Rumpon modern membutuhkan kemampuan mempertahankan fungsi dan posisi pada lingkungan laut yang berubah, sehingga penggerak korektif berdaya rendah menjadi salah satu opsi untuk mengurangi simpangan tanpa menggantikan fungsi utama sistem tambat. Penelitian ini menganalisis pengaruh duct heksagonal terhadap performa hidrodinamika propeler rumpon melalui model numerik parametrik pada tahap penyaringan desain. Empat konfigurasi dibandingkan, yaitu propeler terbuka tiga sudu (C0), propeler enam sudu dengan duct sirkular (C1), sudu heksagonal dengan duct sirkular (C2), serta sudu dan duct heksagonal (C3). Diameter propeler ditetapkan 0,32 m, putaran 600 rpm, massa jenis air laut 1.025 kg/m³, dan kecepatan arus skenario 0,40–1,20 m/s. Koefisien thrust dan torque dihitung sebagai fungsi advance coefficient dan kemudian digunakan untuk memperoleh thrust, daya poros, dan efisiensi open-water. Pada titik desain 0,85 m/s (J=0,266), C3 menghasilkan thrust 83,88 N, daya poros 145,34 W, dan efisiensi 0,491, sedangkan C0 menghasilkan 66,03 N, 125,50 W, dan 0,447. Sepanjang rentang kecepatan yang diuji, peningkatan thrust C3 terhadap C0 berada pada 23,75–31,25%, peningkatan efisiensi 8,08–11,70%, dengan penalti daya 14,50–17,50%. Hasil menunjukkan bahwa duct heksagonal paling relevan pada kondisi advance coefficient rendah sampai menengah. Model ini dimaksudkan sebagai bukti numerik pra-CFD yang transparan; validasi CFD geometri penuh dan uji open-water tetap diperlukan sebelum klaim performa aktual