Vanesa Martida
Program Studi Animasi, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Bali

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

A Documentary Film Sahasra Warsa: Reviving A Thousand Years of Painting in Batuan Village, Gianyar : Martida, Vanesa; Setem, I Wayan; Wirakesuma, I Nengah
Journal of Art, Film, Television, Animation, Games and Technology Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Perkumpulan Program Studi Film dan Televisi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This documentary film defines 'sahasra warsa' (a thousand years) of painting in Batuan Village, Sukawati Sub-District, Gianyar, Bali Province, Indonesia. The existence of painting in Batuan Village is proven to have a long history, referring to the Baturan inscription 944 caka (1022 AD) of the reign of King Marakata. The king created the term 'citrakara' as recognition of community with the painting profession. In the 1930s, the presence of Pita Maha and the visit of anthropologists Margaret Mead and Gregory Bateson also contributed to the development of painting in Batuan Village. Batuan style paintings have been collected by various museums in Indonesia and abroad, including a collection of President Soekarno. The number of Batuan style painters is decreasing year by year. This observational-poetic documentary style includes historical information, the characteristics of Batuan painting, as well as efforts to preserve it. This documentary aims at serving as an audio-visual archive as well as a learning medium for future generations.
Komodifikasi dan Transformasi Representasi Visual Rangda dalam Budaya Bali Kontemporer Gede Lingga Ananta Kusuma Putra; Vanesa Martida; Arya Pageh Wibawa
Jurnal Bahasa Rupa Vol. 9 No. 2 (2026): Jurnal Bahasa Rupa April 2026
Publisher : Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31598/bahasarupa.v9i2.2174

Abstract

Rangda beredar dalam kebudayaan Bali kontemporer melalui ruang ritual, pertunjukan wisata, pakaian, stiker, sepatu, dan kemasan produk. Penelitian ini menganalisis perubahan representasi visual yang menyertai peredaran tersebut serta cara pelaku budaya Bali mempertahankan batas antara penggunaan sakral dan komersial. Studi kasus kualitatif-interpretatif ini menganalisis satu catatan wawancara informan budaya yang dapat ditelusuri pada Januari 2025, empat artefak visual komersial yang didokumentasikan atau diakses pada Desember 2024–Januari 2025, serta dokumen ilmiah dan ritual. Analisis visual kontekstual membandingkan ikonografi, bentuk, warna, penempatan, audiens, fungsi komunikasi, nilai simbolik, dan kontrol budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komodifikasi tidak memindahkan Rangda secara linear dari sakral menuju profan. Rekontekstualisasi visual justru melipatgandakan maknanya. Dalam ritual, Rangda tetap menjadi kehadiran spiritual yang memperoleh otorisasi; dalam komoditas, atribut terpilih berfungsi sebagai penanda identitas Bali, daya tarik estetis, pembeda merek, dan nilai tukar. Komunitas menjaga otoritas sakral dengan memisahkan benda yang disucikan dari desain nonsakral dan mengatur penggunaannya. Penelitian ini menawarkan kerangka reartikulasi visual kontekstual untuk menjelaskan keberlanjutan otoritas simbol sakral di ruang desain dan konsumsi.