Rangda beredar dalam kebudayaan Bali kontemporer melalui ruang ritual, pertunjukan wisata, pakaian, stiker, sepatu, dan kemasan produk. Penelitian ini menganalisis perubahan representasi visual yang menyertai peredaran tersebut serta cara pelaku budaya Bali mempertahankan batas antara penggunaan sakral dan komersial. Studi kasus kualitatif-interpretatif ini menganalisis satu catatan wawancara informan budaya yang dapat ditelusuri pada Januari 2025, empat artefak visual komersial yang didokumentasikan atau diakses pada Desember 2024–Januari 2025, serta dokumen ilmiah dan ritual. Analisis visual kontekstual membandingkan ikonografi, bentuk, warna, penempatan, audiens, fungsi komunikasi, nilai simbolik, dan kontrol budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komodifikasi tidak memindahkan Rangda secara linear dari sakral menuju profan. Rekontekstualisasi visual justru melipatgandakan maknanya. Dalam ritual, Rangda tetap menjadi kehadiran spiritual yang memperoleh otorisasi; dalam komoditas, atribut terpilih berfungsi sebagai penanda identitas Bali, daya tarik estetis, pembeda merek, dan nilai tukar. Komunitas menjaga otoritas sakral dengan memisahkan benda yang disucikan dari desain nonsakral dan mengatur penggunaannya. Penelitian ini menawarkan kerangka reartikulasi visual kontekstual untuk menjelaskan keberlanjutan otoritas simbol sakral di ruang desain dan konsumsi.