferensiasi yang diintegrasikan secara holistik dengan metode bermain sebagai solusi instruksional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan secara komprehensif implementasi pembelajaran berbasis bermain berdiferensiasi dalam menumbuhkan kesadaran sosial dan empati pada anak usia dini di PAUD inklusi. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, penelitian ini memusatkan subjek pada 15 anak usia dini di PAUD Terpadu Al-Furqan, Jember. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam dengan kepala sekolah dan pendidik, serta analisis dokumentasi terkait asesmen perkembangan sosial-emosional anak. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa implementasi diferensiasi melalui empat dimensi utama: modifikasi konten, diferensiasi proses, variasi produk, dan penataan lingkungan belajar yang responsif. Seluruh dimensi tersebut diaplikasikan dalam aktivitas bermain yang bermakna, secara khusus melalui metode bermain peran, bermain konstruktif dengan material loose parts, dan aktivitas kooperatif seperti kelas memasak. Temuan empiris mengindikasikan adanya transformasi yang signifikan pada dimensi kesadaran sosial ke-15 anak tersebut. Mereka mulai mampu memahami ragam perspektif, menghargai batas-batas personal, memahami isyarat komunikasi non-verbal dari teman berkebutuhan khusus, serta menunjukkan perilaku kepatuhan terhadap norma antrean. Lebih jauh, aspek empati berkembang pesat dalam tiga tahap: kognitif, afektif, dan perilaku prososial. Anak-anak mulai menunjukkan kepedulian, berbagi alat bermain, dan memberikan dukungan emosional kepada teman sebaya tanpa perlu instruksi langsung atau intervensi dari guru.