Ferinda Rahma Mawadda
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Formulasi Makanan Enteral dengan Sumber Bahan Pangan Lokal Tinggi Branched Chain Amino Acids (BCAA) dari Labu Kuning dan Kecipir untuk Penderita Sirosis Hati Alya Aulia Rahma; Septilia Anggi Rahmawati; Lili Hernasari; Ferinda Rahma Mawadda; Faizah Zahrani; Farida Nur Isnaeni
Proceeding Seminar on Food and Dietetic 2025: Proceeding Seminar on Food and Dietetic
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Penderita sirosis hati sulit memenuhi kebutuhan gizi secara oral, sehingga berisiko mengalami malnutrisi, kehilangan massa otot rangka, penurunan kekuatan fisik, dan status gizi. Dibutuhkan makanan enteral yang diformulasikan khusus, seperti labu kuning dan kecipir yang kaya asam amino esensial untuk mempertahankan massa otot dan β-karoten sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kandungan gizi, viskositas, osmolalitas, daya alir, endapan, daya terima, dan biaya dari formula enteral berbasis labu kuning dan kecipir. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksperimental dengan 2 variasi perlakuan perbandingan persentase berat labu kuning dan kecipir yaitu LANCIP 1 (11:12) dan LANCIP 2 (12:11) yang kemudian dibandingkan dengan formula enteral komersial. Kandungan gizi dianalisis secara empiris. Viskositas diukur dengan viskometer, osmolalitas dengan osmometer, daya alir menggunakan NGT ukuran 14 fr, endapan diamati selama 3 jam, dan uji daya terima dilakukan oleh 15 panelis semi-terlatih dan dianalisis dengan uji kruskal-wallis. Hasil: Kandungan BCAA LANCIP 1 dan 2 lebih rendah 35,3% dari formula komersil. Nilai viskositas formula LANCIP 1 dan 2 berkisar 133,8-283,8 cP. Nilai osmolalitas formula LANCIP 1 dan 2 berkisar 398-450 mOsm/kg (formula komersil 415 mOsm/kg). Hasil daya alir pada formula LANCIP 1 dan 2 berkisar 0,81-2,33 cc/detik (formula komersil 1,78 cc/detik). Hasil uji endapan formula LANCIP 1 dan 2 yaitu setinggi 0,2 cm (formula komersil 0,3 cm). Hasil daya terima formula LANCIP 2 lebih disukai dibandingkan LANCIP 1, namun formula komersil masih unggul dalam semua aspek. Simpulan: Formula LANCIP 2 lebih direkomendasikan dibandingkan LANCIP 1 karena hasil uji mutu, daya terima, serta nilai gizi mendekati komersil.
Formula Enteral Blenderized untuk Diet Diabetes Melitus dengan Sumber Bahan Pangan Lokal Kacang Merah dan Labu Kuning (LAMERA) Lili Hernasari; Septilia Anggi Rahmawati; Ferinda Rahma Mawadda; Alya Aulia Rahma; Faizah Zahrani; Dyah Intan Puspitasari; Dwi Sarbini
Proceeding Seminar on Food and Dietetic 2025: Proceeding Seminar on Food and Dietetic
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Pada pasien diabetes melitus (DM) terjadi resistensi insulin. Pangan dengan indeks glikemik (IG) rendah dapat mencegah lonjakan gula darah pada penderita DM. Salah satu bahan makanan rendah IG yaitu kacang merah. Selain rendah IG juga mengandung serat yang dapat menurunkan respon insulin. Labu kuning mempunyai efek hipoglikemik dengan meningkatkan level serum insulin. Tujuan dari penelitian ini menganalisis kandungan gizi, food cost, viskositas, osmolalitas, daya alir, endapan dan daya terima formula enteral blenderized LAMERA. Metode: Metode penelitian ini eksperimental dengan menggunakan 2 formula dengan perbedaan komposisi pada bahan utama yang digunakan. Hasil: Hasil uji osmolalitas pada LAMERA 1 dan 2 yaitu 452 mOsmol/l dan 455 mOsmol/l. Viskositas pada LAMERA 1 dan 2 yaitu 85,6 cP dan 54,5 cP. Uji daya alir pada LAMERA 1 ukuran selang 12 french (fr) 0,24 cc/detik dan ukuran 14fr 0,84 cc/detik. pada LAMERA 2 selang 12fr 0,57 cc/detik dan ukuran 14fr 1,14 cc/detik. Hasil uji endapan pada LAMERA 1 selama 6 jam dihasilkan sebanyak 0,4 cm dan LAMERA 2 0,3 cm. Hasil organoleptik parameter warna, aroma, rasa, tekstur dan secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan antara formula LAMERA 1 dan LAMERA 2. Kesimpulan: Hasil penelitian nilai gizi, uji viskositas, uji endapan dan daya alir LAMERA 2 lebih baik dari LAMERA 1. Sedangkan berdasarkan uji organoleptik LAMERA 1 dan LAMERA 2 tidak terdapat perbedaan. LAMERA 1 dan 2 sudah memenuhi syarat untuk formula enteral.
Pemberian Enteral kepada Balita dengan Masalah Gizi Kurang dan Stunting (Studi Kasus di Wilayah Kerja Puskesmas Getasan) Ferinda Rahma Mawadda; Siti Zulaekah; Tutut Widiasmara
Proceeding Seminar on Food and Dietetic 2025: Proceeding Seminar on Food and Dietetic
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Balita yang mengalami masalah gizi seperti gizi kurang dan stunting perlu penambahan asupan makan. Salah satu yang dapat diberikan adalah blenderized formula. Blenderized formula yang tinggi energi dan protein dapat menambah asupan makan balita. Penelitian bertujuan untuk mengetahui perubahan status gizi balita setelah diberikan blenderized formula selama satu minggu.Presentasi Kasus: Sebanyak 5 balita dengan masalah gizi kurang dan stunting diberikan blenderized formula selama satu minggu. Blenderized formula terbuat dari ubi jalar kuning, dada ayam, kacang hijau, telur ayam, tepung maizena, tepung susu skim, minyak kelapa sawit, gula pasir, santan, dan sari buah naga. Blenderized formula diberikan satu kali dalam sehari sebanyak 100 ml. Terdapat satu balita yang mengalami kenaikan berat badan.Simpulan: Balita yang mengalami kenaikan berat badan sebesar 20%.