Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

ANALISIS FISIKA FLUIDA PADA SISTEM PEMBUANGAN LIMBAH KAPAL UNTUK MEMINIMALKAN DAMPAK PENCEMARAN LAUT Andi Fiardi; Nur Fadhilah; Salfauqi; Sariyulis
Jurnal Maritim Malahayati Vol. 6 No. 2, Juli (2025): Jurnal Maritim Malahayati
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Pelayaran Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70799/jumma.v6i2.131

Abstract

Pembuangan limbah kapal merupakan salah satu penyebab utama pencemaran laut yang dapat berdampak negatif terhadap ekosistem perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran fisika fluida dalam sistem pembuangan limbah kapal, mengidentifikasi faktor-faktor fisika fluida yang berpengaruh terhadap efisiensi sistem pembuangan limbah kapal. Penelitian ini menggunakan metode analisis literatur (library research) untuk mengkaji teori dan hasil penelitian sebelumnya terkait fisika fluida dalam sistem pembuangan limbah kapal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimasi desain sistem pembuangan, seperti penggunaan nozzle atau diffuser, dapat meningkatkan pencampuran limbah dengan air laut sehingga mempercepat proses pengenceran dan biodegradasi. Selain itu, penerapan teknologi pemisahan limbah berbasis centrifugal separator dan membran filtrasi terbukti mampu mengurangi kandungan polutan sebelum dibuang ke laut. Pemodelan penyebaran limbah juga menunjukkan bahwa viskositas, tegangan permukaan, serta interaksi limbah dengan arus laut berperan penting dalam menentukan pola penyebaran polutan. Dengan menerapkan prinsip fisika fluida, sistem pembuangan limbah kapal dapat dioptimalkan untuk mengurangi risiko pencemaran laut, sejalan dengan regulasi internasional seperti MARPOL Annex IV dan V. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah desain sistem pembuangan yang optimal, Pola penyebaran limbah sangat dipengaruhi oleh arus, viskositas fluida, dan interaksi dengan lingkungan laut. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan lebih lanjut dalam desain sistem pembuangan dan penerapan teknologi pemisahan limbah yang lebih efisien guna meningkatkan keselamatan lingkungan maritim.
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR TERMODINAMIKA BERBASIS STCW UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI TARUNA PERMESINAN KAPAL Nur Fadhilah; Andi Fiardi; Salfauqi Nurman
Jurnal Maritim Malahayati Vol. 7 No. 1, Januari (2026): Jurnal Maritim Malahayati
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Pelayaran Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70799/jumma.v7i1.155

Abstract

Pembelajaran termodinamika pada pendidikan vokasi pelayaran menuntut bahan ajar yang selaras dengan standar kompetensi internasional dan kebutuhan operasional di atas kapal. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar termodinamika berbasis Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers (STCW) guna meningkatkan kompetensi taruna permesinan kapal. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap analisis, perancangan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Subjek penelitian terdiri atas ahli materi, ahli media, dan taruna permesinan kapal. Instrumen penelitian meliputi lembar validasi ahli, angket respons taruna, dan tes kompetensi. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar termodinamika berbasis STCW berada pada kategori sangat layak berdasarkan penilaian ahli dan memperoleh respons sangat baik dari taruna. Penerapan bahan ajar tersebut juga menunjukkan adanya peningkatan kompetensi taruna setelah proses pembelajaran. Dengan demikian, bahan ajar termodinamika berbasis STCW efektif digunakan untuk mendukung pembelajaran fisika terapan yang kontekstual dan berbasis kompetensi pada pendidikan vokasi pelayaran
KONSEPTUALISASI WING-IN-GROUND CRAFT SEBAGAI SISTEM TRANSPORTASI HIBRIDA: TINJAUAN SISTEMATIS ATAS KESELAMATAN, OPERASI, DAN KESIAPAN SERTIFIKASI Andi Fiardi; Afandi Sahputa; Hasan Sadili; Antoni Arif Priadi
Jurnal Maritim Malahayati Vol. 7 No. 2, Juli (2026): Jurnal Maritim Malahayati
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Pelayaran Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini menelaah perkembangan diskusi ilmiah tentang wing-in-ground (WIG) craft sebagai sistem moda transportasi hibrida yang menjembatani domain penerbangan dan maritim. Dengan menggunakan pendekatan systematic literature review, artikel ini mensintesis literatur mutakhir mengenai konseptualisasi WIG, karakteristik keselamatan, performa operasional, tata kelola sertifikasi, serta kesiapan kompetensi operator. Hasil kajian menunjukkan bahwa WIG memiliki potensi penting sebagai moda mobilitas pesisir dan kepulauan karena mampu memanfaatkan ground effect untuk meningkatkan efisiensi aerodinamika, mengurangi hambatan, dan memperluas akses pada wilayah yang terbatas infrastruktur. Namun, pemanfaatannya masih dibatasi oleh fragmentasi regulasi, bukti empiris operasional yang terbatas, serta belum matangnya kerangka pelatihan lintas-domain. Sintesis ini menegaskan bahwa kesiapan teknologi WIG harus dikembangkan bersamaan dengan kesiapan manusia, standar sertifikasi, sistem pelatihan berbasis kompetensi, serta harmonisasi tata kelola transportasi udara dan laut. Temuan ini memberikan dasar konseptual bagi pengembangan kebijakan, riset lanjutan, dan eksperimen operasional yang aman untuk penerapan WIG di sektor sipil maupun pertahanan
PENGARUH DUCT HEKSAGONAL TERHADAP PERFORMA HIDRODINAMIKA PROPELER RUMPON PADA VARIASI KECEPATAN ARUS Rizkiya Windy Saputra; Dedi Kurniawan; Andi Fiardi; Baihaqi; Muhammad Ikhsan; Putri Rizkiah
Jurnal Maritim Malahayati Vol. 7 No. 2, Juli (2026): Jurnal Maritim Malahayati
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Pelayaran Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70799/jumma.v7i2, Juli.194

Abstract

Rumpon modern membutuhkan kemampuan mempertahankan fungsi dan posisi pada lingkungan laut yang berubah, sehingga penggerak korektif berdaya rendah menjadi salah satu opsi untuk mengurangi simpangan tanpa menggantikan fungsi utama sistem tambat. Penelitian ini menganalisis pengaruh duct heksagonal terhadap performa hidrodinamika propeler rumpon melalui model numerik parametrik pada tahap penyaringan desain. Empat konfigurasi dibandingkan, yaitu propeler terbuka tiga sudu (C0), propeler enam sudu dengan duct sirkular (C1), sudu heksagonal dengan duct sirkular (C2), serta sudu dan duct heksagonal (C3). Diameter propeler ditetapkan 0,32 m, putaran 600 rpm, massa jenis air laut 1.025 kg/m³, dan kecepatan arus skenario 0,40–1,20 m/s. Koefisien thrust dan torque dihitung sebagai fungsi advance coefficient dan kemudian digunakan untuk memperoleh thrust, daya poros, dan efisiensi open-water. Pada titik desain 0,85 m/s (J=0,266), C3 menghasilkan thrust 83,88 N, daya poros 145,34 W, dan efisiensi 0,491, sedangkan C0 menghasilkan 66,03 N, 125,50 W, dan 0,447. Sepanjang rentang kecepatan yang diuji, peningkatan thrust C3 terhadap C0 berada pada 23,75–31,25%, peningkatan efisiensi 8,08–11,70%, dengan penalti daya 14,50–17,50%. Hasil menunjukkan bahwa duct heksagonal paling relevan pada kondisi advance coefficient rendah sampai menengah. Model ini dimaksudkan sebagai bukti numerik pra-CFD yang transparan; validasi CFD geometri penuh dan uji open-water tetap diperlukan sebelum klaim performa aktual
ANALISIS KESEIMBANGAN ENERGI DAN PENENTUAN KAPASITAS PV-BATERAI UNTUK RUMPON CERDAS BERPROPELER HEKSAGONAL Putri Rizkiah; Dedi Kurniawan; Andi Fiardi; Baihaqi; M. Ikhsan; Rizqiya Windy Saputra
Jurnal Maritim Malahayati Vol. 7 No. 2, Juli (2026): Jurnal Maritim Malahayati
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Pelayaran Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumpon cerdas memerlukan sumber energi mandiri untuk sensor, komunikasi, lampu navigasi, kontrol, dan penggerak korektif. Penambahan propeler heksagonal meningkatkan kemampuan station-keeping, tetapi juga menambah beban listrik yang harus dipenuhi sistem fotovoltaik dan baterai secara andal. Penelitian ini menyusun analisis keseimbangan energi dan menentukan kombinasi kapasitas PV-baterai untuk rumpon berpropeler heksagonal menggunakan metode perhitungan skenario. Daya poros propeler pada titik desain sebesar 145,34 W dikonversi menjadi kebutuhan listrik motor sekitar 180 W setelah memperhitungkan efisiensi motor dan pengendali. Beban non-propulsi terdiri atas sensor-kontrol, komunikasi, lampu navigasi, pelacak-keamanan, serta rugi-rugi sistem sebesar 724 Wh/hari. Tiga duty cycle motor (1, 2, dan 3 jam/hari), tiga kondisi peak-sun-hour (3,0; 4,2; dan 5,0 jam/hari), serta kapasitas PV 300, 400, dan 500 Wp dianalisis dengan performance ratio 0,75. Pada duty cycle 2 jam/hari, kebutuhan energi total adalah 1,084 kWh/hari. Pada kondisi desain konservatif 4,2 PSH, sistem 300 Wp mengalami defisit 139 Wh/hari, sedangkan 400 dan 500 Wp menghasilkan surplus masing-masing 176 dan 491 Wh/hari. Pada stress case 3,0 PSH, 500 Wp masih menghasilkan surplus 41 Wh/hari untuk duty cycle 2 jam. Baterai 2,4 kWh menyediakan otonomi sekitar 1,67 hari, sedangkan 3,6 kWh sekitar 2,50 hari. Konfigurasi 400 Wp–2,4 kWh layak untuk operasi moderat, sementara 500 Wp–3,6 kWh lebih sesuai untuk desain berketahanan tinggi
PENGEMBANGAN DAN VALIDASI INTERNAL KERANGKA PENGAWAKAN AMAN BERBASIS RISIKO UNTUK WING-IN-GROUND CRAFT Dedi Kurniawan; Andi Fiardi; Baihaqi; Muhammad David; Muhammad Yani
Jurnal Maritim Malahayati Vol. 7 No. 2, Juli (2026): Jurnal Maritim Malahayati
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Pelayaran Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70799/jumma.v7i2, Juli.197

Abstract

Wing-in-ground craft (WIG) menggabungkan manuver di permukaan air dengan penerbangan aerodinamis pada ketinggian sangat rendah, sehingga kebutuhan awaknya tidak dapat diturunkan secara langsung dari standar kapal atau pesawat udara. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan memvalidasi secara internal suatu metode berbasis fungsi, risiko, beban kerja, dan kompetensi untuk menentukan jumlah awak operasional inti WIG. Sebanyak 36 sumber regulasi dan ilmiah dipetakan menjadi enam fungsi keselamatan kritis, enam fase misi, matriks kapasitas kompetensi peran, dan beban tugas spesifik fase. Komposisi peran berbentuk bilangan bulat disaring melalui enumerasi eksak, uji alokasi max-flow/min-cut, cadangan rekayasa 20%, batas utilisasi fase, dan uji kelangsungan setelah satu orang pada setiap peran dihilangkan. Empat skenario operasi kemudian dievaluasi menggunakan 10.000 simulasi stokastik jaringan tugas serta pembanding yang dikurangi satu orang. Hasil menunjukkan komposisi robust sebanyak tiga awak untuk operasi Tipe A terbatas, empat awak untuk layanan penumpang Tipe A pesisir, lima awak untuk operasi Tipe B yang menuntut, dan enam awak untuk operasi Tipe C terpencil. Tim terpilih layak pada 100,00%, 100,00%, 100,00%, dan 99,99% percobaan, sedangkan tim yang dikurangi satu orang hanya mencapai 12,61%-70,57%. Fase transisi dan keadaan darurat menjadi sumber kegagalan dominan. Temuan menegaskan bahwa pengawakan WIG harus dibuktikan melalui cakupan fungsi simultan, kemampuan pengambilalihan yang berkualifikasi, pengelolaan gangguan teknis, dan ketahanan terhadap ketidakmampuan satu awak. Angka yang dihasilkan merupakan baseline rekayasa tervalidasi internal, bukan minimum hukum universal.