Muhammad Yuda Ramadhan
Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Bridging Conducting Pedagogy and Digital Technology: Teachers’ Perceptions and Adoption Intentions toward a Webcam-Based Hand-Tracking Trainer Agus Firmansyah; Enry Johan Jaohari; Muhammad Yuda Ramadhan; Widya Febiyanti
Jurnal Kependidikan : Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan, Pengajaran, dan Pembelajaran Vol. 12 No. 3 (2026): September
Publisher : LPPM Universitas Pendidikan Mandalika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33394/jk.v12i3.22368

Abstract

This study aims to analyze teachers’ perceptions of the usefulness, ease of use, perceived learning, and adoption potential of the CONDUCT HandTrack Conducting Trainer a web application combining webcam hand-tracking, two-dimensional visualization, and real-time gesture scoring (perfect/good/miss) using the Technology Acceptance Model as an analytic lens. A descriptive quantitative approach complemented by qualitative data (embedded mixed-methods design) was applied to 21 teachers from teacher working groups (MGMP) in Subang Regency via a 56-item questionnaire (Likert 1–5). Descriptive analysis, Cronbach’s alpha reliability testing, Pearson correlation analysis, and thematic analysis showed perceived learning highest (mean 4.35; 96.2% agreement), followed by adoption potential (4.34) and training quality (4.22), while usability (ease of use) was lowest yet positive (3.83; α=0.83). Pearson correlations among constructs were strong (r=0.71–0.84; p<0.01), supporting the ease → usefulness → intention path indicatively at pilot scale. Application and training ratings were 4.76 and 4.48; all participants intended to pursue further training. The dominant barrier hand-detection accuracy explains the lower ease-of-use score, yet high perceived usefulness sustains adoption intention, a pattern consistent with utility-driven adoption. Theoretically, the study extends TAM and real-time-feedback evidence to in-service teachers on an embodied skill; practically, it guides the development of music-pedagogy technology toward tracking reliability, staged practice modes, and stakeholder-specific support.
Digital Citizenship dan Partisipasi Politik Generasi Z di Kota Bandung Muhammad Yuda Ramadhan
Journal of Citizenship Volume 5, Issue 3, 2026
Publisher : HK Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/joc.v5i3.859

Abstract

Media digital telah mengubah partisipasi politik dengan memperluas cara warga muda memperoleh informasi, mengekspresikan preferensi, membangun jaringan, dan menghubungkan keterlibatan daring dengan tindakan luring. Penelitian ini mengembangkan kerangka integratif Modified UTAUT, kewarganegaraan digital, dan Connective Action Theory untuk menjelaskan partisipasi politik Generasi Z di Kota Bandung. Analisis menggunakan reconstructed/simulated pilot dataset (N = 512) untuk mendemonstrasikan pengujian model struktural dan bukan merupakan data responden nyata. Performance expectancy, effort expectancy, social influence, facilitating conditions, kewarganegaraan digital, behavioral intention, dan partisipasi politik dimodelkan sebagai konstruk laten. Kewarganegaraan digital dioperasionalisasikan secara multidimensional melalui akses dan kompetensi digital, literasi politik digital kritis, etika dan tanggung jawab digital, kesadaran politik, serta keterlibatan kewargaan digital. Evaluasi model pengukuran dilakukan melalui diagnosis konstruk konfirmatori, reliabilitas, composite reliability, average variance extracted, validitas diskriminan, regresi struktural, mediasi bootstrap, serta moderasi berbasis interaksi. Model rekonstruksi menunjukkan kelayakan akhir yang baik (RMSEA = 0,046; CFI = 0,978; TLI = 0,972). Performance expectancy, effort expectancy, social influence, facilitating conditions, dan kewarganegaraan digital berpengaruh positif terhadap behavioral intention; behavioral intention dan kewarganegaraan digital selanjutnya berpengaruh positif terhadap partisipasi politik. Behavioral intention memediasi pengaruh empat determinan UTAUT, sedangkan kewarganegaraan digital memperlemah ketergantungan niat pada kemudahan teknologi, dukungan eksternal, dan tekanan sosial. Pola tersebut mengindikasikan pergeseran dari partisipasi yang terutama didorong oleh teknologi menuju partisipasi yang lebih mandiri, berbasis isu, dan bersifat hibrida. Kontribusi penelitian terletak pada penempatan kewarganegaraan digital sebagai kapasitas politik substantif, bukan sekadar akses atau kompetensi teknis, serta penghubungan mekanisme penggunaan teknologi pada tingkat individu dengan mobilisasi politik berbasis jaringan.