Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analysis of Drug Receiving Procedures in Hospital Pharmacy Services to Ensure Optimal Service Quality Rully Fidayatul Akhmad Syah Putri; M. Ibnu Fateh; Aulia Fauziah Bening Hanani; Nurika Sofiani; Adinugraha Amarullah; Puspita Raras Anindita; Gladis Jingga Agnesia
Jurnal Farmasi Ma Chung: Sains, Teknologi, dan Klinis Komunitas Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Farmasi Ma Chung: Sains, Teknologi, dan Klinis Komunitas [ARTICLE IN PRE
Publisher : Program Studi Farmasi, Universitas Ma Chung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33479/jfmc.v4i2.151

Abstract

Drug receiving in hospital pharmacy installations is an initial stage of quality control that plays an important role in ensuring the availability, efficiency, and quality of pharmaceutical services, as it involves administrative and physical verification before medicines are stored and distributed. This study aims to analyze the pattern of drug receiving and identify common challenges in hospital pharmacy practice. The method used was a literature review of studies published between 2020 and 2026, predominantly employing descriptive qualitative designs, with data collected through observation, in-depth interviews, checklists, and questionnaires, and compared with hospital pharmaceutical service standards. The results indicate that the drug receiving process generally complies with standard operating procedures, including verification of drug type and quantity, batch number, expiration date, packaging condition, distributor validation, as well as proper documentation for traceability. Some healthcare facilities achieved compliance levels of up to 100%. However, several challenges remain, such as discrepancies in delivered medicines, damaged packaging, short expiration dates, limited human resources, delays from suppliers, and suboptimal information systems. Therefore, improvements in quality control, accuracy, and information system integration are necessary to support optimal and sustainable pharmaceutical services.
EDUKASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SECARA RASIONAL DALAM UPAYA MENINGKATKAN KETEPATAN PERSEPSI MASYARAKAT DI DESA KRIKILAN, KECAMATAN DRIYOREJO, KABUPATEN GRESIK Adinugraha Amarullah; Herni Setyawati; Rully Fidayatul Akhmad Syah Putri; Amanda Amellia Putri; Karina Dwi Maghfiroh; Nurika Sofiani; Ferlya Salsadira; Thesa Jeane Gabriela Wuda Raga
ABDI WINA JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol. 6 No. 1 (2026): Abdi Wina Edisi Juni 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Kristen Wira Wacana Sumba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58300/e2jjfy67

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memperbaiki pemahaman warga Desa Krikilan, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, mengenai penggunaan antibiotik yang tepat serta konsep Beyond Use Date (BUD), mengingat banyak masyarakat yang masih percaya bahwa antibiotik efektif untuk mengatasi flu, batuk, pilek, dan demam yang biasanya disebabkan oleh virus. Materi yang disampaikan meliputi pembeda antara infeksi bakteri dan virus, petunjuk serta pedoman penggunaan antibiotik, bahaya resistensi antibiotik, serta penjelasan BUD pada bentuk sediaan seperti tablet, kapsul, sirup, dan sirup kering. Pelaksanaannya dilakukan melalui penyuluhan, diskusi interaktif, serta distribusi leaflet, dengan penilaian melalui pengukuran tingkat pengetahuan sebelum dan setelah edukasi menggunakan kuesioner. Hasilnya menunjukkan peningkatan yang bermakna dalam pemahaman warga tentang peran antibiotik, pentingnya mengikuti aturan penggunaan, serta kesadaran terhadap batas waktu pemakaian obat setelah kemasan dibuka atau dicampur, yang dalam analisisnya menunjukkan bahwa edukasi berhasil mengoreksi kesalahpahaman dan mendorong penggunaan antibiotik yang lebih bijak. Kesimpulannya, program edukasi penggunaan antibiotik yang berfokus pada pemahaman BUD dapat meningkatkan kesadaran dan akurasi persepsi masyarakat, sehingga berpotensi mengurangi risiko penyalahgunaan antibiotik dan resistensi di tingkat masyarakat.