Pendidikan di Sekolah Dasar merupakan fondasi utama pembentukan karakter, pola pikir, dan identitas diri anak. Pada tahap ini, anak mulai menyerap nilai-nilai sosial, termasuk pemahaman mengenai peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam penyelenggaraanaraan pendidikan di Sekolah Dasar ditinjau dari perspektif gender, meliputi analisis kebijakan sekolah, proses pembelajaran, interaksi pendidik, materi ajar, pembagian tugas, serta budaya sekolah yang terbentuk. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif analitis. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi kelas, wawancara mendalam dengan kepala sekolah dan guru, serta analisis dokumen kurikulum dan perangkat pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara formal kesetaraan akses pendidikan sudah terpenuhi, namun dalam praktik pelaksanaan masih ditemukan bias gender yang bersifat tidak sadar, rutin, dan melekat pada kebiasaan budaya. Bias tersebut teridentifikasi dalam bentuk stereotip peran, pembagian tugas berdasarkan jenis kelamin, bahasa komunikasi guru, hingga penggambaran peran dalam materi ajar. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penyelenggaraan pendidikan di Sekolah Dasar belum sepenuhnya peka gender dan masih berpotensi membatasi pengembangan potensi peserta didik. Artikel ini menawarkan rekomendasi strategis bagi pengintegrasian perspektif gender yang praktis dan aplikatif agar pendidikan dasar menjadi ruang yang adil, setara, dan memberdayakan semua siswa tanpa diskriminasi.