Indra Utama
Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan, Universitas Sari Mutiara Indonesia, Medan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

DETERMINAN STUNTING PADA BADUTA DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS LAHEWA KABUPATEN NIAS UTARA TAHUN 2026 Witha Krisna Natalis Zebua; Donal Nababan; Taruli Rohana Sinaga; Indra Utama; Adiansyah Adiansyah
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.62777

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia, terutama pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan kejadian stunting pada baduta di wilayah kerja UPTD Puskesmas Lahewa Kabupaten Nias Utara tahun 2026. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain cross-sectional. Populasi adalah seluruh ibu yang memiliki baduta sebanyak 443 orang, dengan sampel 191 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan pengukuran antropometri, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher Exact Test dengan tingkat kepercayaan 95% (α=0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik (84,8%), pola asuh baik (80,1%), akses sanitasi baik (88,0%), sosial ekonomi tinggi (82,7%), dan memberikan ASI eksklusif (89,0%). Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan, pola asuh, sosial ekonomi, akses sanitasi, dan pemberian ASI eksklusif dengan kejadian stunting pada baduta (p<0,05). Kejadian stunting pada baduta dipengaruhi oleh faktor pengetahuan ibu, pola asuh, kondisi sosial ekonomi, akses sanitasi, dan pemberian ASI eksklusif. Oleh karena itu, diperlukan intervensi terpadu melalui peningkatan edukasi gizi, perbaikan sanitasi lingkungan, serta penguatan program ASI eksklusif untuk menurunkan prevalensi stunting.