Arif Hakim
Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Bandung, Indonesia.

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Meningkatkan Kemempuan Mengenal Huruf Hijaiyah Menggunakan Media Big Book pada Anak Usia Dini Desiana Nurul Rohmah; Arif Hakim; Dewi Mulyani
Bandung Conference Series: Early Childhood Teacher Education 41-50
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsecte.v5i2.18660

Abstract

Abstract. This study uses the method (PTK) of class action assessment of the Kemmis and Taggart Models This data collection technique uses observation, documentation, and work demonstrations for the instruments used in the observation, namely in the form of researchers, for documentation, namely in the form of photos of learning activities using Big Book media, and for work demonstrations, namely in the form of the results of training in each task. The research location is in Kindergarten Sahabat, Bandung Regency with 20 children in group B. The results obtained by the researcher in the initial ability condition were that the children had not developed (BB). Then the researcher carried out cycle I and some children began to develop (MB), then in cycles II and III there was an increase in children developing according to expectations (BSH). This learning uses Big Book media for early childhood with fairly large pictures, these fairly large letters can actually improve the ability to recognize hijaiyah letters. Abstrak. penelitain ini memakai peneliatan (PTK) penilaian tindakan kelas Model Kemmis danTaggart. Teknik pengumpulan data ini menggunkan observasi, dokumentasi, dan unjuk kerja untuk isntrumen yang diginakan dalam observasi yaitu berupa peneliti, untuk dokumentasi yaitu berupa foto kegiatan pembalajaran dengan menggunakan media Big Book, dan untuk unjuk kerja yaitu berupa hasil dari pengamatan disetiap tugasnya. Lokasi penelitian bertempat di Tk Sahabat kabupaten. Bandung dengan jumlah anak kelompok B sebanyak 20 anak. Hasil yang di peroleh oleh peneliti pada kondisi kemampuan awal yaitu anak yang belum berkambang (BB). Kemudian peneliti melaksanakan siklus I dan Sebagian anak mulai berkembang (MB), lalu pada siklus II dan III terjadi peningkatan pada anak berkembang sesuai harapan (BSH). Pembelajaran ini berupa memakai media Big Book pada anak usia dini dengan gambar yang cukup besar, huruf yang cukup besar ini ternyata dapat meningkatkan kemampuan anak dalam mengenal huruf hijaiyah.
Srategi Orang Tua dalam Penerapan Kegiatan Toilet Training dalam Pembentukan Sikap Kemandirian Anak Usia 2-3 Tahun Tati Rohaeti; H Sobar; Arif Hakim
Bandung Conference Series: Early Childhood Teacher Education 105-112
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsecte.v5i2.20943

Abstract

Abstract. Toilet training is one of the essential aspects in fostering independence among young children, particularly during the toddler stage (ages 2–3), when children begin to recognize their biological needs and express a desire for autonomy. However, many children struggle to successfully undergo this process due to several factors, such as the lack of appropriate strategies by parents, limited time availability, and the child’s physical andemotional readiness.This study aims to examine the strategies used in implementing toilet training and its influence on the development of independence in children aged 2–3 years in Kelurahan Kota Kulon, Sumedang Selatan District. The research employed a qualitative method with a case study approach. Data were collected through in-depth interviews, observation, and documentation involving six parent informants. The findings revealed that toilet training strategies were carried out gradually, adjusted to the child’s readiness, and supported by positive reinforcement such as praise and small rewards. The process requires consistency, patience, and active parental involvement. Toilet training was found to significantly contribute to the development of children’s independence, responsibility, and self-confidence. The challenges encountered include children’s fear of the toilet, initial resistance, and parents’ limited time. This study highlights the importance of employing effective strategies in guiding children through toilet training as a foundational step toward fostering independence from an early age. Abstrak. Toilet Training merupakan salah satu aspek penting dalam pembentukan sikap kemandirian anak usia dini, khususnya pada masa toddler (2–3 tahun), di mana anak mulai menunjukkan kemampuan mengenali kebutuhan biologis serta keinginan untuk mandiri. Namun, masih banyak anak yang belum berhasil menjalani proses ini karena berbagai faktor seperti kurangnya strategi yang tepat dari orang tua, keterbatasan waktu, dan kesiapan anak secara fisik maupun emosional. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi penerapan Toilet Training dan pengaruhnya terhadap pembentukan sikap kemandirian anak usia 2–3 tahun di Kelurahan Kota Kulon, Kecamatan Sumedang Selatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap enam informan orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi Toilet Training dilakukan secara bertahap, menyesuaikan dengan kesiapan anak, serta didukung penguatan positif seperti pujian dan hadiah kecil. Proses ini membutuhkan konsistensi, kesabaran, dan keterlibatan aktif orang tua. Toilet Training terbukti membantu anak menjadi lebih mandiri, bertanggung jawab, dan percaya diri. Hambatan yang dihadapi meliputi rasa takut anak terhadap toilet, penolakan awal, dan kurangnya waktu orang tua. Penelitian ini menegaskan pentingnya strategi yang tepat dalam mendampingi anak menjalani Toilet Training sebagai bagian dari pembentukan kemandirian sejak usia dini.
Implementasi Pemberian Reward dan Pujian Dalam Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak Usia 4-5 Tahun Syafira Oktaviani Dewi; Eko Surbiantoro; Arif Hakim
Bandung Conference Series: Early Childhood Teacher Education 113-120
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsecte.v5i2.20956

Abstract

Abstract. This study aims to explore the implementation of rewards and praise in developing the emotional intelligence of children aged 4–5 years at TK Bina Nusantara. A descriptive qualitative approach was used in this research. Data were collected through observation, interviews, and documentation involving classroom teachers, the school principal, and students. The findings indicate that the practice of giving rewards and praise is carried out consistently as a strategy of positive reinforcement in learning. Praise is given spontaneously using simple phrases such as “great job,” “well done,” or “good child,” while rewards take the form ofstickers, stars, high-fives, and small weekly gifts. This implementation has been shown to help children recognize and manage their emotions, increase self-confidence, foster learning motivation, and strengthen empathy and social skills. Supporting factors include the positive responses from children, teacher collaboration, and school support. Inhibiting factors include time constraints, teacher consistency, and the potential for jealousy among children. Therefore, this study concludes that a well-planned and appropriate strategy of giving rewards and praise can be an effective method for developing emotional intelligence in early childhood. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pemberian reward dan pujian dalam mengembangkan kecerdasan emosional anak usia 4–5 tahun di TK Bina Nusantara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang melibatkan guru kelas, kepala sekolah, serta anak didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pemberian reward dan pujian dilakukan secara konsisten sebagai strategi pembelajaran berbasis penguatan positif. Pujian diberikan secara spontan melalui kata-kata sederhana, seperti “hebat”, “bagus sekali”, atau “anak sholeh”, sedangkan reward diberikan dalam bentuk stiker, bintang, high five, maupun hadiah kecil mingguan. Implementasi ini terbukti membantu anak mengenali dan mengelola emosi, meningkatkan rasa percaya diri, menumbuhkan motivasi belajar, serta memperkuat empati dan keterampilan sosial. Faktor pendukung meliputi respon positif anak, kerjasama guru, serta dukungan sekolah. Adapun faktor penghambat antara lain keterbatasan waktu, konsistensi guru, dan potensi munculnya rasa iri antar anak. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi pemberian reward dan pujian secara terencana dan tepat dapat menjadi metode efektif dalam mengembangkan kecerdasan emosional anak usia dini.
Dampak Pola Asuh Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja terhadap Perkembangan Kesadaran Kintan Annisa Anindita; Arif Hakim; Nurul Afrianti
Bandung Conference Series: Early Childhood Teacher Education 121-126
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsecte.v5i2.21071

Abstract

Abstract. This thesis, entitled “The Impact of Parenting Styles of Working and Non-Working Mothers on the Self-Awareness Development of 5–6 Year Old Children at Mutya Agni Kindergarten, Bandung Regency”, aims to describe children’s self-awareness development, analyze the role of parenting styles of working and non-working mothers, and compare the differences that arise. The study used a descriptive qualitative method with observations and interviews involving teachers and mothers of 5–6 year old children. The findings revealed that children showed good self-awareness development, including the ability to recognize emotions, demonstrate self-confidence, and follow social rules. Working mothers tended to foster independence, while non-working mothers provided greater emotional closeness. The study concludes that the quality of parenting plays a more significant role in children’s self-awareness development than mothers’ employment status. Abstrak. Skripsi ini berjudul “Dampak Pola Asuh Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja terhadap Perkembangan Kesadaran Diri Anak Usia 5–6 Tahun di TK Mutya Agni Kabupaten Bandung”. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perkembangan kesadaran diri anak, menganalisis peran pola asuh ibu bekerja dan tidak bekerja, serta membandingkan perbedaan yang muncul. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi dan wawancara terhadap guru dan ibu anak usia 5–6 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak memiliki perkembangan kesadaran diri yang baik, meliputi kemampuan mengenali emosi, percaya diri, dan memahami aturan sosial. Ibu bekerja cenderung menumbuhkan kemandirian, sedangkan ibu tidak bekerja memberikan kedekatan emosional yang lebih intens. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kualitas pola asuh lebih berpengaruh terhadap kesadaran diri anak dibandingkan status pekerjaan ibu.
Dari Adaptasi ke Internalisasi: Implementasi MPLS di Pendidikan Anak Usia Dini Rinka Alifa; Ayi Sobarna; Arif Hakim
Bandung Conference Series: Early Childhood Teacher Education 145-152
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsecte.v5i2.21238

Abstract

Abstract. The transition period from home to school is a critical phase that significantly influences a child's educational journey. The School Environment Introduction Program (MPLS) is designed as an intervention to facilitate this process, yet in-depth and holistic research examining its implementation remains limited. This study aims to comprehensively analyze the planning, implementation, and outcomes of the MPLS program in developing the adaptation skills of new students at a Raudhatul Athfal (RA). Using a qualitative approach with a case study method, data were collected through non-participant observation, semi-structured interviews with the principal and teachers, and document analysis at RA Al-Khoer, Bandung. Data validity was tested using source and technique triangulation. The findings identify three typologies of student adaptation: (1) fast and smooth adaptation, (2) gradual adaptation with intensive support, and (3) adaptation as a corrective emotional experience for students with negative school histories. The program's success is rooted in planning that builds an "ecological bridge" (mesosystem) between home and school, and a flexible, responsive implementation that effectively serves as pedagogical scaffolding and fulfills children's basic psychological needs for relatedness, competence, and autonomy. An effective MPLS program not only facilitates adaptation but can also function as a therapeutic intervention that repairs a child's perception of school and fosters internal motivation to learn. Abstrak. Masa transisi dari rumah ke sekolah merupakan periode kritis yang sangat memengaruhi perjalanan pendidikan anak. Program Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dirancang sebagai intervensi untuk memfasilitasi proses ini, namun penelitian yang mengkaji proses implementasinya secara mendalam dan holistik masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif proses perencanaan, pelaksanaan, dan hasil dari program MPLS dalam membangun kemampuan adaptasi peserta didik baru di sebuah Raudhatul Athfal (RA). Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi non-partisipan, wawancara semi-terstruktur dengan kepala sekolah dan guru, serta analisis dokumen di RA Al-Khoer, Bandung. Keabsahan data diuji menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tipologi adaptasi siswa: (1) adaptasi cepat dan mulus, (2) adaptasi bertahap dengan dukungan intensif, dan (3) adaptasi sebagai pengalaman emosional korektif bagi siswa dengan riwayat sekolah negatif. Keberhasilan program ini berakar pada perencanaan yang membangun "jembatan ekologis" (mesosistem) antara rumah dan sekolah, serta pelaksanaan yang fleksibel dan responsif, yang secara efektif berfungsi sebagai perancah (scaffolding) pedagogis dan memenuhi kebutuhan psikologis dasar anak akan keterhubungan, kompetensi, dan otonomi. Program MPLS yang efektif tidak hanya memfasilitasi adaptasi, tetapi juga dapat berfungsi sebagai intervensi terapeutik yang memperbaiki persepsi anak terhadap sekolah dan menumbuhkan motivasi internal untuk belajar.
Implementasi Program Pembiasaan Ibadah dan Akhlak di Kelompok B TK Sekolah Alam Daniella Rizkiyah; Masnipal; Arif Hakim
Bandung Conference Series: Early Childhood Teacher Education 167-172
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsecte.v5i2.21448

Abstract

Abstract. Habituation is one effective approach in shaping positive behavior in early childhood. However, in practice, many children have not yet demonstrated the desired attitudes and habits because habituation has not been consistently applied, both in school and at home. In addition, limited facilities and infrastructure, as well as a lack of parental involvement, also pose obstacles to its implementation. This study aims to examine how the implementation of the habit formation program for worship and moral values is applied at TK School Alam Bandung in Group B. This study uses a qualitative approach with a case study method. Data collection techniques were conducted through observation, interviews, and documentation. The informants in this study were the school principal and classroom teachers. The results of the study indicate that the program implementation is carried out through four stages: (1) planning, which includes the development of annual, semester, and weekly programs; (2) the implementation of habit-forming activities such as Murajaah and Dhuha prayer on a regular basis; (3) evaluation conducted every three months and per semester in narrative form; and (4) supporting factors in the form of parental involvement, while the obstacles stem from the emotional condition of the children. Overall, the program runs smoothly and has a positive impact on the children's daily behavior. Abstrak. Pembiasaan merupakan pendekatan yang efektif dalam membentuk perilaku positif pada anak usia dini. Namun demikian, dalam implementasinya, masih banyak anak yang belum menunjukkan sikap dan kebiasaan sesuai harapan. Hal ini disebabkan oleh penerapan pembiasaan yang belum dilakukan secara konsisten, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Selain itu, keterbatasan sarana dan prasarana serta minimnya keterlibatan orang tua juga menjadi faktor penghambat dalam pelaksanaannya.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi program pembiasaan ibadah dan akhlak di kelompok B TK Sekolah Alam Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan informan utama terdiri atas kepala sekolah dan guru kelas.Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program pembiasaan dilakukan melalui empat tahapan utama: (1) perencanaan, yang mencakup penyusunan program tahunan, semesteran, dan mingguan; (2) pelaksanaan kegiatan pembiasaan, seperti murajaah dan salat Dhuha secara rutin; (3) evaluasi program yang dilaksanakan setiap tiga bulan dan per semester dalam bentuk laporan naratif; serta (4) identifikasi faktor pendukung, yakni keterlibatan orang tua, dan faktor penghambat berupa kondisi emosional individu anak.Secara keseluruhan, program pembiasaan ini berjalan dengan cukup baik dan memberikan pengaruh positif terhadap perilaku keseharian anak.
Penerapan Kurikulum Merdeka dalam Mengembangkan Literasi pada Anak Usia Dini Nabila Zahra Ramadhani; Arif Hakim; Asep Dudi Suhardini
Bandung Conference Series: Early Childhood Teacher Education 187-194
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsecte.v5i2.21534

Abstract

Abstract. This study aims to examine in depth how the implementation of the Independent Curriculum can develop literacy in early childhood at KOBER Essenville. Literacy is a fundamental aspect of early childhood education because it is directly related to language skills, critical thinking, and children's readiness to enter the next level of education. The Independent Curriculum presents a breakthrough in the Indonesian education system by providing freedom and flexibility to educational units and educators in designing learning that is tailored to the needs and characteristics of students. This study used a qualitative approach with descriptive methods. Data collection techniques included observations of teaching and learning activities, interviews with teachers, and documentation of children's work and lesson plans. The results showed that teachers at KOBER Essenville were able to integrate literacy activities into thematic learning based on children's interests and experiences. Strategies used included shared reading, storytelling, role-playing, and the use of visual and interactive media. Children demonstrated improvements in letter recognition, story comprehension, and verbal communication skills. Despite several obstacles, such as limited literacy resources and the need for further teacher training, the teachers' enthusiasm for continuous innovation and building a supportive learning environment remained a key strength. The findings of this study are expected to contribute to early childhood education practitioners and policymakers in developing literacy learning models based on the Independent Curriculum. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam bagaimana penerapan Kurikulum Merdeka dapat mengembangkan literasi pada anak usia dini di KOBER Essenville. Literasi merupakan salah satu aspek fundamental dalam pendidikan anak usia dini karena berkaitan langsung dengan kemampuan berbahasa, berpikir kritis, serta kesiapan anak untuk memasuki jenjang pendidikan berikutnya. Kurikulum Merdeka hadir sebagai terobosan dalam sistem pendidikan Indonesia dengan memberikan kebebasan dan fleksibilitas kepada satuan pendidikan serta pendidik dalam menyusun pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi terhadap kegiatan belajar mengajar, wawancara dengan guru, serta dokumentasi terhadap hasil karya anak dan rencana pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru di KOBER Essenville mampu mengintegrasikan kegiatan literasi dalam pembelajaran tematik berbasis minat dan pengalaman anak. Strategi yang digunakan meliputi kegiatan membaca bersama, mendongeng, bermain peran, serta penggunaan media visual dan interaktif. Anak-anak menunjukkan peningkatan dalam aspek pengenalan huruf, kemampuan memahami isi cerita, serta keterampilan berkomunikasi secara verbal. Meskipun terdapat beberapa hambatan seperti keterbatasan sumber daya literasi dan perlunya pelatihan lanjutan bagi guru, semangat guru untuk terus berinovasi dan membangun lingkungan belajar yang mendukung tetap menjadi kekuatan utama. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi praktisi PAUD dan pembuat kebijakan dalam mengembangkan model pembelajaran literasi berbasis Kurikulum Merdeka.
Konten Kekerasan Fisik dalam Film Kartun SpongeBob SquarePants serta Peran Preventif dan Kuratif Orang Tua terhadap Perilaku Moral Anak Usia Dini Sani Nur Najmi; Erhamwilda; Arif Hakim
Bandung Conference Series: Early Childhood Teacher Education 195-202
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsecte.v5i2.21554

Abstract

Abstract. This study aims to identify the forms of physical violence present in SpongeBob SquarePants cartoons and analyze the role of parents in managing the effects of such content on the moral behavior of early childhood children. Using a qualitative approach with content analysis and interviews, the study involved ten parents of children aged 4–6 years with varying viewing frequencies. The results show that physical violence such as hitting, kicking, and slamming often appears in several watched episodes. Children who watched without supervision tended to imitate those scenes and displayed more aggressive behavior. On the other hand, children who were accompanied and guided by their parents were better at self- regulation and distinguishing right from wrong. Parents play a vital role both in preventive efforts (such as setting limits and offering understanding) and curative actions (such as advising or correcting when children imitate negative behaviors). Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk kekerasan fisik yang muncul dalam kartun SpongeBob SquarePants dan menganalisis bagaimana peran orang tua dalam menghadapi dampak tayangan tersebut terhadap perilaku moral anak usia dini. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi dan wawancara, penelitian ini melibatkan sepuluh orang tua anak usia 4–6 tahun dengan frekuensi menonton yang bervariasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan fisik seperti memukul, menendang, dan membanting sering muncul dalam beberapa episode kartun yang ditonton. Anak-anak yang menonton tanpa pendampingan cenderung meniru adegan tersebut dan menunjukkan perilaku agresif dalam interaksi sosialnya. Sebaliknya, anak-anak yang didampingi secara aktif oleh orang tua cenderung memiliki kontrol diri yang lebih baik dan mampu membedakan perilaku baik dan buruk. Peran orang tua sangat penting baik dalam aspek preventif (membatasi durasi dan memberi pemahaman) maupun kuratif (memberi nasihat atau koreksi saat anak mulai meniru perilaku negatif).