Abstract. Textile industry plays a strategic role in Indonesia's economy, yet PT XYZ, an integrated textile company producing yarn, faces a gap between order volume and fulfillment realization, indicating potential supply chain inefficiency. This research aims to analyze the supply chain management performance of PT XYZ's yarn products and identify the weakest process using the Supply Chain Operation Reference (SCOR) Level 1 model. A descriptive quantitative approach with a case study method was employed, using PT XYZ as the research object. Data were collected through interviews, observation, and documentation of the company's operational reports from January to December 2024, then verified through triangulation. Data processing involved calculating four Level-1 metrics: Perfect Order Fulfillment (POF), Order Fulfillment Cycle Time (OFCT), Cost of Goods Sold (COGS), and Cash to Cash Cycle Time (CTCCT), compared against industry benchmark. Results show POF at 97.23%, OFCT at 30 days, COGS at 83.26%, and CTCCT at 30 days, positioning the company between superior and advantage categories. The gap analysis reveals that cost and responsiveness attributes are the weakest, mainly due to dependency on imported raw materials. This study concludes that PT XYZ needs to strengthen procurement strategy and cost control to improve overall supply chain performance sustainably. Abstrak. Industri tekstil memiliki peran strategis bagi perekonomian Indonesia, namun PT XYZ, sebagai perusahaan tekstil terintegrasi produsen benang, masih menghadapi kesenjangan antara jumlah pesanan dan realisasi pemenuhannya, yang mengindikasikan potensi inefisiensi rantai pasok. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja manajemen rantai pasokproduk benang PT XYZ serta mengidentifikasi proses dengan kinerja paling lemah menggunakan model Supply Chain Operation Reference (SCOR) Level 1. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan metode studi kasus, dengan PT XYZ sebagai objek penelitian. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap laporan operasional perusahaan periode Januari–Desember 2024, kemudian diverifikasi melalui teknik triangulasi. Pengolahan data dilakukan dengan menghitung empat metrik Level 1, yaitu Perfect Order Fulfillment (POF), Order Fulfillment Cycle Time(OFCT), Cost of Goods Sold (COGS), dan Cash to Cash Cycle Time (CTCCT), yang kemudian dibandingkan dengan benchmark industri. Hasil penelitian menunjukkan nilai POF sebesar 97,23%, OFCT selama 30 hari, COGS sebesar 83,26%, dan CTCCT selama 30 hari, yang menempatkan perusahaan di antara kategori superior dan advantage. Analisis kesenjangan menunjukkan bahwa atribut cost dan responsiveness merupakan proses dengan kinerja paling lemah, terutama akibat ketergantungan pada bahan baku impor. Penelitian menyimpulkan PT XYZ perlu memperkuat strategi pengadaan pengendalian biaya guna meningkatkan kinerja rantai pasok secara berkelanjutan.