Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pertumbuhan Tanaman Rehabilitasi Hutan dan Lahan Periode 2019-2024 Di DAS Saddang (Factors Influencing The Success of Plant Growth in Forest and Land Rehabilitation in the Saddang Watershed from 2019 to 2024) : - Asikin Muchtar; Muh Bismar WWS; Wahyullah; Abd Kadir; Mahmud; Ummu Kultsum
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Manageme
Publisher : Asosiasi Peneliti dan Teknisi Kehutanan dan Lingkungan Hidup Indonesia (APTKLHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59465/jppdas.2025.9.2.223-244

Abstract

Forest and land rehabilitation is carried out annually to restore watershed conditions. In 2019, the BPDAS Jeneberang Saddang planted pine, candlenut, and sugar palm trees in Block 1 and 2, which cover ​​50 hectares each, in Rosoan Village, Enrekang District, Enrekang Regency, South Sulawesi Province. This study aims to determine the success rate and factors influencing the growth success of Forest and Land Rehabilitation (RHL) plant planted in 2019, and to determine the factors influencing their success. This study was a survei study. Data were collected through observations, interviews, and documentation. Data analysis were carried out using multiple linear regression with three independent variables: soil physical factors, soil chemistry, and socio-economic conditions. The results showed that the growth rate of pine (Pinus mercusii) was 36.36% (very low)  or 432 trees/ha, candlenut (Aleurites moluccana) was 42.7% (very low) or 470 trees/ha, and sugar palm (Arenga pinnata) was 39.2% (very low) or 400 trees/ha. Soil physical factors such as clay texture (68.13%), and the solum depth of 20–25 cm have a significant effect on plant growth (F count 14.866 > 2.810; t count 3.856 > 1.679; sig. 0.000). Additionally, soil chemical factors (F count 7.940; sig. 0.007) and community socio-economic factors (F count 18.143; sig. 0.000) also showed a significant effect. This study recommended that BPDAS actively involve the surrounding community in intensive maintenance and budget for plant maintenance cost to optimize plant growth.
TRANSFORMASI KELOMPOK TANI HUTAN (KTH) KOPI LABONGKE: PENGUATAN KEMASAN DAN BRANDING UNTUK MENINGKATKAN DAYA SAING PRODUK Wahyullah; Ummu Kultsum
Jurnal Food And Forest Vol. 4 No. 2 (2026): JULI 2026
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Indonesia Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36090/jfaf.v4i2.1655

Abstract

Kebutuhan kopi menunjukkan kecenderungan meningkat setiap tahun. KTH Kopi Labongke merupakan salah satu produk kopi Arabica yang memiliki peluang pengembangan pasar seiring meningkatnya permintaan terhadap produk kopi berkualitas dan praktis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan penjualan tiga jenis kemasan Kopi Labongke selama periode Januari 2021 – Januari 2023 serta mengidentifikasi jenis kemasan yang paling diminati berdasarkan tingkat penjualan. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan menganalisis data penjualan tiga jenis kemasan Kopi Labongke selama periode pengamatan. Analisis dilakukan dengan membandingkan perkembangan volume penjualan setiap jenis kemasan dari waktu ke waktu dan mengidentifikasi kecenderungan permintaan konsumen. Hasil analisis menunjukkan bahwa kemasan biji kopi (roast bean) ukuran 500 gram mengalami perkembangan penjualan yang paling tinggi dan menunjukkan kecenderungan peningkatan selama periode Januari 2021 – Januari 2023 dibandingkan dengan jenis kemasan lainnya. Tingginya permintaan terhadap kemasan roast bean berasal dari pelaku usaha kafe, termasuk UMKM, yang menggunakan biji kopi sebagai bahan baku untuk kegiatan operasional usahanya. Ukuran 500 gram dinilai lebih sesuai untuk kebutuhan pembelian dan penggunaan kopi secara rutin. Kemasan biji 500 gram merupakan produk yang paling banyak diminati dan memiliki potensi sebagai produk unggulan KTH Kopi Labongke. Temuan ini dapat menjadi dasar dalam menentukan strategi produksi, pengemasan, dan pemasaran Kopi Labongke sesuai dengan preferensi pasar.