Abstract. The transition period from home to school is a critical phase that significantly influences a child's educational journey. The School Environment Introduction Program (MPLS) is designed as an intervention to facilitate this process, yet in-depth and holistic research examining its implementation remains limited. This study aims to comprehensively analyze the planning, implementation, and outcomes of the MPLS program in developing the adaptation skills of new students at a Raudhatul Athfal (RA). Using a qualitative approach with a case study method, data were collected through non-participant observation, semi-structured interviews with the principal and teachers, and document analysis at RA Al-Khoer, Bandung. Data validity was tested using source and technique triangulation. The findings identify three typologies of student adaptation: (1) fast and smooth adaptation, (2) gradual adaptation with intensive support, and (3) adaptation as a corrective emotional experience for students with negative school histories. The program's success is rooted in planning that builds an "ecological bridge" (mesosystem) between home and school, and a flexible, responsive implementation that effectively serves as pedagogical scaffolding and fulfills children's basic psychological needs for relatedness, competence, and autonomy. An effective MPLS program not only facilitates adaptation but can also function as a therapeutic intervention that repairs a child's perception of school and fosters internal motivation to learn. Abstrak. Masa transisi dari rumah ke sekolah merupakan periode kritis yang sangat memengaruhi perjalanan pendidikan anak. Program Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dirancang sebagai intervensi untuk memfasilitasi proses ini, namun penelitian yang mengkaji proses implementasinya secara mendalam dan holistik masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif proses perencanaan, pelaksanaan, dan hasil dari program MPLS dalam membangun kemampuan adaptasi peserta didik baru di sebuah Raudhatul Athfal (RA). Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi non-partisipan, wawancara semi-terstruktur dengan kepala sekolah dan guru, serta analisis dokumen di RA Al-Khoer, Bandung. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tipologi adaptasi siswa: (1) adaptasi cepat dan mulus, (2) adaptasi bertahap dengan dukungan intensif, dan (3) adaptasi sebagai pengalaman emosional korektif bagi siswa dengan riwayat sekolah negatif. Keberhasilan program ini berakar pada perencanaan yang membangun "jembatan ekologis" (mesosistem) antara rumah dan sekolah, serta pelaksanaan yang fleksibel dan responsif, yang secara efektif berfungsi sebagai perancah (scaffolding) pedagogis dan memenuhi kebutuhan psikologis dasar anak akan keterhubungan, kompetensi, dan otonomi. Program MPLS yang efektif tidak hanya memfasilitasi adaptasi, tetapi juga dapat berfungsi sebagai intervensi terapeutik yang memperbaiki persepsi anak terhadap sekolah dan menumbuhkan motivasi internal untuk belajar.