Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

UPAYA PENCEGAHAN TERJADINYA PENYUMBATAN LINE LOADING GUNA MENGOPTIMALKAN PROSES BONGKAR MUAT DI KAPAL Rizky Adrian; Akhmad Gifari; Muhammad Yani; Baihaqi; Dedi Kurniawan; Luri Krisnawati
Jurnal Maritim Malahayati Vol. 7 No. 1, Januari (2026): Jurnal Maritim Malahayati
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Pelayaran Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70799/jumma.v7i1.164

Abstract

Pada kapal semen, penyumbatan line loading adalah kondisi ketika semen curah (bulk cement) atau semen dalam karung (bagged cement) terkonsentrasi pada satu garis memanjang di pipa pemuat atau satu sisi pipa, sehingga beban tidak menyebar secara merata. Akibatnya dapat menyebabkan perbedaan tekanan pada pipa loading yang dapat mengakibatkan kerusakan atau patahnya satu titik pada pipa loading. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab terjadinya penyumbatan line loading dan pencegahannya di kapal MV. Eastern Fair. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif dan subjek penelitiannya adalah anak buah kapal serta beberapa perwira di kapal. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Temuan dari penelitian ini disimpulkan bahwa (1) Terdapat berbagai elemen yang mempengaruhi terjadinya penyumbatan line loading di kapal MV. Eastern Fair, salah satunya operasi muat yang menggunakan sistem pneumatic yang membuat muatan terisi pada satu titik yang menghasilkan penyebaran muatan pipa muat tidak merata berpusat pada satu titik saja. Hal ini disebabkan oleh kelembapan, rendahnya kecepatan udara, ketidakseimbangan tekanan, dan improper handling; dan (2) Langkah pencegahan yang dilakukan di kapal MV. Eastern Fair ketika terjadi penyumbatan line loading dengan segera menghentikan proses pemuatan untuk mencegah peningkatan tekanan di dalam pipa. Selanjutnya, operator melakukan pengecekan tekanan udara dan aliran semen guna memastikan tidak terjadi kelebihan tekanan yang dapat merusak sistem. Sistem blower dan katup udara diperiksa serta diatur ulang agar aliran udara tetap stabil dan sesuai prosedur. Awak kapal juga memastikan kondisi pipa dalam keadaan kering dan bebas dari sisa semen yang mengeras, karena kelembapan menjadi penyebab utama terjadinya penyumbatan
PENGARUH DUCT HEKSAGONAL TERHADAP PERFORMA HIDRODINAMIKA PROPELER RUMPON PADA VARIASI KECEPATAN ARUS Rizkiya Windy Saputra; Dedi Kurniawan; Andi Fiardi; Baihaqi; Muhammad Ikhsan; Putri Rizkiah
Jurnal Maritim Malahayati Vol. 7 No. 2, Juli (2026): Jurnal Maritim Malahayati
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Pelayaran Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70799/jumma.v7i2, Juli.194

Abstract

Rumpon modern membutuhkan kemampuan mempertahankan fungsi dan posisi pada lingkungan laut yang berubah, sehingga penggerak korektif berdaya rendah menjadi salah satu opsi untuk mengurangi simpangan tanpa menggantikan fungsi utama sistem tambat. Penelitian ini menganalisis pengaruh duct heksagonal terhadap performa hidrodinamika propeler rumpon melalui model numerik parametrik pada tahap penyaringan desain. Empat konfigurasi dibandingkan, yaitu propeler terbuka tiga sudu (C0), propeler enam sudu dengan duct sirkular (C1), sudu heksagonal dengan duct sirkular (C2), serta sudu dan duct heksagonal (C3). Diameter propeler ditetapkan 0,32 m, putaran 600 rpm, massa jenis air laut 1.025 kg/m³, dan kecepatan arus skenario 0,40–1,20 m/s. Koefisien thrust dan torque dihitung sebagai fungsi advance coefficient dan kemudian digunakan untuk memperoleh thrust, daya poros, dan efisiensi open-water. Pada titik desain 0,85 m/s (J=0,266), C3 menghasilkan thrust 83,88 N, daya poros 145,34 W, dan efisiensi 0,491, sedangkan C0 menghasilkan 66,03 N, 125,50 W, dan 0,447. Sepanjang rentang kecepatan yang diuji, peningkatan thrust C3 terhadap C0 berada pada 23,75–31,25%, peningkatan efisiensi 8,08–11,70%, dengan penalti daya 14,50–17,50%. Hasil menunjukkan bahwa duct heksagonal paling relevan pada kondisi advance coefficient rendah sampai menengah. Model ini dimaksudkan sebagai bukti numerik pra-CFD yang transparan; validasi CFD geometri penuh dan uji open-water tetap diperlukan sebelum klaim performa aktual
ANALISIS KESEIMBANGAN ENERGI DAN PENENTUAN KAPASITAS PV-BATERAI UNTUK RUMPON CERDAS BERPROPELER HEKSAGONAL Putri Rizkiah; Dedi Kurniawan; Andi Fiardi; Baihaqi; M. Ikhsan; Rizqiya Windy Saputra
Jurnal Maritim Malahayati Vol. 7 No. 2, Juli (2026): Jurnal Maritim Malahayati
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Pelayaran Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumpon cerdas memerlukan sumber energi mandiri untuk sensor, komunikasi, lampu navigasi, kontrol, dan penggerak korektif. Penambahan propeler heksagonal meningkatkan kemampuan station-keeping, tetapi juga menambah beban listrik yang harus dipenuhi sistem fotovoltaik dan baterai secara andal. Penelitian ini menyusun analisis keseimbangan energi dan menentukan kombinasi kapasitas PV-baterai untuk rumpon berpropeler heksagonal menggunakan metode perhitungan skenario. Daya poros propeler pada titik desain sebesar 145,34 W dikonversi menjadi kebutuhan listrik motor sekitar 180 W setelah memperhitungkan efisiensi motor dan pengendali. Beban non-propulsi terdiri atas sensor-kontrol, komunikasi, lampu navigasi, pelacak-keamanan, serta rugi-rugi sistem sebesar 724 Wh/hari. Tiga duty cycle motor (1, 2, dan 3 jam/hari), tiga kondisi peak-sun-hour (3,0; 4,2; dan 5,0 jam/hari), serta kapasitas PV 300, 400, dan 500 Wp dianalisis dengan performance ratio 0,75. Pada duty cycle 2 jam/hari, kebutuhan energi total adalah 1,084 kWh/hari. Pada kondisi desain konservatif 4,2 PSH, sistem 300 Wp mengalami defisit 139 Wh/hari, sedangkan 400 dan 500 Wp menghasilkan surplus masing-masing 176 dan 491 Wh/hari. Pada stress case 3,0 PSH, 500 Wp masih menghasilkan surplus 41 Wh/hari untuk duty cycle 2 jam. Baterai 2,4 kWh menyediakan otonomi sekitar 1,67 hari, sedangkan 3,6 kWh sekitar 2,50 hari. Konfigurasi 400 Wp–2,4 kWh layak untuk operasi moderat, sementara 500 Wp–3,6 kWh lebih sesuai untuk desain berketahanan tinggi
PENGEMBANGAN DAN VALIDASI INTERNAL KERANGKA PENGAWAKAN AMAN BERBASIS RISIKO UNTUK WING-IN-GROUND CRAFT Dedi Kurniawan; Andi Fiardi; Baihaqi; Muhammad David; Muhammad Yani
Jurnal Maritim Malahayati Vol. 7 No. 2, Juli (2026): Jurnal Maritim Malahayati
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Politeknik Pelayaran Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70799/jumma.v7i2, Juli.197

Abstract

Wing-in-ground craft (WIG) menggabungkan manuver di permukaan air dengan penerbangan aerodinamis pada ketinggian sangat rendah, sehingga kebutuhan awaknya tidak dapat diturunkan secara langsung dari standar kapal atau pesawat udara. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan memvalidasi secara internal suatu metode berbasis fungsi, risiko, beban kerja, dan kompetensi untuk menentukan jumlah awak operasional inti WIG. Sebanyak 36 sumber regulasi dan ilmiah dipetakan menjadi enam fungsi keselamatan kritis, enam fase misi, matriks kapasitas kompetensi peran, dan beban tugas spesifik fase. Komposisi peran berbentuk bilangan bulat disaring melalui enumerasi eksak, uji alokasi max-flow/min-cut, cadangan rekayasa 20%, batas utilisasi fase, dan uji kelangsungan setelah satu orang pada setiap peran dihilangkan. Empat skenario operasi kemudian dievaluasi menggunakan 10.000 simulasi stokastik jaringan tugas serta pembanding yang dikurangi satu orang. Hasil menunjukkan komposisi robust sebanyak tiga awak untuk operasi Tipe A terbatas, empat awak untuk layanan penumpang Tipe A pesisir, lima awak untuk operasi Tipe B yang menuntut, dan enam awak untuk operasi Tipe C terpencil. Tim terpilih layak pada 100,00%, 100,00%, 100,00%, dan 99,99% percobaan, sedangkan tim yang dikurangi satu orang hanya mencapai 12,61%-70,57%. Fase transisi dan keadaan darurat menjadi sumber kegagalan dominan. Temuan menegaskan bahwa pengawakan WIG harus dibuktikan melalui cakupan fungsi simultan, kemampuan pengambilalihan yang berkualifikasi, pengelolaan gangguan teknis, dan ketahanan terhadap ketidakmampuan satu awak. Angka yang dihasilkan merupakan baseline rekayasa tervalidasi internal, bukan minimum hukum universal.