Sadya Bustomi
Public Health Study Program, Universitas Faletehan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KNOWLEDGE, ATTITUDES, AND WASTE-BIN AVAILABILITY ASSOCIATED WITH WASTE SORTING AMONG VENDORS AT X Sadya Bustomi; Puji Eka Mathofani; Annissa Annissa
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.15448

Abstract

Waste sorting in temporary public spaces is an important component of environmental health management, yet waste-sorting practices among Car Free Day (CFD) vendors remain suboptimal. This study aimed to analyze the associations of knowledge, attitudes, and waste-bin availability with waste-sorting practices among vendors at X. A quantitative analytic study with a cross-sectional design was conducted from May to July 2026 at X. The accessible population consisted of 200 vendors listed in the 2026 CFD vendor roster. The minimum sample size was calculated using the Slovin formula with a 10% margin of error, resulting in 67 respondents. Sample quotas were determined through proportional allocation across vendor categories, followed by purposive selection of eligible respondents within each category. Data were collected using a structured questionnaire administered through face-to-face interviews and supported by field observations. Univariate and bivariate analyses were performed using Pearson’s chi-square test at a 5% significance level. The strength of associations was expressed as odds ratios (ORs) with 95% confidence intervals (CIs). Overall, 37 vendors (55.2%) had good waste-sorting practices. Poor knowledge was significantly associated with poor waste-sorting practices (p = 0.001; OR = 10.333; 95% CI: 3.247–32.888). Unfavorable attitudes were also significantly associated with poor waste-sorting practices (p = 0.001; OR = 8.369; 95% CI: 2.553–27.438). In addition, inadequate waste-bin availability was significantly associated with poor waste-sorting practices (p = 0.028; OR = 3.086; 95% CI: 1.112–8.559). The findings indicate that knowledge, attitudes, and waste-bin availability are associated with waste-sorting practices among CFD vendors. These findings support the implementation of practical waste-sorting education and the provision of accessible, appropriate, and clearly labeled separated waste bins in CFD areas. Because of the cross-sectional design, the observed associations should not be interpreted as causal relationships. ABSTRAK Pemilahan sampah di ruang publik sementara merupakan bagian penting dalam pengelolaan kesehatan lingkungan, tetapi praktik pemilahan sampah pada pedagang Car Free Day (CFD) masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan, sikap, dan ketersediaan tempat sampah dengan praktik pemilahan sampah pada pedagang di X. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional dan dilaksanakan pada Mei–Juli 2026 di X. Populasi terjangkau terdiri atas 200 pedagang yang tercatat dalam daftar pedagang CFD tahun 2026. Besar sampel minimum dihitung menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10% dan diperoleh 67 responden. Kuota sampel ditentukan melalui proportional allocation berdasarkan kategori pedagang, kemudian responden dalam setiap kategori dipilih menggunakan purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur melalui wawancara tatap muka dan didukung observasi lapangan. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Pearson chi-square dengan tingkat signifikansi 5%. Kekuatan hubungan disajikan dalam bentuk odds ratio (OR) dengan interval kepercayaan (IK) 95%. Sebanyak 37 pedagang (55,2%) memiliki praktik pemilahan sampah yang baik. Pengetahuan yang kurang berhubungan signifikan dengan praktik pemilahan sampah yang kurang baik (p = 0,001; OR = 10,333; IK 95%: 3,247–32,888). Sikap yang tidak mendukung juga berhubungan signifikan dengan praktik pemilahan yang kurang baik (p = 0,001; OR = 8,369; IK 95%: 2,553–27,438). Selain itu, ketersediaan tempat sampah yang tidak memadai berhubungan signifikan dengan praktik pemilahan yang kurang baik (p = 0,028; OR = 3,086; IK 95%: 1,112–8,559). Penelitian ini menunjukkan bahwa pengetahuan, sikap, dan ketersediaan tempat sampah berhubungan dengan praktik pemilahan sampah pada pedagang CFD. Temuan ini mendukung perlunya edukasi praktis mengenai pemilahan sampah serta penyediaan tempat sampah terpilah yang mudah diakses, sesuai, dan diberi label jelas di area kegiatan CFD. Karena menggunakan desain cross-sectional, hubungan yang ditemukan tidak dapat diinterpretasikan sebagai hubungan sebab-akibat.
EFFECTIVENESS OF HEALTH PROMOTION MEDIA IN IMPROVING PULMONARY TUBERCULOSIS PATIENTS' KNOWLEDGE OF THE HOME ENVIRONMENT Sadya Bustomi; Fauziah Novriyani
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i4.15449

Abstract

Pulmonary tuberculosis (TB) remains a major public health problem in Indonesia. Preventing household transmission requires not only treatment adherence but also patients' knowledge of physical home-environment conditions, including ventilation, natural lighting, and residential density. This study aimed to analyze changes in pulmonary TB patients' knowledge of the physical home environment following health education delivered through leaflets, flipcharts, and educational videos in the service area of UPTD Puskesmas Banjar Agung. A quantitative approach with a quasi-experimental pretest-posttest design was employed involving 54 pulmonary TB patients, with 18 participants assigned to each of the leaflet, flipchart, and educational video groups. The intervention was conducted from November 2025 to January 2026 using equivalent educational content across the three groups. Knowledge was measured using a questionnaire before and after the intervention and analyzed using paired-samples t-tests at α = 0.05. The results showed an increase in knowledge in all three groups. The increase in the educational video group was statistically significant (p < 0.001), whereas the leaflet group reached the significance threshold (p = 0.050), and the flipchart group did not show a statistically significant change (p = 0.160). Based on the within-group analyses, the educational video group showed the strongest statistical evidence of improvement. However, this finding does not establish that video was statistically more effective than leaflets or flipcharts because no direct between-group comparison of changes was performed. Educational videos may therefore be considered a health promotion medium to strengthen pulmonary TB patients' knowledge of the physical home environment. ABSTRAK Tuberkulosis (TB) paru masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pencegahan penularan di lingkungan rumah tangga tidak hanya memerlukan kepatuhan pengobatan, tetapi juga pengetahuan pasien mengenai kondisi lingkungan fisik rumah, seperti ventilasi, pencahayaan alami, dan kepadatan hunian. Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan pengetahuan pasien TB paru mengenai lingkungan fisik rumah setelah diberikan edukasi menggunakan media leaflet, lembar balik, dan video edukasi di wilayah kerja UPTD Puskesmas Banjar Agung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kuasi-eksperimental pretest-posttest yang melibatkan 54 pasien TB paru, masing-masing 18 peserta pada kelompok leaflet, lembar balik, dan video edukasi. Intervensi dilaksanakan pada November 2025–Januari 2026 dengan materi edukasi yang setara pada ketiga kelompok. Pengetahuan diukur menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis menggunakan paired-samples t-test pada α = 0,05. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan pada ketiga kelompok. Peningkatan pada kelompok video edukasi signifikan secara statistik (p < 0,001), sedangkan kelompok leaflet berada tepat pada batas signifikansi (p = 0,050) dan kelompok lembar balik tidak menunjukkan perubahan yang signifikan (p = 0,160). Berdasarkan analisis dalam masing-masing kelompok, video edukasi menunjukkan bukti statistik peningkatan pengetahuan yang paling kuat. Namun, hasil tersebut belum dapat diartikan sebagai bukti bahwa video secara statistik lebih efektif dibandingkan leaflet atau lembar balik karena tidak dilakukan analisis perbandingan perubahan antarkelompok. Edukasi berbasis video berpotensi digunakan sebagai media promosi kesehatan untuk memperkuat pengetahuan pasien TB paru mengenai lingkungan fisik rumah.